ILA 2018: Laboratorium Terbang A340-300 Hadir di Berlin

ANGKASAREVIEW.COM – Pesawat laboratorium terbang A340-300 yang digunakan untuk pengujian sayap laminar, turut hadir dalam penyelengaraan pameran kedirgantaraan dan pertahanan ILA 2018 di Berlin, Jerman pada 25-29 April.

Laboratorium Terbang yang sedang melaksanakan proyek BLADE (Breakthrough Laminar Aircraft Demonstrator in Europe) dan disponsori oleh Clean Sky ini mulai mengudara sejak 26 September 2017.

Airbus menjelaskan, A340 Flight Lab (A340-300 MSN001) tengah menguji sejauh mana penggunaan sayap laminar dalam mengurangi hambatan aliran udara. Secara teori, sayap model ini akan mengurangi drag sebesar sepuluh persen serta menurunkan emisi CO2 lima persen.

Sayap laminar menyebabkan aliran fuida udara yang melewati sayap bersifat lurus atau tidak menimbulkan olakan (turbulensi).

BACA  Iran Kembangkan Drone Intai Serang Bermesin Jet Khodkar

Ditambahkan Airbus, A340 Flight Lab merupakan pesawat uji pertama di dunia yang mengombinasikan profil sayap laminar transonik dengan struktur utama internal.

Di dalam kabin, pesawat dilengkapi perangkat instrumentasi uji terbang (FTI). Modifikasi terhadap A340-300 menjadi laboratorium terbang, dikerjakan Airbus selama 16 bulan. Untuk diketahui, A340-300 MSN001 merupakan buatan tahun 1991 atau produksi 27 tahun silam.

Dalam menjalankan proses pengujian di udara, pesawat ini diawaki oleh 10 pilot terlatih dan sejumlah insinyur penguji.

Pada sayap pesawat, terdapat ratusan titik ukur yang akan memastikan pengaruh laminaritas. Metode ini juga baru pertama kali dilakukan dalam pengujian pesawat terbang di udara.

Flickr

Hal lainnya, adalah penggunaan kamera inframerah di dalam pod untuk mengukur suhu sayap serta generator akustik yang akan mengukur pengaruh suara pada laminer.

BACA  Qatar Airways Siap Beli 25% Saham Bandara Vnokovo Rusia

Ada juga sistem reflectometry yang akan mengukur deformasi berdasarkan pantulan sinar matahari pada panel sayap baru secara langsung selama penerbangan dilaksanakan.

Total, A340 Flight Lab akan melaksanakan tugasnya selama 150 jam terbang. Saat ini baru 66 jam terbang yang dijalani. Dijadwalkan proyek uji senilai 1,6 milar euro yang penelitian awalnya telah dimulai sejak 2008 ini akan selesai tahun depan.

RONI SONTANI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *