Dum! Pesawat F-35 AS terkena rudal saat melaksanakan misi tempur di atas Iran dan mendarat darurat
Via X, USAF AIRSPACE REVIEW – Sebuah pesawat siluman F-35 Lightning II Angkatan Udara AS terkena tembakan saat menjalankan misi tempur di atas Iran.
Menurut pihak berwenang dan informasi yang dirilis oleh pers internasional, ada indikasi pesawat tersebut terkena tembakan sistem pertahanan udara Iran, meskipun penyebab pastinya masih dalam penyelidikan.
Akibat tembakan tersebut, pesawat terpaksa melakukan pendaratan darurat di sebuah pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Captain Tim Hawkins (Captain adalah pangkat Kolonel di US Navy), Juru bicara Komando Pusat AS, membenarkan jet tempur generasi kelima tersebut sedang dalam misi operasional ketika harus menghentikan penerbangannya dan melakukan pendaratan yang tidak direncanakan.
Pesawat mendarat dengan selamat dan pilot dalam kondisi stabil. Investigasi telah digelar untuk menentukan penyebab kerusakan dan sistem mana yang mungkin bertanggung jawab atas benturan tersebut.
Insiden ini terjadi di tengah fase intensif operasi militer Amerika terhadap Iran, yang dimulai pada 28 Februari 2026.
Operasi serangan AS terhadap Iran bersandi Operation Epic Fury tersebut melibatkan kampanye udara skala besar yang menggunakan pesawat tempur siluman, pesawat pembom strategis, rudal jelajah, dan kemampuan peperangan elektronik canggih.
Otoritas Amerika mengklaim bahwa serangan yang dilancarkan secara signifikan mengurangi kemampuan ofensif Iran, termasuk serangan rudal balistik dan pesawat tak berawak.
Dari pihak Iran, Korps Garda Revolusi Islam mengklaim pertahanan udara mereka berhasil mengenai dan merusak pesawat tersebut secara serius selama operasi.
Beberapa laporan bahkan menyebutkan jet tempur itu mungkin telah ditembak jatuh, tapi belum dikonfirmasi oleh Washington.
Jika terkonfirmasi bahwa jet tersebut terkena tembakan musuh secara langsung, ini akan menjadi kejadian pertama bagi F-35.
Hingga saat ini, narasi resmi AS menunjukkan bahwa pertahanan udara Iran sebagian besar telah dinetralisir setelah gelombang serangan terkoordinasi yang berturut-turut.
Konteks operasional memperkuat tingkat risiko yang terlibat dalam misi tersebut. Sejak awal konflik, telah tercatat insiden yang melibatkan pesawat terbang, termasuk hilangnya drone, kecelakaan dalam penerbangan, dan bahkan kasus tembakan salah sasaran, yang menyoroti kompleksitas operasi udara di lingkungan yang sangat diperebutkan.
Dengan nilai lebih dari 100 juta USD per unit, F-35 merupakan komponen kunci dalam operasi Amerika Serikat dan sekutunya seperti Israel, yang banyak digunakan dalam misi serangan presisi dan penindasan pertahanan musuh.
Insiden ini terjadi ketika para pejabat tinggi di Washington mempertahankan wacana publik yang penuh percaya diri.
Menteri Perang AS Pete Hegseth baru-baru ini menyatakan bahwa Amerika Serikat menang secara telak, dan menandaskan bahwa bahwa sebagian besar pertahanan udara Iran telah dinetralisir.
Meskipun demikian, insiden F-35 menunjukkan bahwa, terlepas dari kerugian yang dialami, Iran tetap mampu memberikan perlawanan dan menimbulkan risiko nyata terhadap operasi udara yang dilakukan di wilayahnya.
Iran bahkan hampir tidak mungkin untuk disetop dalam melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah dan juga serangan balasan yang gencar terhadap Israel. (RNS)

