Malaysia kurangi pesanan Kapal Tempur Littoral kelas Maharaja Lela menjadi lima saja
Istimewa AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Angkatan Laut Kerajaan Malaysia (RMN) telah mengonfirmasi bahwa mereka hanya akan menerima lima unit Littoral Combat Ships (LCS), bukan enam kapal seperti yang dipesan semula.
Kepala RMN yang baru, Wakil Laksamana Abdul Rahman Ayob, telah mengonfirmasi kepada pers Malaysia bahwa pengurangan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk melanjutkan proyek yang terhenti.
Wakil Laksamana Ayob mengatakan bahwa keputusan untuk mengurangi jumlah kapal dibuat oleh pemerintah Malaysia pada tahun 2022 lalu, dikutip dari APDJ (31/1).
Pengurangan jumlah ini akibat bermasalah dengan korupsi proyek, hingga terjadi pembengkakan biaya dan penundaan konstruksi.
Dipercayai bahwa pengurangan tersebut akan memungkinkan penyelesaian proyek tepat waktu, sekaligus memenuhi anggaran yang telah direvisi.
Semula enam kapal kelas Maharaja Lela dipesan dari galangan kapal Prancis Naval Group (sebelumnya dikenal sebagai DCNS) pada 2011.
Pembangunannya akan dikerjakan di Malaysia oleh pembuat kapal Malaysia Boustead Heavy Industries Corp. (BHIC) sebagai bagian dari perjanjian transfer teknologi antara Malaysia dan Perancis.
Keenam kapal tersebut akan dibangun di Lumut, Malaysia dan komponen elektronik akan dirakit di Cyberjaya, sebuah kota mandiri di Malaysia tepat di sebelah selatan Kuala Lumpur.
Rancang bangun kapal didasarkan pada desain korvet kelas Gowind yang diperbesar menjadi jenis fregat dengan kemampuan siluman (stealth).
Sebenarnya kapal pertama Maharaja Lela (2501) telah diluncurkan pada 2017. Bersama kapal kedua yang dijadwalkan selesai pada 2020. Namun faktanya belum satupun dikirimkan oleh BHIC.
Bahkan berdasarkan jadwal dari program semula, RMN seharusnya sudah menerima keenam kapal tersebut pada Agustus 2022.
Untuk spesifikasinya, LCS Maharaja Lela memiliki pemindahan 3.100 ton, panjang 111 m, lebar 16 m. Kapal digerakkan mesin CODAD 4 x MTU 20V 1163 M94, masing-masing berdaya 9.925 shp.
Kecepatan maksimumnya mencapai 28 knot (52 km/jam). Jangkauan operasionalnya sejauh 5.000 mil laut atau 9.300 km, melaju dengan kecepatan jelajah normal 15 knot (28 km/jam).
Persenjataannya yakni sebuah Bofors 57 mm naval gun, lalu dua kanon MSI DS30M 30 mm, rudal anti pesawat 16 × VL MICA, lalu rudal antikapal permukaan sebanyak 8 x Naval Strike Missile, dan dua peluncur torpedo J+S. -RBS-

