Dibelikan 8 fregat dari Italia, Bernard Sondakh: TNI AL senang tapi mumet

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – TNI Angkatan Laut seperti mendapatkan “durian runtuh” tiba-tiba dibelikan enam kapal fregat kelas FREMM dan dua fregat kelas Maestrale buatan Fincantieri, Italia oleh Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.

Hal itu dikatakan oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) periode 2002-2005 Laksamana (Purn) Bernard Kent Sondakh dalam perbincangan langsung dengan TVOne pada Minggu (13/6/2021).

Meski demikian, ada sejumlah catatan yang disampaikan Sondakh terhadap Menteri Pertahanan Prabowo Subianto terkait perencanaan ke depan dari pembelian delapan kapal fregat ini.

Seperti diketahui, Fincantieri pada 10 Juni lalu mengumumkan bahwa pihaknya telah menandatangani kontrak dengan Kementereian Pertahanan Republik Indonesia untuk penjualan 6 fregat kelas FREMM, modernisasi dan penjualan 2 fregat kelas Maestrale serta dukungan logistik terkait lainnya.

Sondakh mengatakan, agar Kementerian Pertahanan memikirkan perencanaan dari pembelian delapan fregat ini ke depannya.

Sebab, kata dia, kapal fregat yang dibeli dari Italia ini merupakan tipe kapal baru bagi TNI AL.

Padahal, selazimnya dalam pembelian kapal tipe baru, perencanaan yang harus dilakukan oleh TNI AL adalah lima tahun atau tiga tahun sebelumnya.

“Angkatan Laut pasti senang ya mendapatkan sekaligus delapan kapal ini. Tapi saya kira Angkatan Laut juga sedang mumet ya sekarang, mikir. Bagaiaman menyiapkan personelnya, menyiapkan pendidikannya, fasilitas perbaikan kapal, dan menyiapkan anak buah untuk mengambil kapal ini. Karena ini untuk Angkatan Laut ini adalah tipe baru,” jelas Kent Sondakh.

Jadi, kalau mau beli kapal itu, tegasnya, kita perencanaan lima tahun atau tiga tahun sebelumnya.

“Anak buahnya disekolahkan. Sebelum itu tenaga pengajar dikirim dulu, pulang bawa buku-buku, mereka mengajar di sini. Nah, baru mereka (anak buah) berangkat untuk ambil kapal. Di sana pun mereka masih harus belajar tiga hingga enam bulan lagi, karena ini tipe baru,” paparnya.

Selebihnya, Sondakh juga menanyakan, kapal seberat 6.000 ton ini mau dipangkalkan di mana.

“Dermaganya sudah siap belum?” ujarnya.

Bernard Kent SondakhJPNN

Lebih lanjut dipertanyakan juga mengenai biaya operasional kapal ini. Ia menyebut masyarakat perlu tahu kalau operational cost kapal itu tinggi.

“Biaya per hari itu mungkin puluhan juta, seratus juta. Bahan bakarnya, uang operasinya, uang layarnya, dan uang Harkan (pemeliharaan dan perbaikannya). Itu sekian persen dari harkan tahunannya. Harus kita bawa, karena kapal itu pasti akan rusak di tengah laut itu. Bohong kalau kapal tidak akan rusak. Jadi ini harus dipikirkan, what after, harus punya perencanaan yang bagus. Jangan bilang, eh kamu pakai kapal ini,” jelasnya.

Sebab, kata Sondakh, Angkatan Laut itu alutsista yang diawaki, bukan awak yang dipersenjatai. Sondakh mengingatkan, agar pengalaman mengoperasikan 39 kapal eks Jerman Timur jangan terulang lagi.

Lebih lengkap mengenai perbincangan ini, dapat disaksikan di akun YouTube TVOne.

Keberhasilan Italia

FREMMFincantier

Sementara itu Fincantieri mengatakan, keberhasilan menjual delapan kapal kepada Indonesia merupakan keberhasilan perusahaan dan negara Italia yang kini telah memiliki armada 10 kapal FREMM.

Kesepakatan ini juga, lanjut Fincantieri di lamannya, sangat penting untuk memperkuat kerja sama antara dua negara di kawasan strategis Pasifik.

Ditambahkan, Fincantieri akan menjadi kontraktor utama untuk keseluruhan program ini.

Pembangunan kapal fregat, lanjutnya, akan memastikan manfaat kerja yang signifikan tidak hanya untuk beberapa galangan kapal di Italia di tahun-tahun mendatang, tetapi juga untuk perusahaan lain serta membangun kerja sama dengan PT PAL di Indonesia.

Untuk dua kapal kelas Maestrale bekas pakai Angkatan Laut Italia akan dilakukan di Italia setelah kapal itu dinonaktifkan terlebih dahulu.

RNS

15 Replies to “Dibelikan 8 fregat dari Italia, Bernard Sondakh: TNI AL senang tapi mumet”

  1. Sebetulnya dg PKR RE Martadinata tdk jauh beda, hnya bobot dan ukurannya yg beda jauh. Klo manajemen tempurnya msh mirip2. Pake radar Terma scnter mk -3. Klo varian untuk Indonesia paling mash mengadopsi rudal permukaaan Exocet M M blok -3;, sama dengan PKR RE Martadinata class, korvet Hasanudin class dan corvet bung Tomo class. Hnya di sistem rudal hanud lbh mumpuni klo memang mau pake rudal Aster-15.

  2. Kalau pengiriman selesai tahun 2030an, kasus pembelian kapal eks-Jerman Timur harusnya tidak terulang. 2 kapal bekas juga bakal diupgrade dulu, tidak seperti dulu yang kita terima “as is”.

  3. Untuk dermaga sepertinya sebagian sudah siap, sbg gambaran KRI Makassar class yg 12000 ton lebih aja bisa sandar, fremm ini kan 6000 an ton.

    1. Betul, tapi anda melupakan 1 hal ketika membicarakan ttg fasilitas pelabuhan……perhatikan draft kapalnya.

      Draft KRI Makasar yg bobotnya lebih besar dari FREMM-italy…..justru draft nya lebih pendek ☝️

      1. Makssar Class draft nya 4.9 m
        FREMM Italy draft nya 5.9 m

        Masih cukup sebenarnya. Kalu ga cukup, ya di dredging lah.

        1. Fremm italy kok draft nya segitu……salah mas !

          Draft nya fremm itali lebih besar lagi utk mengkompensasi tiang radar utama yg menjulang tinggi.

          Masalah keruk-mengkeruk itu perkara mudah…..tapi AL nyiapin bujet berapa utk merawat alur pelabuhan ?

  4. Pak mentri dan jajarannya tentu sdh memikirkan dan punya program untukk itu semua,dan tetmasuk rahasia negara…masak detailnya untuk konsumsi umum

    1. Masalahnya yg mengkritik itu adalah mantan KASAL yg tau banyak hal tentang AL dan tentu mendengar kegelisahan dari para yuniornya

  5. Harusnya seneng dapat alutsita cangih…kan para krunya bisa belajar di italia…ini kapal kan gak kontrak kapal langsung datang…butuh waktu juga pengerjaanya…sambil menugu selesainya kapal kan bisa melatih kru dan mempersiapkan dermaga nya….
    Yang penting kan positif ada kapalnya…daripada php tapi barang gak jelas kapan datangnya…bener gak???

  6. Lha wong kapalnya juga akan datang bertahap, butuh 3-6 tahun untuk sampai. Masih ada waktu untuk persiapan. Namanya juga crash program, kalau tidak begitu nggak beli-beli. Lebih nyesek itu kalau head to head sama PLAN pakai Fregat VS buluk Pak Ben

  7. Bismillah 8 fregat diakuisisi TNI.AL wajib itu hukumnya dimasa perang kemerdekaan 45 rakyat aceh gotong royong biayai TNI.AU beli kapal udara,sekarang harus dipelihara semangat juangnya para generasi pendahulu kita jangan patah asa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *