AIRSPACE REVIEW – Di tengah ancaman serangan udara dan laut yang kian mematikan, Rusia mengambil langkah ekstrem untuk melindungi aset angkatan lautnya.
Kapal patroli antisabotase Proyek 21980 kelas Grachonok kini terlihat tampil dengan wajah baru: dilapisi jaring pelindung besi yang dirancang khusus untuk menangkal serangan drone.
Langkah ini dilakukan setelah rentetan serangan pesawat tak berawak (drone) Ukraina berhasil menembus pertahanan Rusia di titik-titik krusial, termasuk perairan sekitar Jembatan Krimea yang bernilai strategis tinggi.
Berdasarkan foto-foto yang dirilis oleh pihak Ukraina pada Mei 2026, jaring-jaring tersebut dipasang di bagian atas struktur kapal. Tujuannya jelas, untuk meledakkan drone sebelum menyentuh lambung atau struktur utama kapal.
“Langkah ini merupakan bentuk adaptasi Rusia di lapangan. Mereka sadar bahwa senjata konvensional saja tidak cukup untuk menghentikan drone kamikaze yang kecil dan lincah,” tulis laporan intelijen terbuka tersebut dikutip Militarnyi.
Keputusan Rusia untuk ‘membungkus’ kapal mereka bukanlah tanpa alasan. Sejarah mencatat insiden pahit bagi Armada Laut Hitam pada akhir April lalu di mana sebuah drone laut Ukraina berhasil menghantam kapal kelas Grachonok.
Insiden tersebut merenggut nyawa sembilan awak kapal dan melukai beberapa lainnya. Dari sembilan unit kapal yang beroperasi, satu kapal telah dinyatakan hancur total akibat serangan tersebut.
Meskipun kini harus menggunakan jaring tambahan, kapal kelas Grachonok sebenarnya adalah kapal yang cukup canggih di kelasnya.
Kapal ini dirancang untuk fungsi utama sebagai antisabotase, perlindungan pangkalan, dan pencegahan penyelam musuh.
Sistem deteksi kapal menggunakan hidroakustik Kalmar dan stasiun Anapa untuk memantau situasi bawah air.
Kapal dilengkapi persenjataan berupa senapan mesin MTPU 14,5 mm dan pelontar granat DP-65A. Sementara untuk pertahanan udara terdapat sistem MANPADS tipe Igla atau Verba. (RF)