AS tak kabulkan F-35, malah tawarkan F-16 lawas

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Seperti diberitakan CNN Indonesia, pemerintah Amerika Serikat (AS) menilai Indonesia belum layak memiliki jet tempur generasi kelima F-35 Lightning II yang berteknlogi siluman (stealth). Padahal Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dikabarkan mengincar alutsista tersebut dan membicarakannya dalam lawatan ke Amerika Serikat beberapa waktu lalu.

Buntut dari penolakan tersebut, dikabarkan AS malah menawarkan F-16C/D Fighting Falcon Block 32 untuk Indonesia. Padahal kita ketahui, seri tersebut merupakan seri lama yang sudah tidak diproduksi lagi. Block 32 merupakan varian F-16C/D yang diproduksi tahun 1986 dan berhenti diproduksi tahun 1989 untuk selanjutnya digantikan dengan Block 42.

Mulai Block 30/32, pabrikan menyediakan dua alternatif mesin bagi calon pembeli F-16, yaitu Pratt & Whitney F100-PW-220 atau General Electric F110-GE-100.

Sebagai pembedanya, mulai produksi Block 30 dan sesudahnya, nomor Block dengan akhiran angka “0” menunjukkan varian tersebut ditenagai mesin buatan General Electric (GE). Sedangkan Block berakhiran angka “2” ditenagai mesin buatan Pratt & Whitney (PW). Sejauh ini seluruh F-16 TNI Angkatan Udara menggunakan mesin buatan PW.

Tawaran F-16 Block 32 (yang kemungkinan besar diambil dari stok eks USAF/AU Amerika Serikat) menyiratkan AS juga berat hati melepas F-16V Block 70/72 yang merupakan varian tercanggih F-16 yang masih diproduksi saat ini. Tak jelas apakah itu menandakan AS sebenarnya masih enggan melepas radar berteknologi AESA (active electronically-scanned array) ke Indonesia.

Radar AESA merupakan salah satu fitur kelengkapan pesawat tempur generasi 4,5 – 5 di mana radar ini memiliki kemampuan penjejakan yang jauh lebih baik daripada radar konvensional, dengan fitur sulit diacak secara elektronis (di-jamming) sebagai salah satu unggulannya.

Jika benar Indonesia merupakan mitra strategis seperti digembar-gemborkan pemerintah AS, sebenarnya Indonesia berpeluang memiliki jet tempur sekelas F-16V –jika memang F-35 dinilai masih terlalu “jauh canggih” untuk Indonesia. Apalagi melihat perimbangan di kawasan di mana Australia dan Singapura sudah membeli masing-masing F-35A dan F-35B.

F-16VLockheed Martin

F-16 Viper.

Transaksi senjata bernilai gentar strategis (strategic deterrent) memang sarat bermuatan politis. Apalagi kita semua tahu AS tengah berusaha “menarik” Indonesia ke lingkaran negara-negara yang pro-AS dalam konflik kepentingan AS dan China di Laut China Selatan.

F-16 Block 32 sendiri memang bisa ditingkatkan kemampuan tempurnya (upgrade), bahkan sampai setara F-16V dengan penggantian radar dari APG-68 menjadi APG-83 berteknologi AESA. Usia strukturalnya pun masih bisa diperpanjang meski tentunya tak sepanjang F-16 baru. Namun seperti disebutkan tadi, ada tersirat keengganan AS melepas radar berteknologi AESA ke Indonesia.

Dengan perkembangan terbaru ini, sebenarnya peluang jet-jet tempur yang teknologinya lepas dari kontrol ekspor senjata AS (ITAR) menguat, seperti misalnya Rafale (Perancis) dan Su-35 (Rusia). Namun kembali lagi, aspek politiklah yang menentukan.

Antonius KK

 

39 Replies to “AS tak kabulkan F-35, malah tawarkan F-16 lawas”

  1. Merapat ke amerika siap2 spek peralatan tempur di downgrade dibawah australia dan singapura…mubajir dibeli tp tdk punya daya getar
    SU35 HARUS TETAP BERJALAN

  2. Kembali ke SU 35 adalah rasional dan cerdas …. bukan condong kemana tetapi sahabat yg benar” mengerti kesilitan kitalah yg menjadi prioritas …. ngapain hrs mamarika
    Udah pak Prabowo SU 35 jangan pikir panjang lagi … BUNGKUS

  3. Semoga Allah mudahkan pak Prabowo dalam proses upgrade alutista NKRI agar terjaga kemerdekaan dan keamanan negeri kita dari “pandang enteng” Pihak asing.

    1. Tawaran AS merupakan penghinaan bagi bangsa Indonesia. Sudahlah utuk alustita sebaiknya pilih dari Rusia, Sukoi 35, 57 adalah pilihan yg cerdas. Dan tetap independen. Capai kita didikte oleh Barat. Tak usah khawatir kita Negara Kaya, semua ada

  4. Kok repot mikir f-16v atau pun f-35 yg terlalu byk masalah, kmungkinan embargo lah, atau geopolitics. Mending pikirkan saab jaas gripen. Yg lbh “soft” mlh mgkin tot, bahkan dlm bbrp analis blg lbh eco buat biaya perawatan. Alasan pertama single mesin logika lbh eco drpd dobel mesin spt su-35.. 🙏

    1. Belajar lagi ya mas, FYI Gripen itu juga banyak komponen US dan UK nya… Maka malah lebih rentan embargo krn produk gado2 tiga negara

  5. Tinggalkan Amerika dg technology F-35 nya karena kita di pandang blm siap fg technology yg super canggih nggak apa2 jangan berkecil hati tapi buatlah Amerika menjadi kecil dimata kita. Beli Shukhoi-35 dari Rusia itu sudah lebih dari cukup membuat Amerika menjadi sangat kecil.
    Dan tiadak usah juga beli dari negara barat manapun yg akan membuat harga diri kita sebagai bangsa Indonesia lebih berbobot dan disegani karena kita bertahan dg prinsif kita.

  6. Ternyata tawaran f-16 Viper itu cuma halu ya..😅. Yang ditawarkan ternyata barang bekas dan sudah tidak diproduksi lagi.. 😂

  7. Bungkus su 35 pak Prabowo. jangan di nnti2.amerika tidak ingin Indonesia punya alutsista yg lebih canggih.ingat kita punya Rusia

  8. Udah beli SU 35 aja, dr dulu AS kebanyakan syarat ini itu, biar sekutunya Ausie dn Singapura gk bs disaingin. Mereka lebih takut dng Sukhoi 35 Rusia.

  9. Kalo gak dikasi ambil produk canggih rusia kan pembeli adalah raja, ngapain beli barang lawas ,sekalian beli barang canggih ,kalo gak dikasi itu artinya meremehkan indonesia.banyak produk eropa lainnya yang lebih canggih

  10. Jika benar AS memandang Indonesia sebagai mitra startegis, maka apapun yang diminta oleh indonesia akan dipenuhi oleh AS. Indonesia negara besar dan strategis, pemimpin indonesia harus punya keberanian mengabil sikap tegas dan tidak di dikte oleh negara lain sementara dikawasan ini indonesia dihadapkan dengan F35 Australia dan singapura (negara yang dibangun dari pasir laut Indonesia). Kita lihat apakah pemerintahan ini berani ambil sikap membeli SU 35 ? atau jika perlu borong rafale sekaligus lengkap dengan persenjataanya untuk menunjukan efek gentar dikawasan.

  11. Mahar politik memang harus dilakukan ..ya begitulah sejak bangsa ini terbentuk ..hanya Sukarno lah yg bnr2 terbebas dari pengaruh asing.saya jadi ingat saat ada yg sowan ke as ketika akan pemilu.

  12. Teruskan pengadaan Su-35.. Jgn cm 11, dua skadron sekalian. Lengkapi pula dg rudal hanud S-400, sebagai bentuk balasan atas tindakan penolakan dari AS. Klo perlu sebagai pendamping Su-35 beli jg MiG -35 krn sdh pakai radar aesa.

  13. Gak papa f16 blok 32 juga kita sekarang bukan butuh busur yang mahal tapi yang dibutuh kan busur yang mudah digunakan inikan cuma masalah politik dan masalah uang dari semua nya kan yang penting penggunanya dan senjatanya
    Saya kira kita beli saja sebagai barter ga papalah gak rugi juga punya 80 f16 kan operasionalnya murah dengan catatan kebebasan dikendalikita tunduk dulu ikuti apa aturan dia dan suruh hitung kita dengan segala resiko politik jangan melempar ingat waktu jerman dikalahkan sekutu , bukan karena canggih tetapi teretori dan faktor jumlah tentara serta kelelahan amer ika sudah terpikir cuma indo yang bisa digunakan sebagai gudang senjata lautnya diatas semua faktor diatas

  14. Bismillah bila presiden amerika baru jika ditangan biden bisa dibicarakan ulang pembelian f.16 v dan f.35,bila presiden baru amerika yang baru masih trump apakah masih bisa dilanjutkan pembelian kedua pesawat tempur ini?.coba fikirkan alternatifnya dengan mengadakan pesawat tempur lainnya mig.35,mig.31 serta pengadaan rudal s.400 rusia,sekaligus rudal lainnya untuk diplatformkan di KCR TNI.AL.seperti rudal tzircon,kalibr,rudal buk dan tor yang baru.mungkin dengan bantuan india bisa kita platformkan rudal brahmos 2 untuk su.30 mk.1 rusia.masih banyak pilihan dan jalan untuk skadron kita asalkan kita nga putus asa.ingat jaman presiden soekarno mampu mendatangkan mig.21,kapal selam,kapal destroyer.tahun 2020 ini kita bisa datangkan lebih canggih lagi… asal kita giat berusaha untuk mendatangkannya.

  15. Matrialnya ambil dari tanah kita di papua, malah dkasih barang bekas, dari jaman soekarno Amerika bukan sahabat yg baik, lebih baik kita pake SU 35, biar bisa pecundangi pesawat2 amerika yg dipake Australia sama singapur yg merupakan matanya amerika di asia

  16. Bungkus 1 Skadron SU-35 tapi dipublish ke media SU27-SM2/3, kalo perlu sekalian dengan S-400.
    Mumpung mereka sedang dalam election 2020.

  17. jangan sampai indonesia jadi bonekanya amrik lagi.mending beli SU 35 yg anti embargo.daripada beli produk amrik yg banyak syaratnya.berkacalah pada f 18 malasya.mau buat perang aja harus ijin amrik dulu.

  18. Mungkin, maksudnya AS menawarkan Block 32 adalah jika RI butuh pengadaan cepat, sehingga bisa diambilkan AS dari AMARG atau tempat lain.
    Dan dapat pula dilakukan upgrade terhadap hal utama yang dibutuhkan seperti AESA Radar, ya, kan?
    Block 70/72 adalah pesawat baru, gres dari pabrik, tentu jika ingin dibeli maka perlu menunggu dalam antrian.

  19. Kenapa tidak membeli rudal pertahanan udara yang canggih dari Rusia seperti S300 & S400. Setidaknya walaupun kemampuan pesawat tempur bisa dibilang kaleng kaleng, tapi kalau rudal pertahanan udaranya bikin lawan keder. Akan memberikan effect gentar kepada yang ingin mengusik masuk ke wilayah NKRI.

  20. Indonesia gabung Amerika dan sekutunya saja dengan perhitungan menguntungkan kita. Sudah saatnya kita berteman. Karena dengan berteman kita kuat dan dihargai negara lain.

  21. Pakai produk indonesia aja, orng indonesia yg ahli” dbidangnya diberdayakan untuk menciptakan pesawat tempur yg lebih hebat dari amerika n rusia. Klo mengeluarkan cost yg besar ikuti saja. Tetapi puas krn ciptaan sendiri. Pesawat tempur amerika dan rusia cukup dijadikan patokan dasar agar indonesia bisa ciptakan pesawat tempur yg lebih hebat lagi. Percuma kalau tentara kita sudah hebat dan ditakuti oleh dunia tp alutsistanya masih bergantung kpd negara lain. Wadahnya seperti pindad sudah ada tinggal dikembangkan lg. Klo Dana kurang, tenang aj banyak orng kaya di indonesia tinggal minta sumbangsih mereka untuk indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *