Airbus menguji drone pencegat Bird of Prey yang dibekali rudal super ringan Mark I buatan Estonia

Airbus Bird of PreyAirbus DS

AIRSPACE REVIEW – Airbus Defence & Space mengungkapkan wahana nirawak pencegat drone Bird of Prey buatannya telah menyelesaikan penerbangan demonstrasi pertama di area pelatihan militer di Jerman utara pada 30 Maret 2026.

Demonstrasi tersebut dilakukan dalam kondisi misi yang realistis, di mana pesawat pencegat nirawak tersebut mencari, mendeteksi, dan mengklasifikasikan drone target secara otonom sebelum menyerangnya setelah mendapat otorisasi dari operator.

Saat uji coba, sistem yang dapat digunakan kembali ini, dilengkapi dengan dua rudal antidrone Mark I yang dikembangkan oleh perusahaan rintisan asal Estonia, Frankenburg Technologies.

Bird of Prey dirancang untuk menetralisir beberapa drone serang satu arah berukuran sedang dalam satu misi dengan biaya intersepsi relatif rendah.

Namun drone pencegat ini tidak dioptimalkan untuk menghadapi ancaman drone multicopter atau jenis FPV yang berukuran kecil.

Dalam misinya, sistem ini dapat melakukan pencarian, deteksi, dan klasifikasi secara otonom, sementara pelepasan senjata tetap berada di bawah kendali operator manusia.

Pendekatan yang melibatkan manusia ini relevan secara operasional karena menggabungkan akuisisi target otonom dengan otoritas penembakan terkontrol, sebuah model yang semakin disukai dalam sistem antidrone modern.

Penerbangan demonstrasi Bird of Prey terjadi setelah berlangsung sembilan bulan proyek dimulai. Pembuatan prototipenya didasarkan pada drone Airbus Do-DT25 yang dimodifikasi.

Untuk spesifikasinya, Bird of Prey memiliki bentang sayap 2,5 m, panjang 3,1 m, dan berat lepas landas maksimum (MTOW) 160 kg.

Sebagai tenaga penggerak drone adalah mesin jet kecil dan memiliki kecepatan maksimum sekitar 550 km/jam, dengan jangkauan operasional hingga 110 km.

Untuk versi produksi yang dijadwalkan beroperasi pada tahun 2027, drone akan membawa empat rudal Mark I, yang meluncur dengan kecepatan subsonik hingga jarak 1.500 m.

Rudal ini berukuran panjang 65 cm dan berat kurang dari 2 kg, menjadikannya salah satu rudal pencegat berpemandu teringan yang ada pada saat ini.

Rudal super ringan Mark I dilengkapi dengan hulu ledak fragmentasi yang dirancang untuk menetralisir target udara pada jarak hingga 2 km dan ketinggian sekitar 1.500 m.

Airbus mengatakan pihaknya berencana untuk melakukan uji penerbangan tambahan sepanjang tahun 2026 untuk lebih mematangkan sistemnya, dan diproduksi masal dijadwalkan pada awal 2027 untuk Angkatan Bersenjata Jerman dan sekutu NATO. (RBS)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *