Selain telah melahap lebih 50 kapal perang Iran, AS kini juga dengan mudah menghancurkan aset-aset militer udara Iran — Ini penyebabnya

C-130 -P3 - Il-76 Iran dihancurkan dengan mudah oleh ASVia X

AIRSPACE REVIEW – Sejumlah akun sumber intelijen terbuka (OSINT) membagikan cuplikan video penembakan dari udara aset-aset militer udara Iran, seperti pesawat C-130 Hercules, P-3 Orion, dan Ilyushin Il-76, yang dirilis oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) hari ini.

Serangan-serangan presisi AS dari udara terhadap “target-target diam” di permukaan ini, tampak begitu mudah dilakukan. Semua sasaran hancur dalam seketika.

Tak mengherankan bila dalam 10 hari kampanye militer Operation Epic Fury yang digelar sejak 28 Februari 2026, pasukan Trump telah berhasil melahap lebih dari 50 kapal perang Iran, termasuk kapal induk drone Shahid Bagheri dan kapal korvet rudal kelas Shahid Soleimani.

Serangan terhadap pesawat C-130, Il-76, dan P-3, selain pesawat-pesawat lainnya, memperlihatkan bahwa AS bertujuan untuk melumpuhkan kemampuan logistik udara Iran (C-130 dan Il-76) serta mengurangi kemampuan pengawasan maritim dan peringatan dini mereka di laut (P-3 Orion).

    Secara keseluruhan, hal ini menandai fase serangan udara yang sangat intensif untuk melemahkan kekuatan udara konvensional Iran dalam konflik yang sedang berlangsung.

    Kecepatan dan skala penghancuran aset militer Iran oleh Amerika Serikat dalam eskalasi Maret 2026 ini, tentu bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal.

    Pertanyaan kita, dengan kondisi seperti ini, secara terus menerus, pada akhirnya menimbulkan suatu pemikiran bahwa semua target diam, baik di laut seperti kapal perang permukaan, dan di darat seperti tank, kendaraan tempur, hingga sistem pertahanan udara yang berharga sangat mahal, hanya menjadi “santapan lezat” bagi bom maupun rudal presisi AS, melalui serangan udara yang tak dapat dicegah.

    Kondisi seperti ini tentu menjadi momok bagi para operator sistem persenjataan tersebut, di mana pun, sebab mereka hanya tinggal menunggu waktu saja untuk dihancurkan musuh.

    Analisis singkat yang dapat Airspace Review bagikan di sini, terkait keberhasilan AS dalam melumpuhkan aset-aset militer Iran tersebut dengan efektivitas yang sangat tinggi.

    Mengapa hal ini dapat dicapai? Tentu itu adalah kata kuncinya. Antara lain karena AS berhasil menguasai Dominasi Ruang Udara dan Peperangan Elektronik (EW).

    Dari pola-pola yang sudah digelar dalam beberapa operasi militer, termasuk yang terakhir di Venezuela, AS melakukan perencanaan dan penggelaran aset-aset militernya secara rapi dan matang.

    Sebelum rudal pertama diluncurkan sebagai pembuka serangan, AS dapat dipastikan telah melakukan serangan elektronik masif, yang tujuannya adalah untuk melumpuhkan radar musuh.

    Pesawat pengganggu sinyal seperti EA-18G Growler yang dikerahkan AS, mampu melumpuhkan sistem radar pertahanan udara dan komunikasi Iran. Hal ini membuat baterai rudal darat ke udara (SAM) Iran sulit mengunci target.

    Selain itu, AS juga mengerahkan jet-jet tempur generasi kelima seperti F-35 Lightning II, yang memungkinkan AS untuk masuk ke wilayah udara lawan tanpa terdeteksi, dan kemudian menghancurkan pusat komando dan kendali sebelum Iran sempat memberikan perintah perlawanan.

    Faktor lainnya, adalah penggunaan senjata presisi jarak jauh (Standoff Capability). AS tidak perlu mendekat untuk menghancurkan kapal atau pesawat di darat.

    Dengan rudal jelajah seperti Tomahawk, yang diluincurkan dari kapal selam maupun kapal perusah, dan selalu menjadi pembuka serangan, AS dapat menyasar target-target utama Iran dari jarak yang aman.

    AS juga mengandalkan rudal AGM-158 JASSM (Joint Air-to-Surface Standoff Missile) dari pembom strategis, yang memungkinkan penghancuran target dari jarak ratusan kilometer.

    AGM-158A (standar) misalnya, dapat menjangkau target dalam jarak hingga 370 km. AGM-158B (JASSM-ER) mampu menjangkau target hingga jarak 925 km, AGM-158C LRSAM (khusus untuk menarget kapal) mampu menjangkau target hingga jarak 560 km, dan bahkan AGM-158D JASSM-XR (Extreme Range) yang masih dalam pengembangan, dirancang mampu mencapai target sejauh 1.900 km.

    Faktor penyebab lainnya, karena AS meraih keunggulan dalam hal Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance (ISR), yang membuat AS mengetahui lokasi-lokasi persis setiap aset Iran yang menjadi target serangan.

    Pemantauan oleh satelit dan drone selama 24 jam, memastikan militer AS mengetahui kapan kapal Iran sedang berada di pelabuhan atau kapan pesawat sedang melakukan pengisian bahan bakar, atau kapan pesawat-pesawat ini dalam posisi diam/parkir.

    Itu antara lain analisis singkat mengapa aset-aset militer Iran berupa kapal perang dan pesawat dapat dengan mudah dihancurkan saat mereka dalam posisi diam di laut maupun di pangkalan udara.

    Intensitas serangan AS dalam Operasi Epic Fury, termasuk pengerahan gugus tempur kapal induk, menunjukkan bahwa AS tidak melakukan serangan peringatan, melainkan serangan penghancuran sistematis.

    Ketika sebuah kekuatan militer besar memutuskan untuk menggunakan seluruh aset penghancurnya secara simultan, pertahanan udara konvensional yang tidak terintegrasi secara modern akan kewalahan dalam hitungan jam. (RNS)

    One Reply to “Selain telah melahap lebih 50 kapal perang Iran, AS kini juga dengan mudah menghancurkan aset-aset militer udara Iran — Ini penyebabnya”

    1. 🤣itukan omdo Trump nah klu AL AU AD Iran lumpuh knp kapal induk kapal.perang as g berani masuk selat hormuz ? Iran masih mampu kirim drone rudal tiap hari ke pangkalan militer as di teluk dan ke israel itu bukti Trump itu pembohong yg g punya malu

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *