Desaer ATL-100 pesaing baru dari Brasil untuk N219 Nurtanio

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Kabar baik berhembus dari Bandung tempat PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bermarkas. Proses sertifikasi pesawat N219 dikabarkan akan tuntas tahun ini. Artinya pesawat sudah bisa masuk jalur produksi tahun depan.

Namun tantangan berat masih akan menghadang, terutama berebut di pasar global sekelasnya. Yaitu untuk pasar pesawat berawak 19, bermesin turboprop ganda dengan sistem roda pendaratan fixed.

Seperti kita ketahui, saat ini pasar pesawat komuter perintis tersebut masih dikuasai oleh pemain lama seperti Viking Air dari Kanada dengan Twin Otter 400 dan Harbin Y-12E dari China.

Sementara untuk pemain baru selain N219, hadir SkyCourier 408 dari produsen ternama Cessna dari Amerika Serikat yang kini dalam persiapan terbang perdananya.

Kini datang lagi pemain baru Desaer  (Desenvolvimento Aeronáutica) dari Negeri Samba, Brasil yang menawarkan ATL-100. Pesawat ini dibuat oleh mantan karyawan Embraer sejak 2017.

Desaer bermarkas di Incubaero. Institusi di Fundação Casimiro Montenegro Filho ini adalah sebuah inkubator untuk proyek baru dan kedirgantaraan . Daeser merupaka lembaga penelitian dan pengembangan teknologi DCTA (Departamento de Ciência e Tecnologia Aeroespacial, departemen ilmu pengetahuan dan teknologi dirgantara) di São José dos Campos milik Angkatan Udara Brasil (FAB).

ATL-100 (Avião de Transporte Leve, pesawat angkut ringan) didesain serbaguna untuk kebutuhan militer dan sipil.

Pesawat ini mengadopsi sayap utama model tinggi, ekor model T, dan roda pendaratan model tetap. Pesawat bisa beroperasi dari lapangan rumput atau tanah keras.

Sebagai pesawat transportasi sipil, ATL-100 dapat menampung penumpang sebanyak 19 orang di kabin tak bertekanan udara. Sementara untuk transportasi militer, pesawat ini dapat membawa 12 penerjun payung dan dua jumpmaster

ATL-100 dapat digunakan juga sebagai ambulans udara. Pesawat juga dapat diubah menjadi pesawat kargo dengan membawa tiga wadah LD3 atau muatan seberat 2.500 kg yang dinaikkan dari pintu rampa belakang.

Untuk spesifikasinya, ATL-100 memiliki MTOW (berat lepas landas maksimum) hingga 8.620 kg. Rentang sayapnya sekitar 20 meter. 

ATL-100 didukung dua mesin turboprop berdaya 1.000 shp. Salah satu yang dipertimbangkan yakni PT6A-65B buatan PWC (Pratt & Whitney Canada).

Kecepatan terbang maksimumnya sekitar 430 km/jam dan jangkauan operasi sejauh 2.000 km atau 570 km saat terisi penuh.

Seperti Airspace Review pelajari dari laman AINonline, prototipe terbang pertama ATL-100 telah siap tahun 2021. Selanjutnya proses mendapatkan sertifikasi dari agensi penerbangan sipil Brasil (ANAC) dalam kurun dua tahun.

Mock-up skala penuh ATL-100 sendiri sudah diperlihatkan ke hadapan publik di LABACE Air Show Agustus 2019 di Sao Paulo, Brasil.

Pesawat dengan banderol sekitar 5,5 juta dolar AS ini telah mendapatkan pesanan dari AGS, perusahaan pengiriman kargo sensitif dari Brasil.

Selain itu pesawat telah ditawarkan ke FAB sebagai pengganti pesawat angkut ringan lama EMB-110 Bandeirante buatan Embraer.

Rangga Baswara Sawiyya

editor: ron

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *