Balitbang Perhubungan perkenalkan Standing Water Detector di Workshop ICAO

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Perhubungan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia memperkenalkan alat detektor ketinggian air (Standing Water Detector/SWD) dalam Workshop “Runway Safety Go-Team” yang digelar ICAO (International Civil Aviation Organization) dan Kementerian Perhubungan di Hotel Four Points, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (9/3). Workshop berlangsung dua hari hingga Selasa.

SWD, hasil riset bersama antara Balitbang Perhubungan dengan Intstitut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini, berguna untuk mengetahui ketinggian air di landasan saat terjadi hujan. Hal ini untuk menghindari terjadinya efek hydroplaning yang dapat membahayakan penerbangan pesawat.

Kepala Puslitbang Transportasi Udara Balitbang Perhubungan Capt. Novyanto Widadi, S.AP., M.M., dalam sambutan pengantar paparan SWD mengatakan, pertumbuhan transportasi udara meningkat sangat pesat. Hal ini membutuhkan program dan sistem terbaik untuk mendukungnya.

Balitbang Perhubungan, ujarnya, berupaya menyediakan dan mendukung sistem manajemen untuk personel penerbangan. Kemitraan dengan ICAO menandai langkah besar ke depan menuju tujuan tersebut.

Ditambahkan, Balitbang Perhubungan melakukan layanan terbaik, investasi, dan penelitian yang hasilnya akan berdampak besar pada penerbangan.

Standing Water Detector
Roni Sontani/AR

“Kami berharap dapat memiliki pemahaan yang baik tentang aturan penerbangan dan pentingnya kemitraan saling menguntungkan antara Indonesia dengan negara-negara anggota ICAO lainnya,” ujarnya di hadapan perwakilan dari ICAO dan sejumlah instansi penerbangan di Indonesia.

Kapuslitbang Transportasi Udara juga mengatakan, untuk dapat berkontribusi aktif agar program yang dijalankan menjadi sebuah kisah sukses, Balitbang Perhubungan perlu lebih memahami apa yang akan terjadi dan bagaimana bisa mempersiapkan program untuk diterima di dunia.

“Apa yang kami sediakan di sini adalah sistem pendekatan prediksi terbaik. Dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember kami melakukan risert bersama, berupaya mengembangkan inovasi penerbangan demi mendukung keselamatan penerbangan,” ujarnya.

Roni Sontani/AR

Dijelaskan, SWD merupakan satu dari sejumlah program yang dibentuk sebagai pendekatan prediktif, lebih dari yang direncanakan secara proaktif. Hal ini untuk mencapai keselamatan penerbangan di tingkat tertinggi,” ujarnya.

Sementara itu, Deputi Kepala Pusat Penelitian energi Berkelanjutan yang juga Ketua Riset SWD dari ITS Dr. Melania Suweni M, MT, kepada Airspace Review di tempat yang sama mengatakan, Standing Water Detector akan menghitung secara cepat kenaikan genangan air di landasan saat terjadi hujan.

SWD dipasang di sejumlah titik di pinggir landasan. Melalui sistem algoritma perangkat lunaknya, ketinggian ari akan dapat diketahui dan dipantau melalui komputer di kantor. Sehingga, saat terjadi hujan petugas bandara tidak perlu turun langsung untuk mengecek ketinggian air.

Standing Water Detector
Roni Sontani/AR

Ketinggian genangan air di landasan, apabila sudah mencapai 3 mm, ujarnya, maka indikator di sistem akan berwarna merah. Sementara bila belum mencapai ketinggian itu ada warna-warna lain yang telah dibuat untuk memudahkan pemantauan petugas.

“Untuk mendapatkan data akurasi dari pemasangan di tiap bandara, kami tinggal memasukkan data-data profiling dari tiap bandara karena tentunya berbeda-beda,” ujarnya.

SWD telah dicoba di beberapa bandara. Saat ini SWD ini masih membutuhkan uji coba lanjutan hingga diharapkan bisa mendapatkan sertifikasi untuk dapat digunakan di bandara-bandara di Tanah Air.

Tenaga Ahli Bidang Penerbangan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Masruri mengatakan, perangkat-perangkat penunjang keselamatan penerbangan sangat dibutuhkan untuk mencapai keselamatan penerbangan.

Workshop ICAO
Roni Sontani/AR

Sejumlah kasus kecelakaan penerbangan yang terjadi di Indonesia, beberapa di antaranya karena akibat ada genangan air yang melebihi batas keselamatan penerbangan.

“Alat ini membantu meningkatkan keselamatan penerbangan. Para pilot kalau mau mendaratkan pesawatnya tentu mereka juga menginginkan informasi bahwa tidak ada genangan air di landasan yang dapat menyebabkan terjadi incident maupun accident,” kata Masruri.

Roni Sontani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *