Respons Menohok Lockheed Martin Usai Yunani Pilih Pesawat Embraer KC-390 Millennium
IstimewaAIRSPACE REVIEW – Pasar penerbangan militer global kian memanas setelah produsen kedirgantaraan asal Amerika Serikat, Lockheed Martin, memublikasikan pesan terselubung di media sosial pada 2 November 2026. Langkah ini diambil hanya sehari setelah Yunani secara resmi mengonfirmasi keputusannya untuk memboyong pesawat kargo KC-390 Millennium buatan produsen asal Brasil, Embraer. Waktu penerbitan pesan yang berdekatan dengan pengumuman Athena tersebut dinilai para pengamat industri sebagai respons langsung untuk menanggapi manuver komersial kompetitor barunya.
Meski tidak secara langsung menyebut nama Embraer maupun KC-390, Lockheed Martin secara terbuka memamerkan rekam jejak dan skala produksi armada andalannya, C-130 Hercules. Pabrikan AS tersebut menyoroti bahwa lebih dari 2.700 unit C-130 telah diproduksi sepanjang sejarah, sementara para pesaingnya sejauh ini baru memproduksi kurang dari 20 unit.
Lockheed Martin menegaskan bahwa pengalaman operasional yang teruji selama lebih dari tujuh dekade serta kapasitas rantai produksi yang masif merupakan keunggulan mutlak yang tidak dapat digantikan oleh sekadar janji-janji masa depan.
Di sisi lain, keputusan Yunani untuk beralih ke KC-390 diresmikan melalui kesepakatan antarpemerintah bersama Portugal senilai 590 juta euro. Kontrak ini mencakup akuisisi awal tiga unit KC-390, dengan opsi penambahan tiga unit lagi, serta paket lengkap berupa peralatan, dukungan logistik, bantuan teknis, hingga pelatihan personel.
Unit pertama dijadwalkan mulai dikirim pada tahun 2027 dan rampung secara bertahap hingga 2031. Bagi Angkatan Udara Yunani, hadirnya pesawat kargo berkecepatan jelajah 470 knot dan daya angkut 26 ton ini bukan sekadar pembaruan armada angkut, melainkan juga platform pengisian bahan bakar di udara untuk mendukung jet tempur Rafale, Mirage 2000, serta armada F-16 mereka kelak.
Perbedaan Sistem Pendor
Meskipun volume produksi historis C-130 sangat dominan, perbedaan angka tersebut dinilai lumrah mengingat KC-390 merupakan proyek yang jauh lebih baru dan baru terbang perdana pada 2015. Kemenangan Embraer di Yunani, dengan dukungan Portugal yang membantu pelatihan personel, membuktikan bahwa KC-390 bukan lagi sekadar penantang baru, melainkan kompetitor riil yang sanggup menggoyahkan dominasi produsen tradisional di pasar pesawat angkut militer internasional.
Secara teknis, persaingan antara KC-390 dan varian modern C-130J Super Hercules bermuara pada perbedaan filosofi desain serta sistem pendorong utama yang digunakan. Embraer merancang KC-390 menggunakan dua mesin turbofan (jet) IAE V2500, yang memungkinkannya melejit hingga kecepatan jelajah 470 knot (sekitar 870 km/jam) dan mampu mengangkut muatan maksimum hingga 26 ton.
Sebaliknya, C-130J mengandalkan empat mesin turboprop Rolls-Royce AE 2100D3 yang berkecepatan jelajah sekitar 365 knot (sekitar 675 km/jam) dengan daya angkut maksimum berkisar 20 ton. Keunggulan kecepatan jelajah serta kapasitas angkut yang lebih tinggi menjadikan KC-390 pilihan menarik bagi angkatan udara yang membutuhkan efisiensi waktu tempuh dalam misi tanggap cepat.
Info Lainnya: Tidak perlu antre, Yunani akuisisi 3 pesawat KC-390 dari slot pesanan Portugal
Kendati kalah dalam hal kecepatan jelajah di udara, C-130J tetap memegang keunggulan signifikan dari segi fleksibilitas operasional di medan ekstrem dan rekam jejak tempur. Karakteristik mesin turboprop milik Super Hercules memberikan performa lepas landas dan mendarat yang sangat stabil di landasan pendek maupun landasan pacu darurat yang tidak terlepas (tanah atau kerikil).
Selain itu, jaringan rantai pasok global Lockheed Martin yang sudah matang serta ribuan unit yang telah teruji di berbagai belahan dunia memberikan kepastian logistik dan kemudahan suku cadang yang sulit ditandingi oleh platform baru seperti KC-390. (RNS)
