MiG-41 mungkin sulit diwujudkan, tapi Su-57 “Interceptor” bisa jadi

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Rusia sedang melakukan riset pengembangan jet tempur pencegat PAK DP atau MiG-41 sebagai calon pengganti MiG-31 (NATO: Foxhound) pada tahun 2030-an.

Pesawat pencegat dengan kemampuan supercruise dibutuhkan untuk melindungi wilayah utara Rusia dari serangan rudal jelajah.

PAK DP yang bermakna Pesawat Udara Masa Depan Intersepsi Jarak Jauh, merupakan proyek inisiatif Kementerian Pertahanan Rusia dengan biaya riset yang masih terbilang kecil hingga saat ini.

Konsorsium perusahaan negara Rusia, Rostec, di lamannya pernah menuliskan sejarah MiG-31 dan menyinggung proyek penggantinya dengan sebutan PAK DP dan MiG-41. Beberaoa hari kemudian, kata MiG-41 tersebut dihapus.

PAK DP sejatinya merupakan proyek penelitian untuk mengembangkan konsep awal pesawat dan merumuskan kebutuhan untuk upaya pengembangan berikutnya. Dapat dikatakan, PAK DA saat ini belum menjadi konsensus pemerintah Rusia untuk mewujudkannya.

Seperti ditulis Piotr Butowski di Aviation Week, Kementerian Pertahanan Rusia pada 25 Desember 2018 telah memberikan kontrak kepada United Aircraft Corporation (UAC) untuk pengerjaan awal proyek tersebut. UAC selanjutnya menunjuk Russian Aircraft Corp (RSK MiG) dan Sukhoi untuk mengembangkan konsepnya.

Tidak jelas apakah setiap perusahaan mengembangkan konsepnya masing-masing, ataukah Sukhoi mengerjakan sebagian pekerjaan yang dilakukan RSK MiG. Disebutkan, Sukhoi sendiri menerima pesanan langsung pengerjaan proyek itu dari UAC, bukan melalui RSK MiG.

PAK DP ditujukan untuk melawan target udara, termasuk target hipersonik serta pesawat ruang angkasa orbit rendah.

Pesawat ini akan melawan ancaman yang diembankan kepada MiG-31 saat ini, seperti pembom berat dan rudal jelajah strategis musuh.

PAK DP akan memiliki kecepatan jelajah yang sama dengan MiG-31 pada ketinggian 20 km yaitu Mach 2,35 tetapi dengan radius aksi yang lebih panjang.

Presiden UAC Yury Slyusar pada Agustus 2018 mengatakan, pembuatan pesawat pencegat baru harus disinkronkan dengan habisnya masa pakai MiG-31, yaitu pada tahun 2030-an.

Akan tetapi, bagi Rusia tenggat tersebut terlalu jauh sehingga sulit untuk memperkirakan apa pun. Terlebih dikaitkan dengan kondisi ekonomi Rusia dan industri penerbangannya saat ini.

Industri menunjukkan bahwa Rusia tidak akan mampu membeli pesawat seperti itu. Ada kemungkinan, tulis Butowski, tugas yang saat ini direncanakan untuk PAK DP sebagian akan dipindahkan ke varian pencegat dari pesawat tempur Su-57 “Interceptor”, terutama setelah pesawat ini dipersenjatai dengan rudal jarak sangat jauh baru “izdeliye 810”.

Alternatif lain yang lebih mudah, lanjutnya, Rusia dapat memperpanjang lagi masa pakai MiG-31 dan meningkatkan kapabilitasnya.

Kelangsungan proyek tergantung pendanaan dari pemerintah Rusia

RSK MiG dan Sukhoi tidaklah diragukan dalam hal rancangan PAK DP. Tetapi, kelangsungan proyek ini tergantung pada tersedianya pendanaan yang besar dan itu membutuhkan dukungan pembiayaan penuh dari pemerintah.

Sementara itu, RSK MiG dan Sukhoi, masing-masing juga sedang mengembangkan rancangan pesawat tempur generasi kelima untuk kelas ringan dan menengah atas inisiatif sendiri. Biaya riset ditanggung oleh masing-masing perusahaan dan tidak ada pendanaan dari pemerintah. Hal ini dikatakan CEO Rostec Sergey Chemezov pada Desember tahun lalu. Untuk diketahui, Rostec menaungi UAC, RSK MiG, dan Sukhoi.

Lalu, bagaimana nasib MiG-41 atau PAK DP sesungguhnya? Untuk saat ini memang belum dapat ditebak.

Apakah pemerintah Rusia akan mewujudkannya atau memilih salah satu rancangan pesawat tempur generasi kelima kelas ringan dan menengah yang dibuat RSK MiG dan Sukhoi? Kita tunggu perkembangan berikutnya.

Roni Sont

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *