Ini alasan pilot uji Boeing langsung terbangkan F-15EX secara vertikal

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Penerbangan vertikal dengan tenaga penuh hingga mode afterburner bagi pesawat baru tentu merupakan hal yang tak lazim. Namun hal itu dilakukan pada uji penerbangan perdana pesawat F-15EX-1 yang diterbangkan oleh pilot uji F-15 Boeing Matt “Phat” Giese didampingi pilot uji Mike “Houdini” Quintini pada 2 Februari 2021.

Seperti diketahui, pesawat pertama F-15EX pesanan Angkatan Udara AS (USAF) akan diserahkan pada kuartal pertama tahun ini.

Dalam penerbangan itu, Giese langsung menggeber F-15EX-1 hingga kecepatan 2 Mach dalam waktu 15 menit.

“Kami yakin bahwa dalam 15 menit pertama penerbangan kami akan mencapai Mach 2, dan itulah yang kami lakukan,” ujar Giese kepada The Drive usai penerbangan selama 90 menit dari Bandara Internasional Lambert di St. Louis, Missouri.

Ada alasan yang mendasari Giese untuk melakukan hal itu. Menurutnya, F-15EX bukanlah pesawat dengan desain clean-sheet yang sama sekali baru. Akan tetapi, F-15EX merupakan sebuah platform yang matang yang secara efisien merekapitulasi armada F-15C/D Eagle yang sudah menua.

Pesawat ini dibangun di atas basis F-15QA untuk Qatar yang canggih.

Penerbangan pertama F-15EX menandai tonggak sejarah setelah 48 tahun silam di mana pilot uji Irv Burrows melakukan penerbangan perdana pada prototipe YF-15A buatan McDonnell Douglas di Edwards AFB pada 27 Juli 2072.

Giese mengatakan, sebelum penerbangan perdana F-15EX-1 dilakukan, ia dan Quintini harus menunggu 20 menit untuk menunggu cuaca cerah. Dan setelah itu keduanya menguji F-15EX-1 selama satu setengah jam dengan hasil yang memuaskan.

“Kami sangat yakin jet ini akan bekerja dengan baik, kami langsung menuju ATP – afterburner maksimum dan berhenti di ‘Viking’ – dan saya tidak memiliki masalah dengan profil itu dan membuktikannya sejak awal. Kami pergi ke wilayah yang disebut wilayah udara ‘Mac North’ dan melakukan beberapa pemeriksaan kontrol penerbangan untuk memastikan rig pesawat sudah benar,” jelasnya.

Setelah itu, lanjutnya, ia memacu pesawat hingga ketinggian 40.000 kaki dan mencapai angka 2 Mach.

“Kami melakukan pemeriksaan mesin pada 40.000 kaki, pada 30.000 kaki, dan kemudian turun ke ketinggian 20.000 kaki dan kami dengan sengaja mematikan mesin yang sangat bagus dan kemudian menghidupkan kembali mesin tersebut dalam mode primer dan sekunder untuk membuktikan keandalan mesin General Electric GE-129. Kami tidak punya masalah dengan re-start mesin itu,” jelasnya.

Setelah itu Giese dan Quintini melakukan uji penerbangan lain termasuk uji avionik dan peperangan elektronik dan menuntaskan seluruh tugasnya pada hari itu.

144 unit F-15EX untuk USAF

F-15EX dilengkapi teknologi fly-by-wire, kokpit digital baru, radar AESA modern, Advanced Display Core Processor (ADCP)–II, dan komputer misi tercepat di dunia.

Pesawat juga dilengkapi dengan sistem peperangan elektronik Eagle Passive/Active Warning and Survivability System.

Sebanyak delapan jet F-15EX akan dibuat untuk USAF berdasarkan kontrak pada Juli 2020 senilai 1,2 miliar dolar AS.

USAF sendiri rencananya akan mengakuisisi hingga 144 jet tempur generasi keempat plus ini.

Roni Sont

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *