Mesin tahap kedua Su-57 spektakuler dan berumur pakai panjang

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Mesin tahap kedua jet tempur Su-57 (NATO: Felon) disebut memiliki kapabilitas spektakuler dan  memiliki umur pakai yang panjang. Kapabilitas mesin ini melebihi kemampuan semua mesin yang digunakan oleh jet tempur generasi kelima, termasuk mesin P&W F-135 yang digunakan oleh F-35 Lightning II.

Mesin baru untuk Su-57, disebut oleh desainernya sebagai generasi 5+ karena kemampuan dorongannya yang sangat kuat.

“Ini adalah mesin yang dirancang khusus untuk pesawat baru. Saya bahkan dapat mengatakan bahwa ini adalah generasi 5+, sedikit lebih maju dari generasi ke-5,” kata Yegvgeny Marchukov, Desainer Umum dan Direktur OKB A. Lyulki, cabang dari United Engine Corporation (UEC) kepada televisi bintang merah milik Kementerian Pertahanan Rusia, Zvezda.

Ia menegaskan, karakteristik spesifik mesin ini sesuai dengan generasinya.

“Yang utama adalah gaya dorong spesifik, konsumsi spesifik, dan berat jenis,” tambahnya.

Dijelaskan, mesin tahap kedua ini memiliki masa pakai yang sangat panjang, hingga 50 tahun.

“Tidak ada mesin lain di dunia yang menghasilkan gaya dorong spesifik seperti itu. Kalau tidak, tidak masuk akal, masa pakainya 30-40-50 tahun,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, Rusia tengah mengembangkan mesin yang akan digunakan khusus untuk Su-57. Mesin ini sering disebut sebagai izdeliye (produk) 30.

Sejauh ini, prototipe Su-57 yang telah dioperasikan masih menggunakan mesin yang digunakan pada Su-35, yaitu Saturn AL-41FP.

Su-57Marina Lystseva

Dari tayangan video TV Zvezda, diperlihatkan mesin baru untuk Su-57 berada di bangku uji sedang menjalani uji statis. Nozel vektor mesin itu terlihat dengan jelas.

Su-57 telah memasuki seri produksi pertama yang dilengkapi dengan mesin AL-41FP. Pesawat ini akan memasuki layanan Angkatan Kedirgantaraan Rusia (VKS) tahun 2022.

Jadwal semula, seri produksi pertama Su-57 akan diserahkan kepada VKS pada awal 2020. Namun menjelang diserahkan, Su-57 seri produksi pertama mengalami kecelakaan pada saat pengujian akhir, pada akhir Desember 2019.

Roni Sontani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *