Dikenai CAATSA, Turki pertimbangkan sanksi balik kepada AS

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusolgu menyatakan, sanksi CAATSA AS tidak akan berdampak pada negara itu. Ia bahkan menyatakan, Ankara sedang mempertimbangkan tindakan timbal balik terhadap Washington.

Dijelaskan, Turki tidak dapat dikenai sanksi oleh AS atas pembelian S-400 karena kesepakatan itu dilaksanakan sebelum hukum CAATSA diberlakukan.

Untuk dikethaui, pada awal bulan ini Senat AS telah mengeluarkan Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional (NDAA) yang mencakup langkah-langkah ekonomi terhadap Ankara akibat mengakuisisi sistem pertahanan rudal S-400 Triumf dari Rusia.

Turki tidak akan membatalkan pembelian S-400

Lebih lanjut Cavusolgu seperti diberitakan Sputnik menekankan, Turki tidak akan membatalkan kesepakatan pembelian S-400. Ankara menilai, hukum yang diberlakukan Washington adalah salah, baik secara hukum maupun politik karena AS telah merusak hak kedaulatan Turki.

Turki menerima pengiriman pertama sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia pada 12 Juli 2019.

Senada dengan Cavusolgu, Presiden Industri Pertahanan Turki, Ismail Demir, juga mengatakan bahwa sanksi yang diberlakukan oleh AS tidak akan melemahkan Ankara.

“Sanksi itu tidak berdampak apa-apa, kecuali orang dan instansi yang menjadi sasarannya. Sanksi itu tidak mempengaruhi kesepakatan yang telah ditandatangani sebelumnya,” ujar Demir.

Ditambahkan, sanksi dari AS tidak akan menimbulkan kerusakan atau membuat Angkatan Bersenjata Turki menjadi lemah.

RUU CAATSA ditandatangani Presiden Donal Trump pada 2017

Rancangan Undang-Undang CAATSA pertama kali ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump pada 2 Agustus 2017. Hukum ini menyasar Iran, Korea Utara, dan Rusia.

Sementara itu perselisihan AS dengan Turki dimulai di tahun itu juga di mana Ankara menandatangani perjanjian dengan Moskow untuk membeli S-400 Rusia senilai 2,5 miliar dolar AS.

Turki tidak membeli sistem pertahanan udara Patriot dari Amerika Serikat dengan alasan AS tidak pernah memberikan jawaban atas proposal yang diajukan Ankara untuk membeli Patriot.

Maka dari itu Turki beralih ke Rusia untuk membeli S-400.

Baca Juga: Jumat Keramat, Turki Telah Terima Kiriman S-400 Kelompok Pertama

Atas keputusan Moskow, AS kemudian mengeluarkan Turki dari Program F-35 dan mengusir seluruh penerbang serta teknisi yang sedang menjalani pendidikan jet tempur siluman buatan Lockheed Martin itu.

S-400 Triumf dibuat oleh Almaz-Antey, Rusia. Sistem pertahanan udara ini mampu menjangkau jarak 400 km dan ketinggian hingga 30 km. Kecepatan terbangnya mencapai 4,8 km/detik (13,9 Mach).

Roni Sontani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *