Dassault mendapat pesanan untuk 220 jet tempur Rafale, tetapi menghadapi ketidakpastian anggaran untuk pesanan dalam negeri

Jalur perakitan akhir pesawat RafaleIstimewa

AIRSPACE REVIEW – Produsen jet tempur Rafale, Dassault Aviation, mengatakan telah mendapatkan pesanan untuk 220 unit Rafale, di mana 175 unit di antaranya adalah pesanan dari luar negeri dan hanya 45 unit pesanan dari dalam negeri.

Pada tahun 2025 lalu, Dassault berhasil memproduksi 26 unit jet ini, 11 di antaranya dikirimkan ke Angkatan Udara dan Antariksa Perancis (AAE).

Produksi yang lambat untuk kebutuhan dalam negeri disebabkan oleh kendala anggaran dari pemerintah. Hal ini secara langsung membatasi laju pengadaan domestik.

CEO Dassault Aviation Eric Trappier seperti diberitakan FlightGlobal, mengharapkan keputusan dari Pemerintah Prancis mengenai rencana pembelian batch baru Rafale untuk AAE, yakni pengadaan gelombang keenam.

Menurutnya, tingkat produksi Rafale yang lambat untuk AAE kemungkinan besar akan berlanjut selama dua hingga tiga tahun ke depan.

Pengiriman Rafale batch kelima untuk AAE diperkirakan akan selesai sekitar tahun 2030.

Dassault memiliki kapasitas untuk memproduksi lebih banyak Rafale, dengan target pada tahun 2026 sebanyak 28 unit. Kapasitas produksi akan ditingkatkan lagi menjadi 36 unit per tahun di tahun-tahun mendatang. Dengan catatan, pesawat yang dipesan untuk AAE harus dibayar tepat waktu menggunakan anggaran negara Prancis.

Jika anggaran negara terkendalan, Dassault tidak bisa mengirimkan pesawat ke mereka, meskipun pesawatnya sudah jadi.

Akhirnya, Dassault lebih memilih untuk mengirimkan Rafale ke pelanggan asing, termasuk Indonesia, yang pembayarannya sudah siap dan terjadwal. (RNS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *