AIRSPACE REVIEW – Angkatan Darat AS (US Army) secara resmi mengumumkan nama Cheyenne II untuk pesawat tiltrotor terbarunya, Bell MV-75.
Pengumuman disampaikan dalam acara Army Aviation Warfighting Summit di Nashville, Tennessee, pada 15 April 2026.
Nama “Cheyenne II” dipilih untuk menghormati tradisi US Army yang menamai helikopter mereka dengan nama suku asli Amerika.
Selain itu, nama ini merupakan penghormatan bagi Lockheed AH-56 Cheyenne, helikopter serang canggih era Perang Dinign yang meskipun gagal diproduksi massal karena masalah teknis, dikenal memiliki teknologi yang melampaui zamannya.
MV-75 Cheyenne II dikembangkan oleh perusahaan Bell Textron berdasarkan desain V-280 Valor.
Pesawat ini merupakan bagian dari program Future Long-Range Assault Aircraft (FLRAA) guna menggantikan peran helikopter angkut ikonik UH-60 Black Hawk.
Pesawat ini mampu terbang dua kali lebih cepat dan dua kali lebih jauh dibandingkan armada helikopter saat ini, serta dilengkapi sistem digital modular yang memudahkan pembaruan teknologi di masa depan.
Kehadiran Cheyenne II diprediksi akan mengubah doktrin pertempuran darat secara fundamental, terutama dalam hal kecepatan manuver di medan perang.
Dengan kemampuan terbang layaknya pesawat jet namun tetap bisa mendarat vertikal seperti helikopter, komandan lapangan kini dapat mengirimkan pasukan satu skuad penuh ke wilayah konflik yang jauh dengan risiko deteksi yang lebih minim.
Kemampuan medevac (evakuasi medis) juga akan meningkat drastis, memungkinkan prajurit yang terluka mendapatkan penanganan medis jauh lebih cepat melampaui standar “Golden Hour” saat ini.
Dari sisi strategis, proyek Cheyenne II disebut sebagai kisah sukses dalam birokrasi pengadaan militer Amerika Serikat karena jadwalnya yang berhasil dipercepat beberapa tahun.
Melalui kemitraan yang kuat antara industri pertahanan dan unit operasional seperti Divisi Lintas Udara ke-101 Angkatan Darat AS menargetkan unit pertama sudah akan siap tempur pada tahun fiskal 2030.
Langkah ini diambil untuk memastikan supremasi udara AS tetap terjaga, khususnya dalam menghadapi tantangan geopolitik di wilayah Indo-Pasifik yang luas. (RNS)


Lha osprey?