AIRSPACE REVIEW – Peluang India untuk mengakuisisi jet tempur siluman Su-57 (NATO:Felon) Rusia semakin besar setelah Rusia menyodorkan tawaran strategis berupa transfer teknologi penuh dan penggunaan mesin generasi terbaru.
Langkah Moskow ini dianggap sebagai upaya serius untuk memenangkan hati New Delhi, yang sedang mencari platform tempur canggih guna memodernisasi kekuatan udaranya secara mandiri.
Tawaran ini melampaui sekadar pembelian unit pesawat karena mencakup akses ke kode sumber, radar AESA (Active Electronically Scanned Array), hingga sistem elektronik yang memungkinkan India mengintegrasikan senjata domestik seperti rudal Astra dan BrahMos.
Dengan kemampuan integrasi mandiri, India dapat menduplikasi kesuksesan operasional armada Su-30MKI mereka yang telah menjadi tulang punggung kekuatan udara selama dua dekade terakhir.
Ketertarikan India kembali memuncak setelah penampilan perdana Su-57 di Aero India 2025, di mana jet tersebut beroperasi berdampingan dengan F-35 Lightning II Amerika Serikat.
Presiden Hindustan Aeronautics Limited (HAL), DK Sunil, mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah menantikan proposal resmi dari Rusia terkait rincian biaya, volume pengadaan, serta jadwal produksi lokal.
Kehadiran mesin baru berkode “Izdeliye 177” menjadi magnet utama karena mampu menghasilkan kekuatan dorong hingga 16.000 kgf dengan efisiensi bahan bakar yang jauh lebih tinggi.
Mesin ini menjadi kunci bagi Su-57 untuk mencapai performa penuh sebagai pesawat generasi kelima, terutama dalam hal kecepatan supercruise dan kemampuan manuver ekstrem di medan tempur.
Kebutuhan India akan jet generasi kelima bersifat mendesak mengingat saat ini Angkatan Udara India (IAF) hanya mengoperasikan sekitar 30 skadron tempur dari target ideal sebanyak 42 skadron.
Selain faktor performa, harga Su-57 yang dinilai lebih kompetitif dibandingkan jet tempur Barat menjadi poin krusial dalam pertimbangan anggaran pertahanan India yang ketat.
Pengalaman tempur Su-57 dalam misi penetrasi jarak jauh di Ukraina baru-baru ini juga menjadi bahan evaluasi penting bagi para petinggi militer di New Delhi.
Kemampuan pesawat ini untuk beroperasi di lingkungan yang sangat diperebutkan memberikan bukti nyata akan efektivitas teknologi siluman dan sistem avionik yang diusungnya.
Meskipun masih menghadapi tantangan logistik dan kapasitas produksi, paket kerja sama yang ditawarkan Rusia ini memberikan posisi tawar yang sulit diabaikan oleh industri pertahanan India.
Jika kesepakatan ini terwujud, Su-57 bukan hanya akan menjadi alat tempur baru, melainkan juga pendorong kemandirian teknologi dirgantara India di masa depan.
Performa Manuverabilitas Ekstrem dan Kinematik
Sebagai jet tempur generasi kelima pertama Rusia, Su-57 dirancang untuk menantang dominasi jet tempur Barat seperti F-22 Raptor dan F-35 Lightning II.
Tidak mengherankan bila Rusia terus meningkatkan pembaruan pada jet tempur yang penjualan ekspornya dihambat oleh Amerika Serikat melalui sanksi CAATSA (Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act) bagi negara-negara yang akan membelinya.
Berbeda dengan filosofi Barat yang sangat mengutamakan keunggulan siluman (stealth), Rusia tetap mempertahankan tradisi supermaneuverability.
Su-57 menggunakan mesin dengan nozzle berfitur Thrust Vectoring yang bisa bergerak secara independen, sehingga memungkinkan pesawat melakukan manuver sulit pada kecepatan rendah.
Fitur lainnya yang unik adalah LEVCON (Leading-Edge Vortex Controllers), yaitu berupa panel di depan sayap yang membantu kontrol pesawat pada sudut serang (angle of attack) tinggi. Komponen ini memberikan stabilitas luar biasa saat bermanuver tajam.
Su-57 mampu terbang pada kecepatan supersonik dalam waktu lama tanpa perlu menyalakan afterburner, yang menghemat bahan bakar dan mengurangi jejak panas, atau yang dalam istilah penerbangan militer disebut kemampuan supercruise.
Hingga tahun 2025-2026, kemajuan paling signifikan dari Su-57 adalah integrasi mesin baru yang sering disebut sebagai Izdeliye 30 (varian terbaru Izdeliye 177).
Mesin ini menghasilkan gaya dorong sekitar 16.000 kgf hingga 17.500 kgf, jauh melampaui mesin AL-41F1 (Izdeliye 117) yang digunakan pada prototipe awal.
Mesin ini dirancang dengan material komposit baru dan sistem kontrol digital modern (FADEC), serta desain saluran pembuangan mesin yang lebih optimal untuk mengurangi jejak inframerah (IR).
Yang tak kalah menarik juga, Su-57 mengusung konsep “enam mata” melalui sistem radar N036 Belka AESA.
Selain radar utama di hidung, terdapat radar tambahan di pipi pesawat dan di tepi depan sayap (L-band). Ini memungkinkan pilot memantau area yang jauh lebih luas tanpa harus membelokkan pesawat.
Selain itu, sensor pencari dan pelacak inframerah, 101KS Atoll (IRST), memungkinkan Su-57 mendeteksi dan mengunci target siluman lawan secara pasif tanpa menyalakan radar, sehingga posisi Su-57 tetap tersembunyi.
Fitur lainnya adalah DIRCM (Directional Infrared Countermeasures). Su-57 adalah satu-satunya jet tempur generasi kelima yang dilengkapi kubah laser untuk membutakan rudal pencari panas yang mengarah ke pesawat.
Sebagai jet tempur siluman, Su-57 memiliki ruang persenjataan internal dengan dua kompartemen utama yang sangat besar dan dalam.
Ruang tersembunyi ini mampu membawa rudal jarak jauh seperti R-37M yang memiliki jangkauan hingga 400 km, serta rudal jelajah supersonik.
Selain persenjataan yang dibawa sendiri, Su-57 juga dirancang untuk bekerja sama dengan drone kelas berat S-70 Okhotnik, atau yang sekarang populer dengan istileh pesawat tempur kolaboratif (CCA) alias Loyal Wingman.
Pilot Su-57 dapat mengendalikan drone ini untuk melakukan serangan atau menjadi umpan di area yang sangat berbahaya.
Di luar itu semua, Su-57 telah memiliki reputasi sebagai jet tempur yang telah dikerahkan Moskow dalam konflik di Suriah dan Ukraina, menjadikannya memperoleh predikat battle proven. (RNS)

