AIRSPACE REVIEW – Pemerintah Inggris melalui lembaga UK Export Finance (UKEF) secara resmi mengumumkan dua kesepakatan ekspor besar senilai total £128 juta (sekitar Rp2,57 triliun) untuk memasok sistem kendaraan penyelamat kapal selam (SRVS) mutakhir kepada TNI Angkatan Laut.
Pengumuman yang dirilis pada 19 April 2026 di laman Pemerintah Inggris ini menandai langkah strategis dalam memperkuat prosedur keselamatan maritim Indonesia pascatragedi KRI Nanggala tahun 2021.
Melalui kerja sama ini, Indonesia akan memiliki kemampuan penyelamatan bawah laut yang canggih untuk melindungi personel kapal selamnya di seluruh wilayah kepulauan Nusantara.
Proyek ini melibatkan dua perusahaan besar asal Inggris, yakni Submarine Manufacturing and Products Limited (SMP Ltd) dan Forum Energy Technologies Ltd (FET), yang bekerja sama dengan mitra lokal Indonesia.
SMP Ltd akan memberikan kontribusi lebih dari £39 juta (sekitar Rp784 miliar) bagi rantai pasokan Inggris untuk memasok kendaraan penyelamat SRV-F Mk3 yang mampu menampung hingga 50 orang.
Sementara itu, FET secara terpisah akan menyediakan sistem penyelamat dengan nilai kontrak sekitar £30 juta (sekitar Rp603 miliar) yang memiliki kemampuan operasi hingga kedalaman 610 m.
Kedua sistem ini nantinya akan didukung oleh kapal induk (mothership) baru guna memastikan respons cepat di berbagai medan perairan Indonesia.
Dari sisi ekonomi, kesepakatan ini memberikan dampak positif bagi industri manufaktur Inggris dengan mengamankan total lebih dari £67 juta (sekitar Rp1,34 triliun) kontrak bagi rantai pasokan dari Bristol hingga York.
Dukungan finansial untuk proyek ini dijamin oleh UKEF melalui dua skema penjaminan pinjaman.
Skema pertama senilai £76 juta (sekitar Rp1,52 triliun) mendukung ekspor oleh SMP Ltd bersama mitra Indonesianya, PT BTI Indo Tekno, dengan pendanaan dari JP Morgan Chase.
Skema kedua senilai £52 juta (sekitar Rp1,04 triliun) mendukung ekspor FET melalui kerja sama dengan PT Agrapana Nugraha Katara yang dibiayai oleh Banco Santander.
Direktur PT BTI Indo Tekno, Peter Tjahjono, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan bentuk komitmen nyata dalam memodernisasi armada TNI AL serta menetapkan standar keselamatan tertinggi bagi para awak kapal selam.
Senada dengan hal tersebut, CEO UKEF Tim Reid menyatakan bahwa kesepakatan ini merupakan tonggak sejarah karena merupakan pertama kalinya UKEF terlibat dalam kontrak penyelamatan kapal selam.
Selain memperkuat pertahanan Indonesia melalui teknologi subsea terbaik Inggris, kerja sama ini juga sejalan dengan strategi industri modern Inggris yang telah mendukung investasi manufaktur maju senilai lebih dari £6,6 miliar (sekitar Rp132,7 triliun) dalam dua tahun terakhir. (RW)

