AIRSPACE REVIEW – Dalam acara “Catatan Demokrasi” di tvOne pada Selasa (14/4), pakar strategi dari PPAU (Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Udara), Marsekal Pertama (Purn.) Agung “Sharky” Sasongkojati, menerangkan mengenai jenis-jenis ranjau laut (sea mines) yang ditanam Iran di Selat Hormuz.
Dijelaskan bahwa Iran memiliki berbagai tipe ranjau laut yang berbahaya dan dengan kecanggihannya dapat mengenali jenis-jenis kapal laut yang melintas di Selat Hormuz yang akan menjadi sasarannya.
Penjelasan “Sharky” tersebut menambah pengetahuan, khusunya bagi publik, mengenai ranjau laut dan cara kerjanya.
Iran disebut-sebut saat ini memiliki stok ranjau laut sekitar 5.000-6.000 unit dengan teknologi yang bervariasi, dari model tradisional hingga ranjau yang “pintar”.
Perlu ditambahkan di sini bahwa ranjau-ranjau laut yang dimiliki Iran tersebut sebagiannya adalah buatan China, selain ranjau yang dibuat oleh Iran sendiri.
Iran dengan perkembangan teknologinya yang pesat, dan ketekunan para insinyurnya untuk menciptakan beragam persenjataan, termasuk rudal balistik hipersonik jarak jauh, membuktikan tekad kuat Negeri Persia ini untuk tidak kalah begitu saja dalam melawan Amerika Serikat yang telah mengembargonya selama 47 tahun sejak tahun 1979,
Nah, uraian berikut adalah untuk melengkapi apa yang dipaparkan oleh “Sharky” terkait tipe-tipe ranjau laut yang dimiliki militer Iran.
Pertama adalah “Ranjau Kontak” (Contact Mines). Ini adalah jenis ranjau yang paling sederhana dan ekonomis, namun tetap mematikan karena sering dipasang dalam jumlah besar.
Iran memiliki model utama seri Maham-1 dan Maham-2 di kelompok ini. Ranjau ini bekerja dengan cara ditambatkan ke dasar laut dengan kabel/rantai sehingga melayang di kedalaman tertentu, umumnya tepat di bawah permukaan air.
Ranjau ini akan meledak bila tanduk klakson (hertz horns) di permukaan badannya tersentuh oleh lambung kapal sehingga membengkokkan tanduk tersebut, yang kemudian secara otomatis akan memicu detonator.
Ranjau ini murah dan tahan lama. Namun kadang ranjau ini tidak meledak karena tidak tersentuh kapal dengan draft dangkal akibat penempatan ketinggian kedalamannya yang tidak pas. Maka, pengaturan kedalaman tambatan ranjau harus disesuaikan secara presisi.
Kedua adalah “Ranjau Pengaruh” (Influence Mines). Ranjau ini jauh lebih berbahaya karena tidak memerlukan kontak fisik untuk meledak dengan lambung kapal dan sangat sulit dideteksi karena menetap di dasar laut.
Model utama dari ranjau ini adalah seri Maham-3 dan Maham-7. Ranjau tipe ini menggunakan sensor sensitif untuk mendeteksi tanda-tanda kehadiran kapal melalui akustik, magnetik, maupun tekanan.
Melalui akustik, artinya ranjau mendengar kebisingan yang ditimbulkan oleh mesin atau baling-baling kapal yang melintas.
Secara magnetik, ranjau ini mendeteksi gangguan pada medan magnet bumi yang disebabkan oleh massa logam kapal.
Sementara melalui tekanan, ranjau ini akan merasakan perubahan tekanan air saat volume besar kapal melintas di atasnya.
Seri Maham-3 bahkan dilengkapi algoritma untuk mengabaikan kapal kecil dan hanya meledak jika mendeteksi target besar, seperti kapal tanker atau kapal induk. Ranjau ini masuk dalam kelompok ranjau “pintar”.
Yang ketiga adalah tipe “Ranjau Roket” (Rocket Mines) yang juga termasuk ranjau pintar. Tipe ini adalah ranjau yang paling pintar dan canggih dalam inventaris militer Iran. Disebut bahwa Iran mendapatkan ranjau ini dari China dan kemudian melakukan reverse engineering di dalam negeri.
Model utama dari ranjau tipe ini adalah EM-52 buatan China. Mekanisme kerjanya, ranjau ditempatkan di dasar laut hingga kedalaman 200 meter.
Saat sensor mendeteksi kapal yang melintas tepat di atasnya, ranjau tidak meledak di dasar, melainkan meluncurkan roket ke arah lambung kapal.
Roket yang diluncurkan mampu menjangkau kapal di permukaan dari perairan yang lebih dalam, sehingga memperluas area bahaya di Selat Hormuz yang memiliki kedalaman bervariasi.
Di luar ranjau-ranjau yang telah disebutkan, Iran juga memiliki ranjau laut tipe tempel atau “Ranjau Tempel” (Limpet Mines).
Ranjau ini temasuk ranjau konvensional, yang memiliki magnet sangat kuat ini biasanya ditempelkan secara manual ke lambung kapal oleh tim penyelam khusus. Untuk detonasinya bisa menggunakan timer atau kendali jarak jauh.
Bahan Plastik atau Komposit
Agar ranjau-ranjau memiliki karakteristik low observability di bawah air dan menyulitkan deteksi dari tim penyapu ranjau musuh, badan ranjau pun dibuat dengan menggunakan bahan non-logam seperti plastik, komposit, atau fiberglass).
Untuk diketahui, kapal penyapu ranjau biasanya menggunakan dua metode deteksi utama, yaitu deteksi magnetik dan deteksi sonar.
Pada deteksi magnetik, sensor mendeteksi massa logam besar. Sementara ranjau plastik atau bahan non-logam hampir tidak memiliki jejak magnetik, sehingga sensor dari kapal musuh menjadi tidak berguna.
Pada deteksi sonar, gelombang suara akan memantul bila mengenai objek keras berupa logam. Sedangkan bahan plastik atau komposit memiliki densitas yang lebih mendekati air laut.
Ranjau-ranjau ini juga sering kali dibentuk dengan sudut-sudut tertentu untuk menyerap atau membiaskan gelombang sonar, sehingga sulit dibedakan dari batu atau sampah di dasar laut.
Ranjau seri Maham-7 adalah salah satu ranjau yang paling sulit dideteksi karena bentuknya yang low-profile dan cangkangnya yang terbuat dari material komposit/plastik.
Penggunaan bahan plastik ini dikombinasikan dengan kondisi geografis Selat Hormuz yang unik, di mana selat sempit ini memiliki arus yang kuat.
Air yang sangat asin dan lapisan termal di teluk dapat membiaskan sinyal sonar, membuat ranjau dasar laut seperti “tersembunyi” di balik gangguan akustik.
Beberapa ranjau Iran diprogram untuk membiarkan dua atau tiga kapal lewat terlebih dahulu sebelum meledak pada kapal keempat, untuk menjebak konvoi atau kapal penyapu ranjau itu sendiri.
Sebagai catatan, ranjau plastik yang ringan terkadang bisa hanyut atau malah sengaja dihanyutkan (drifting mines), sehingga menjadikannya ancaman yang tidak terprediksi karena posisinya terus berubah.
Iran adalah negara yang paling paham mengenai Selat Hormuz dan paling tahu di mana saja yang paling tepat untuk menempatkan ranjau-ranjaunya.
Iran terpaksa menanam ranjau-ranjau laut di Selat Hormuz demi melawan Amerika Serikat yang telah melakukan serangan besar-besaran selama lebih dari satu bulan sejak 28 Februari lalu.
Selat Hormuz pun kini bisa berubah menjadi “Selat Neraka” bagi musuh-musuh Iran, khususnya Amerika Serikat. (RNS)

