AIRSPACE REVIEW – Pemerintah Amerika Serikat sedang mempertimbangkan untuk menjatuhkan sanksi kepada Aljazair setelah negara itu diketahui telah melakukan pembelian jet tempur generasi kelima Su-57E (NATO: Felon) dari Rusia.
Hal ini diungkapkan secara terbuka oleh Robert Palladino, Kepala Biro Urusan Timur Dekat di Departemen Luar Negeri AS, dalam sidang di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS pada awal Februari ini.
Menjawab pertanyaan dari para senator, Palladino menyatakan bahwa pemerintahan AS memantau dengan cermat laporan mengenai akuisisi jet tempur Su-57 oleh Aljazair.
Ia menegaskan bahwa keputusan Aljazair membeli sistem persenjataan canggih buatan Rusia sebagai tindakan yang mengkhawatirkan.
Menurutnya, pemerintah AS telah secara rutin berdialog dengan Aljazair di bidang-bidang yang menjadi kepentingan bersama kedua negara, tetapi membeli peralatan militer dari Rusia adalah hal yang sensitif yang dapat merusak hubungan bilateral.
Diplomat tersebut juga menekankan bahwa Washington telah menggunakan jalur diplomatik, seringkali secara diam-diam, untuk mencoba membujuk Aljazair agar tidak melanjutkan kesepakatan yang dianggap bermasalah dari sudut pandang strategis.
Kontroversi tersebut semakin memanas setelah dikonfirmasi bahwa negara Afrika Utara itu telah mengakuisisi Su-57E, versi ekspor dari pesawat tempur siluman yang dikembangkan oleh Rusia.
Sebelumnya, Moskow menyebut Su-57 telah mendapatkan pelanggan asing pertamanya, tanpa merinci negara dimaksud.
Angkatan Udara Aljazair sudah mengoperasikan armada besar jet tempur dan sistem pertahanan udara buatan Rusia, yang memperkuat hubungan historis ketergantungan teknologi dan logistik dengan Moskow sejak lama.
Di balik layar di Washington, para analis dan anggota parlemen sedang menilai apakah pembelian tersebut termasuk dalam kriteria undang-undang AS yang dikenal sebagai CAATSA (Countering Americas’s Adversaries Through Sacntions Act).
Undang-undang tersebut mengatur sanksi terhadap negara-negara yang melakukan akuisisi signifikan peralatan militer Rusia.
Rencana pembelakukan CAATSA oleh AS terhadap Aljazair, terjadi di tengah upaya Rusia menawarkan secara gencar jet Su-57 kepada negara-negara peminat, termasuk di berbagai pameran kedirgantaraan internasional melalui pertunjukan udara spektakuler pesawat buatan United Aircraft Corporation (UAC) ini.
India disebut-sebut sebagai negara yang “maju-mundur” untuk mengakuisisi Su-57 dari Rusia karena berbagai hal.
India sejatinya membutuhkan teknologi canggih jet tempur generasi kelima untuk diterapkan dalam rancangan jet tempur siluman AMCA buatan dalam negeri yang sedang dikembangkan.
Moskow telah menyatakan kesiapannya untuk berbagai teknologi Su-57 yang dibutuhkan New Delhi, dan memungkinkan pesawat ini untuk dibuat di India.
Namun, bayang-bayang ancaman AS yang lebih luas, menjadi salah satu pertimbangan ketidakpastian niat India untuk mengakuisisi Su-57. (RNS)


India gimana, kan mitra strategis Rusia juga? AS sebagai “polisi dunia” jangan tebang pilih dong 😅
Asu adalah negara yg selalu mendikte negara lain.maunya selalu tunduk dgn kepentingan negaranya.
Ini istilahnya iri dengki versi suat negara.
Sebenarnya negara kita punya nilai tawar.
Kalau kita di sangsi casta.tutup saja Freeport yg di papua.ganti kasih ke perusahaan negara Rusia .
AS pengecut, ga berani bersaing secara fair, sll pakai ancaman2 kpd sekutunya sendiri.
Heran kl msh ada yg mau berdagang atau berurusan dengan AS.
Katanya AS itu dewanya liberalisme dan perdagangan bebas? Orang beli ke tetangga kok dihukum? 😀
🤣 g pp kan as selalu seenaknya sendiri tp nanti bgt as turun tahta dan cina naik ke posisi 1 dunia jelas no 2 pasti rusia nah as jg akan alami yg namanya aturan dibuat seenaknya ama.rusia dan dunia sedang mengarah kesana
Ngapain takut,semua negara harus berani kucilkan Amerika.. kalau tidak, selamanya Amerika akan Arogan mengatur dunia seenak perutnya
Negara ala preman