Thailand Ingin Beli Pesawat Tempur Satu Paket dengan Otaknya

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Thailand ingin membeli pesawat tempur baru, tapi ada syaratnya. Negeri Gajah Putih tidak hanya butuh pesawatnya saja, melainkan ingin terlibat dalam pengembangan perangkat lunak yang menjadi otak pesawat tempur tersebut.

Tak dipungkiri, kebutuhan akan jet-jet tempur generasi baru saat ini dirasakan oleh Angkatan Udara Kerajaan Thailand (Royal Thai Air Force – RTAF).

Seperti diketahui, RTAF saat ini mengoperasikan 53 F-16A/F dengan usia pakai rata-rata 30,2 tahun. FlightGlobal menulis, dari jumlah tersebut tujuh di antaranya merupakan bekas pakai Angkatan Udara Singapura (RSAF). Sementara 14 lainnya bekas pakai Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF).

Selain F-16, RTAF masih mengoperasikan 34 F-5 dengan usia pakai rata-rata 38,5 tahun.

Yang terbilang muda, tentu saja 11 Saab Gripen C/D dengan masa pakai rata-rata 7,7 tahun.

typhoon and gripen
RAF

Dalam keterangan kepada Bangkok Post, Panglima RTAF Marsekal Maanat Wongwat menyatakan konsep kebutuhan proyek (Concept of Project Requirements – COPR) dalam hal pembelian pesawat. Ia katakan, butuh dua tahun untuk merumuskannya terlebih dahulu.

“Bukan hanya pesawatnya saja. Hal itu memang penting, tapi ada yang lebih penting lagi, yaitu soal ‘otak’ dari pesawat tempur itu,” ujarnya.

Oleh karenanya, lanjut Wongwat, Thailand harus terlibat dalam proses pengembangan perangkat lunak pesawat tempur yang tidak lain merupakan otak dari pesawat yang akan dibeli.

Dengan mendapatkan ofset pengembangan perangkat lunak pesawat tempur, RTAF berharap sekaligus mendapatkan transfer teknolgi.

F-16V
Lockheed Martin

Ditanya apakah RTAF bermaksud membeli F-35? Orang nomor satu di RTAF itu menjawab, “Kami akan menerapkan kebijakan Beli dan Kembangkan, bukan hanya membeli pesawat yang sudah jadi,” ujarnya.

Ia menambahkan, pabrik pembuat F-35 belum mau menjual pesawat ini ke pembeli yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan perangkat lunaknya.

ROKAF F-35A
ROKAF file

Lagi pula, kata dia, RTAF harus mempertimbangkan terlebih spesifikasi F-35 apakah memang benar-benar dibutuhkan bagi kekuatan sistem pertahanan Thailand atau tidak.

Roni Sontani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *