F-16XL, pembom tempur bersayap delta yang tak jadi dibuat

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Ketenaran dan kesuksesan F-16 Fighting Falcon buatan General Dynamics (kemudian hari melebur ke Lockheed Martin) sebagai jet tempur mesin tunggal, sudah tercium baunya sejak prototipe pertama pesawat ini mengudara pada 20 Januari 1974.

F-16 Fighting Falcon merupakan pesawat tempur multiperan supersonik yang awalnya dirancang sebagai pesawat tempur superioritas udara ini telah mencapai produksi lebih dari 4.600 unit sejak produksi massalnya dilaksanakan tahun 1976.

Berbagai keunggulan dimiliki jet yang satu dan tidak dimiliki oleh jet-jet tempur sebelumnya. Mulai dari kanopi gelembung tanpa bingkai sehingga memberikan visibilitas yang sangat baik, tongkat kemudi yang dipasang di samping sangat memudahkan pilot untuk melakukan manuver, kursi lontar dengan sandaran 30 derajat ke belakang yang dapat mengurangi efek gaya-G pada pilot, sistem kontrol penerbangan fly-by-wire yang menjadikannya pesawat yang gesit, maupun fitur-fitur unggulan lainnya, telah menjadikan F-16 sebagai jet tempur paling diminati dan digunakan di lebih 27 negara hingga saat ini.

F-16XLNASA

F-16XL kursi tunggal yang kemudian digunakan oleh NASA.

Akan tetapi, kesuksesan F-16 dengan desainnya yang sangat cantik itu, tidak serta merta mencapai kesuksesan manakala pesawat ini dirombak sehingga memiliki sayap delta serta tubuh yang lebih panjang 1,42 meter.

Sebenarnya, desain yang dinamakan F-16XL (Extra Large) ini, juga memiliki sejumlah keunggulan. Sebut misalnya, desain sayap delta dengan dua sudut leading edge, 50o dan 70o, yang menyapu ke belakang memberikan keleluasaan aliran udara sehingga meningkatkan aerodinamika pesawat.

Sayap yang lebih lebar dua kali lipat dari luas sayap pada F-16 standar juga memberikan ruang yang lebih luas untuk membawa persenjataan dan penempatan senjata yang setengah tersembunyi.

Demikian juga dengan badan pesawat yang lebih panjang memberikan ruang yang lebih luas sekaligus meningkatkan daya muat bahan bakar lebih banyak 85%.

Baca Juga: Medan Tempur Neraka, Tiga Pesawat Ini Rontok di Suriah

Dalam hal radius tempur, desain baru F-16XL meningkat 48% dengan mengandalkan bahan bakar internal dan meningkat 87% saat membawa drop tank.

Kecepatan penetrasi yang tinggi dimungkinkan pada dengan desain yang baru. Demikian juga dengan kapabilitas manuvernya meningkat.

Terbang perdana tahun 1982

Riset dan pengembangan F-16XL murni dibiayai oleh General Dynamics sebagai pabrik pembuatnya. Meski demikian, Angkatan Udara AS (USAF) turut mendukung program ini dengan menyewakan dua unit F-16A, mesin, dan satu unit badan F-16B.

Proyek yang dimulai tahun 1981 itu menghasilkan dua prototipe F-16XL di mana satu berkursi tunggal dan satu lagi berkursi tandem.

F-16XLGeneral Dynamics

Desain F-16XL ini tampak gagah dari depan.

Setahun kemudian, masing-masing pesawat berhasil melaksanakan penerbangan perdananya pada 3 Juli 1982 dan 29 Oktober 1982.

Namun sayang, prototipe yang kemudian dilombakan dalam Enhanced Tactical Fighter (ETF) di USAF ini kalah oleh F-15E Strike Eagle yang ditawarkan oleh McDonnell Douglas (kemudian hari melebur ke Boeing).

Kalah dalam persaingan ETF di USAF untuk menggantikan F-111 Aardvark, F-16XL masih diteruskan pengembangannya dan sempat menyandang kode F-16E.

Digunakan NASA hingga 1999

Dalam perkembangan berikutnya, F-16XL digunakan oleh NASA Dryden Flight Research Center di Pangkalan Angkatan Udara Edwards di California untuk berbagai penelitian.

Pada 1999, penelitian NASA menggunakan F-16XL mencapai titik ujungnya. Kedua F-16XL pun selanjutnya disimpan di tempat penyimpanan pesawat milik NASA Dryden.

F-16XL_nasaNASA

F-16XL kursi tandem yang digunakan oleh NASA.

Pada 2007, NASA melobi lagi Lockheed Martin untuk mengudarakan kembali F-16XL dengan penyetaraan ke F-16 Block 40 USAF.

F-16XL kursi tunggal sempat menjalani pemeriksaan ulang dan melaksanakan uji taksi.

Namun pada 2009 proyek ini kembali mencapai jalan buntu dan dihentikan. Kedua F-16XL kembali bersemedi di Pangkalan Angkatan Udara Edwards.

Roni Sontani

One Reply to “F-16XL, pembom tempur bersayap delta yang tak jadi dibuat”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *