AIRSPACE REVIEW – Pemerintah China melalui media resminya melontarkan kritik tajam terhadap program jet tempur generasi keenam Amerika Serikat terbaru, F-47.
Beijing menyoroti pembengkakan biaya pengembangan dan meragukan kelayakan proyek tersebut di tengah tantangan industri yang dihadapi Washington.
Kritik ini muncul menyusul pengumuman anggaran pertahanan AS tahun 2027 yang mengalokasikan dana fantastis sebesar 5 miliar USD (sekitar Rp80 triliun) hanya untuk fase pengembangan awal pesawat di bawah program Next Generation Air Dominance (NGAD) tersebut.
Salah satu poin utama dalam laporan China Aerospace Studies Institute adalah potensi biaya per unit F-47 yang sangat tinggi.
Analis militer China memperkirakan harga satu unit pesawat ini bisa melampaui 300 juta USD.
Angka tersebut dinilai akan membebani anggaran nasional AS dan berisiko mengurangi jumlah armada yang bisa diproduksi secara massal.
China berargumen bahwa tingginya biaya ini justru akan menjadi “titik lemah” yang menghambat implementasi operasional jet tempur tersebut di masa depan.
Selain masalah finansial, kritik China juga menyasar Boeing sebagai pengembang utama.
Media Tiongkok secara spesifik menyinggung masalah internal yang dialami Boeing baru-baru ini, seperti keterlambatan proyek tanker KC-46 Pegasus.
Mereka menyiratkan bahwa tantangan teknis dalam menciptakan pesawat yang mampu melaju di atas Mach 2 dengan kemampuan siluman tingkat tinggi akan sangat sulit dipenuhi tepat waktu oleh basis industri yang sedang bermasalah.
Beijing juga mengingatkan posisi tawar mereka dalam rantai pasok global.
Dikatakan bahwa F-47 akan sangat bergantung pada sensor canggih dan sistem elektronik, kebutuhan akan mineral tanah jarang (rare earth) menjadi krusial.
Sebagai produsen utama mineral tersebut, China menegaskan bahwa ketergantungan AS ini dapat menjadi hambatan besar yang membahayakan keberlanjutan produksi F-47.
Meskipun dihujani kritik dan upaya diskreditasi, pihak Angkatan Udara AS (USAF) tetap optimis.
Pejabat USAF menyatakan F-47 tetap menjadi prioritas utama untuk mempertahankan keunggulan udara di masa depan, dengan target penerbangan perdana pada tahun 2028. (RNS)

