Indonesia cari sumber pendanaan untuk beli 36 Rafale

RafaleJohanes Kraak

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Kontrak besar akan didapatkan oleh Dassault Aviation dari Perancis seandainya Indonesia segera mengaktifkan kontrak pembelian 36 jet tempur Rafale.

Diberitakan, saat ini Jakarta sedang mencari sumber pendanaan dari luar negeri untuk mengaktifkan kontrak pembelian 36 Rafale yang telah ditandatangani pada 7 Juni 2021 lalu itu.

Portal Janes menulis, semua skenario pembelian Rafale oleh Indonesia tergantung pada bantuan keuangan tersebut.

Sebelumnya pada 20 Januari 2022, Menteri Pertahanan Republik Indonesia Prabowo Subianto menyatakan, program akuisisi jet tempur Rafale sudah ada kemajuan dan tinggal mengaktifkan kontraknya saja.

Janes mengutip sumber yang dekat dengan Kemhan RI melaporkan, kontrak pembelian 36 Rafale oleh Jakarta senilai 5,8 miliar euro (6,56 miliar dolar AS).

Kontrak tersebut ditandatangani oleh Kementerian Pertahanan RI dengan pihak dari Dassault Aviation.

Jika kesepakatan tercapai, Indonesia akan menjadi negara Asia Tenggara pertama yang menggunakan Rafale.

Pesawat bermesin ganda dan bersayap delta ini menjadi incaran banyak negara dalam beberapa tahun terakhir ini.

Terbang Perdana pada 2004

Rafale pertama kali diakuisisi oleh Angkatan Laut Perancis pada 2004 dan kemudian oleh Angkatan Udara Perancis pada tahun 2006.

Tahun 2015 Rafale mulai diekspor ke beberapa negara. Mesir mengakuisisi 24 jet tempur Rafale pertamanya pada 2015 seharga 5,9 miliar dolar AS.

Pada Mei 2021, Kairo memesan tambahan 30 Rafale lagi, sehingga jumlah total Rafale Angkatan Udara Mesir menjadi 54 unit.

Qatar pada 2015 juga mengumumkan pembelian 24 jet multiperan Rafale senilai 6 miliar dolar AS. Kemudian Doha membeli tambahan 12 Rafale lainnya pada 2018, sehingga jumlah total menjadi 36 unit.

India di tahun 2016 menjadi negara pembeli Rafale berikutnya. New Delhi membeli 36 Rafale setelah jet tempur Perancis ini memenangkan program MMRCA (medium multi-role combat aircraft) di tahun 2012 untuk Angkatan Udara India.

Kontraknya sendiri baru ditandatangani di tahun 2016 dengan jadwal pengiriman seluruh pesawat akan diterima India di tahun 2022.

Dari 36 pesawat yang dibeli, sebanyak 33 unit telah diterima oleh Angkatan Udara India. India tinggal menunggu tiga unit jet terakhir yang akan segera dikirim oleh Dassault.

UEA borong 80 unit Rafale F4

Selanjutnya pada Januari 2021, Yunani menjadi pembeli Eropa pertama jet tempur Rafale Perancis. Athena membeli 18 jet Rafale senilai 2,8 miliar dolar AS.

Dari 18 unit yang dibeli, 12 di antaranya merupakan pesawat bekas pakai Angkatan Udara Perancis dan sisanya akan dibuat baru oleh pabrik Dassault.

Setelah Yunani, Kroasia juga memutuskan untuk membeli 12 jet tempur Rafale pada November 2021 dengan harga sekitar satu miliar euro.

Kroasia membeli pesawat, persenjataan, suku cadang, logistik, dan pelatihan untuk para pilot dan teknisi angkatan udara mereka.

Dan, pada Desember 2021, giliran Uni Emirat Arab yang menandatangani kontrak besar dengan membeli 80 jet tempru Rafale F4.

Ini adalah varian terbaru dari Rafale yang akan dikembangkan sebagai pesawat tempur generasi 4,5.

Rafale F4 awalnya dibuat untuk Angkatan Udara dan Antariksa Perancis.

Namun dalam perkembangan kemudian, varian ini juga akan diekspor karena tingginya minat terhadap pesawat ini.

-Poetra-

One Reply to “Indonesia cari sumber pendanaan untuk beli 36 Rafale”

  1. Klo cekak dananya ngga usah maksain 36.. beli aja dulu satu skadron..untuk menutupi gap pengganti skadron 14 yg pesawatnya di nonaktifkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.