Lima Heli TNI AL Sukses Gelar Shipboard Operation di Atas KRI Sriwijaya-100
TNI ALAIRSPACE REVIEW – TNI Angkatan Laut (TNI AL) kembali menunjukkan kesiapan operasionalnya melalui latihan Shipboard Operation yang digelar di atas KRI Sriwijaya-100 pada Senin (2/11). Latihan ini bertujuan untuk menguji kemampuan manuver serta koordinasi taktis para prajurit di laut.
Latihan skala besar ini melibatkan lima unit helikopter gabungan. Unsur udara tersebut terdiri dari tiga helikopter AS565 MBe Panther dari Skuadron Udara 100 serta dua helikopter Bell 412 dari Skuadron Udara 400 Wing Udara 2. Keterlibatan berbagai alutsista udara ini menegaskan kesiapan tinggi TNI AL dalam mendukung Operasi Militer Selain Perang (OMSP).
Selain kemampuan taktis, Pusat Penerbangan TNI Angkatan Laut (Puspenerbal) bersama KRI Sriwijaya-100 turut menguji skenario penanganan dan kesiapan penanggulangan bencana alam. Sinergitas kuat antar satuan ini menjadi modal vital guna memastikan mobilitas cepat, mulai dari pengiriman bantuan logistik hingga evakuasi korban dari pulau terluar atau wilayah terdampak bencana.
Keberhasilan pelaksanaan Shipboard Operation dengan pengerahan lima helikopter ini membuktikan bahwa pembinaan profesionalisme pengawak alutsista TNI AL berjalan secara sinergis. Kemampuan melaksanakan rotasi take off dan landing secara bergantian juga menunjukkan tingkat interoperabilitas yang matang, di mana komitmen ini akan terus ditingkatkan demi memastikan seluruh unsur TNI AL senantiasa siap mengemban tugas negara.
Daya Gempur dan Deteksi Dini
Penggunaan helikopter AS565 MBe Panther dari Skuadron Udara 100 merupakan kekuatan strategis andalan TNI AL yang dirancang khusus untuk peperangan maritim, termasuk misi antikapal selam (AKS). Ditenagai oleh mesin ganda Turbomeca Arriel 2C, helikopter serbaguna ini memiliki kemampuan manuver yang lincah, dilengkapi dengan perangkat dipping sonar untuk mendeteksi bawah permukaan, serta mampu membawa sistem persenjataan canggih seperti torpedo dan rudal antipermukaan.
Kehadiran Panther di atas geladak KRI Sriwijaya memastikan bahwa unsur udara TNI AL memiliki daya gempur sekaligus kemampuan deteksi dini yang mumpuni di tengah palagan laut.
Sementara itu, helikopter Bell 412 dari Skuadron Udara 400 Wing Udara 2 dikenal sebagai kuda kerja (workhorse) yang tangguh dalam mendukung mobilitas tinggi dan misi logistik. Dibekali dengan empat bilah rotor utama serta mesin kembar Pratt & Whitney, helikopter ini memiliki kabin yang luas untuk mengangkut personel maupun muatan kargo dalam jumlah besar. Fleksibilitas dan ketangguhan Bell 412 menjadikannya aset vital dalam berbagai skenario Operasi Militer Selain Perang (OMSP), khususnya untuk menjangkau wilayah sempit, proses evakuasi medis darurat (medevac), serta penyaluran bantuan kemanusiaan secara cepat ke daerah terpencil.
Markas Terapung yang Ideal
Di sisi lain, KRI Sriwijaya sebagai panggung utama pendaratan helikopter merupakan salah satu kapal perang jenis Bantu Rumah Sakit (BRS) atau kapal pendukung logistik dan evakuasi medis berukuran besar milik Komando Armada TNI AL. Memiliki panjang lambung melebihi 120 m dan sarana geladak pendaratan helikopter (helideck) yang luas, kapal ini memang dirancang khusus untuk mampu memfasilitasi pengoperasian beberapa unit helikopter secara sekaligus.
Fasilitas hanggar dan kemampuan navigasi canggih pada KRI Sriwijaya menjadikannya markas terapung yang sangat ideal dalam mengoordinasikan pendaratan serta lepas landas helikopter di tengah lautan lepas.
Selain berfungsi sebagai landasan udara terapung, KRI Sriwijaya mengusung peran krusial dalam misi penanggulangan bencana alam dan operasi kemanusiaan di wilayah maritim Indonesia. Kapal perang ini dilengkapi dengan ruang medis darurat, fasilitas perawatan intensif, ruang operasi, serta kapasitas penampungan logistik dan personel bantuan yang sangat memadai.
Kombinasi antara daya angkut laut KRI Sriwijaya dan mobilitas udara dari helikopter Puspenerbal memperkuat jangkauan respons cepat TNI AL dalam mengamankan perairan Nusantara sekaligus memberikan pertolongan darurat di pulau-pulau terluar. (PN)
