AIRSPACE REVIEW – Untuk pertama kalinya Iran terlihat menggunakan versi modifikasi dari amunisi jelajah Shahed-101, yang menampilkan perubahan struktural dan sistem propulsi listrik.
Perkembangan ini mencerminkan evolusi berkelanjutan dari drone kamikaze Iran, yang telah digunakan dalam konflik regional dan dalam perang Rusia melawan Ukraina.
Dilaporkan, drone tersebut menggunakan motor listrik yang menggerakkan baling-baling yang dipasang di bagian depan, sebuah konfigurasi yang berbeda dari drone Shahed sebelumnya.
Sebagian besar drone dalam keluarga Shahed menggunakan mesin piston bensin dengan baling-baling pendorong (pusher) dipasang di bagian belakang, dan menghasilkan suara khas yang mudah dikenali selama pengoperasian.
Konfigurasi baru ini dapat mengurangi jejak akustik dan termal sekaligus mengubah profil aerodinamis pesawat.
Drone baru ini mengadopsi desain sayap tetap kecil yang membentang, memungkinkannya menempuh jarak jauh sambil mempertahankan karakteristik penerbangan yang relatif stabil.
Bagian ekor drone menggunakan konfigurasi penstabil berbentuk X, yang membantu mengendalikan stabilitas selama penerbangan.
Drone tersebut juga menggunakan pendorong roket yang dipasang di bagian belakang badan pesawat, yang membantu saat peluncuran.
Booster semacam ini umumnya digunakan oleh drone untuk mempercepat saat lepas landas, terutama ketika diluncurkan dari rel berbasis darat atau peluncur bergerak.
Setelah booster habis terbakar, pesawat beralih ke penerbangan bertenaga menggunakan sistem propulsi utamanya.
Berat muatan drone Shahed-101 model baru ini belum diketahui, namun untuk jangkauannya diperkirakan mencapai 800 km. (RBS)


Iran memang hebat, bisa bantu Rusia, padahal 49 tahun di Embargo AS. Dengan keberanian dan kehebatan Iran, yang saya takutkan Iran di Bom Nuklir AS, sebagai mana sejarah Jepang di bom Atom AS. Tetapi Sahid untuk Iran karena Berani menjaga ke daulatan Negara. Jika kamu di serang serang balik lah Dia, AS atau Israil.
Mantab Ratan Israel dan as
Saya kira kalo kondisi seperti ini amerika ga bakal berani kirim nuklir ke iran secara langsung, kalo kita lihat momen dihancurkan nya jepang oleh Amerika, memang saat itu jepang sudah tidak memiliki aliansin yang masih bertahan (itali dan jerman sudah kalah) sementara jepang sendiri sedang berambisi memperluas wilayah s3cara besar2an, hingga saat itu memicu permusuhan dengan china dan rusia (terkait wilayah Manchuria). Yang ahirnya Amerika merasa tidak akan disalahkan negara lain ketika pake nuklir untuk menghancurkan jepang. Berbeda dengan saat ini, Rusia dan China + korsel ada di belakang Iran, amerika sendiri sempat bersitegang dengan sahabat 2 natonya terkait greenland (walaupun sudah akur), selain itu negara2 tetangga Iran yang notebennya sahabat ekonomi Amerika pasti akan panik jika nuklir dijatuhkan ke tetangga mereka… Kita liat aja kelanjutannya bagaimana…