Biaya membengkak, program upgrade 98 F-15J ke JSI terancam batal

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Jepang diberitakan akan menghentikan pendanaan program investasi dalam peningkatan kemampuan (upgrade) 98 dari 200 jet tempur F-15J menjadi F-15JSI (Japan Super Interceptor).

Alasan dari rencana penghentian itu, tulis Asahi Shimbun, adalah masalah anggaran akhir dan persyaratan yang tidak pasti.

Disebutkan, biaya awal pengorganisasian produksi lebih tinggi dari yang diharapkan.

Oleh karenanya, Menteri Pertahanan Jepang Nobuo Kishi kemudian mengeluarkan instruksti untuk menghentikan pekerjaan persiapan upgrade untuk sementara waktu.

Dalam pembicaraan dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Lloyd Austrin pada 16 Maret lalu disebutkan, Kishi tidak akan menandatangani kontrak senilai 355 juta dolar AS dengan Angkatan Udara AS (USAF).

Tahun lalu, Parlemen Jepang sebenarnya telah memberikan persetujuan untuk program investasi F-15JSI. Dihentikannya sementara program F-15J semata atas keputusan Kementerian Pertahanan Jepang.

Pada program 2019-2020 Parlemen Jepang telah menyetujui anggaran sebesar 730 juta USD. Sedangkan pada 2021, Kementerian Pertahanan Jepang meminta adanya tambahan 190 juta USD.

Sementara itu, untuk program 2022, pihak Amerika Serikat telah memberikan sinyal bahwa biaya akan meningkat lagi secara signifikan.

Jepang pada awalnya akan meningkatkan 98 F-15J menjadi F-15JSI dengan biaya mencapai 4,5 miliar dolar AS. Program ini akan dikerjakan oleh Mitsubishi Heavy Industries (MHI) dengan kontraktor utama Boeing.

Peningkatan ke F-15JSI meliputi integrasi radar AESA AN/APG-82 (v) 1 baru dari Raytheon, komputer on-board Boeing Advanced Display Core Processor II (ADCP II), sistem on-board BAE Systems AN/ALQ-239 Digital Electronic Warfare System (DEWS), Sistem Perencanaan Misi Gabungan (JMPS), penerima GPS tahan interferensi (SAASM), dan radio Rockwell Collins AN/ARC-210.

F-15JSI akan dapat membawa rudal jelajah udara ke darat presisi tinggi AGM-158 JASSM dengan kemampuan menjangkau sasaran lebih dari 900 km.

Boeing juga akan menambah kapasitas muat rudal udara ke udara dari 12 unit AIM-120 AMRAAM menjadi 18 unit.

Pekerjaan rencananya akan dimulai pada 2022 dengan dua unit F-15J akan menjalani modifikasi di fasilitas Boeing dan 96 unit sisanya di MHI, Jepang.

Dengan adanya penundaan sementara program ini, belum tahu apakah F-15J akan berubah menjadi F-15JSI atau pesawat yang telah digunakan selama 40 tahun tersebut dihentikan operasinya maupun dijual ke negara lain. Kita tunggu informasi berikutnya.

Tanto Eagle

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *