AS (lagi-lagi) mengerahkan jet tempur F-15E Strike Eagle dari Inggris ke Timur Tengah, mengapa pesawat ini yang dipilih?

F-15EStrike EagleUSAF

AIRSPACE REVIEW – Amerika Serikat baru-baru ini mengumumkan telah mengirimkan sekitar selusin jet tempur F-15E Strike Eagle dari RAF Lakenheath di Inggris ke Timur Tengah.

Di saat yang bersamaan, gugus tempur kapal induk AS juga dikerahkan menuju wilayah tersebut dan ditafsirkan sebagai kemungkinan penguatan awal postur militer AS dalam menghadapi meningkatnya ketegangan dengan Iran.

Pergeseran tersebut menarik perhatian tepat pada saat kapal induk USS Abraham Lincoln (CVN-72) meninggalkan Pasifik Barat dan memulai perjalanannya melalui Selat Malaka, memperpendek waktu respons angkatan laut AS terhadap potensi skenario krisis di Teluk.

Berdasarkan data pemantauan penerbangan militer terbuka, jet F-15E pertama berangkat dari RAF Lakenheath pada pertengahan Januari menuju Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania.

Pangkalan tersebut dianggap sebagai titik strategis untuk operasi ekspedisi, baik karena kedekatannya dengan wilayah sensitif di Timur Tengah maupun infrastrukturnya yang mampu menerima pesawat serang berat dan mendukung misi jarak jauh.

Pengerahan jet tempur AS disertai dengan pesawat pendukung, seperti pesawat tanker KC-135 Stratotanker dan pesawat kargo C-17 Globemaster III, memastikan dukungan logistik bagi detasemen tersebut.

Terlepas dari peningkatan aktivitas militer yang terlihat jelas, para pejabat AS belum mengumumkan keputusan apa pun untuk melakukan operasi ofensif terhadap Iran.

Para pengamat juga menunjukkan bahwa sejauh ini belum ada pengerahan signifikan pesawat peringatan dini udara E-3G Sentry, komponen yang dianggap penting untuk mengoordinasikan kampanye udara berskala besar.

Yang jelas, pengerahan armada F-15E Stike Eagle ke Timur Tengah dan kedatangan kelompok serang kapal induk meningkatkan kesiapan militer AS, sebagai antisipasi terhadap berbagai pilihan politik dan militer yang akan diambil kemudian.

Mengapa F-15E?

Terkait pengerahan armada tempur F-15 Strike Eagle dari RAF Lakenheath ke Timur Tengah, menarik untuk kembali menyoroti mengapa jet tempur mesin ganda ini sering menjadi pilihan untuk misi-misi strategis, tanpa mengecualikan peran jet tempur lainnya.

Akun Defence Index menilai jet F-15 punya beragam keunggulan dibandingkan jet tempur lainnya. Itu pula sebabnya, yang dikerahkan bukan bukan F-16, F-35, atau F-22.

F-15E memiliki kapasitas muatan senjata maksimum 23.000 – 29.500 pon (10.433 kg – 13.381 kg) yang dibawa secara eksternal, sementara F-35 Lightning II berkapasitas muatan senjata 5.700 pon (2.585 kg) di ruang senjata internal untuk mempertahankan karakteristik silumannya.

F-35 memiliki kapasitas muatan senjata penuh 18.000 pon (8.165 kg), tapi ini termasuk persenjataan eksternal yang mengurangi kemampuan silumannya.

Sementara F-16 Block 70 memiliki kapasitas muatan senjata 15.200 pon (6.894 kg).

Pengerahan F-15E menyoroti preferensi untuk kemampuan serangan berat daripada kemampuan siluman, menandakan bahwa situasi mungkin memasuki fase yang lebih berbahaya.

Sebagai informasi tambahan, F-15E Strike Eagle pertama kali dibuat oleh McDonnell Douglas di tahun 1980, dan produksinya kemudian dilanjutkan oleh Boeing, setelah McDonnell Douglas melebur ke Boeing di tahun 1997.

Sukses di Berbagai Operasi Militer

Berbeda dengan varian F-15C/D Eagle yang dirancang untuk fungsi pertempuran udara ke udara (dominasi udara), F-15E Strike Eagle memiliki kemampuan multiperan dengan fokus keunggulan pada serangan darat (strike).

Pesawat ini telah membukukan rangkaian kesuksesan dalam berbagai operasi militer yang digelar AS.

F-15E mendapatkan debut tempurnya dalam Operasi Badai Gurun (1991) di Irak. Pesawat ini membuktikan keunggulannya sebagai platform serbaguna yang mampu beroperasi di malam hari dan cuaca buruk.

Misi utama Strike Eagle kala itu adalah mencari dan menghancurkan peluncur rudal Scud Irak. Pesawat ini melakukan operasi militer di malam hari menggunakan sistem LANTIRN (navigasi dan penargetan infra merah).

F-15E tercatat sebagai satu-satunya jet tempur dengan kemenangan udara ke udara yang unik, yaitu menghancurkan helikopter Mi-24 Hind Irak menggunakan bom laser GBU-10 seberat 2.000 pon (907 kg) saat helikopter tersebut sedang terbang.

Pada tahun 1993-1999, F-15E juga dilibatkan dalam Operation Deny Flight di Bosnia dan Operation Allied Force di Kosovo.

Jet tersebut digunakan untuk menghancurkan instalasi pertahanan udara, gudang amunisi, dan jembatan strategis milik Serbia dengan amunisi berpemandu presisi (smart bombs).

Di tengah ancaman rudal permukaan ke udara (SAM) yang sangat padat, F-15E mampu melakukan serangan mendalam ke wilayah lawan.

Di tahun 2001-2021, F-15E kembali dilibatkan dalam Operation Enduring Freedom di Afganistan. Di wilayah pegunungan yang sulit tersebut, F-15E menjadi tulang punggung dukungan udara jarak dekat (Close Air Support/CAS).

Berkat tangki bahan bakar tambahan (Conformal Fuel Tanks/CFT), F-15E bisa terbang berjam-jam menunggu panggilan dari pasukan darat untuk menghancurkan posisi musuh di gua atau lembah.

Di tahun 2002, Strike Eagle dikerahkan dalam Operation Anaconda. Pesawat ini berperan krusial dalam mendukung pasukan khusus AS selama pertempuran di Lembah Shah-i-Kot.

Di tahun berikutnya, 2003-2011, F-15E dikerahkan dalam Operation Iraqi Freedom di Irak. Tugasnya menghancurkan sisa-sisa kekuatan militer Saddam Hussein.

Dalam operasi tersebut, F-15E juga digunakan untuk melakukan pemburuan di area tertentu guna menghancurkan kolom tank dan kendaraan militer Irak sebelum mereka bisa mencapai medan tempur utama.

Selanjutnya, sejak 2014 hingga saat ini, F-15E dikerahkan dalam operasi melawan kelompok ISIS dan operasi kontra-terorisme di Suriah.

Pesawat digunakan untuk menghancurkan ratusan truk tanker minyak ISIS guna memutus aliran dana kelompok tersebut.

Dan yang terbaru, F-15E dikerahkan untuk memimpin serangan skala besar terhadap markas ISIS di Suriah menggunakan amunisi presisi guna menghancurkan target-target bernilai tinggi dalam Operation Hawkeye Strike, 2025-2026.

Tidak Pernah Tertembak?

Berbeda dengan F-15C/D Eagle yang memang berfungsi untuk dominasi udara, F-15E Strike Eagle nyaris tidak memiliki rekor kill di udara (air-to-air kill), kecuali yang disebutkan tadi, yaitu menjatuhkan heli Mi-24 Irak di udara dengan bom GBU-10.

Perlu ditekankan juga bahwa bila F-15C/D Eagle tidak pernah tertembak oleh musuh dan telah membukukan rekor kill 104:0 (menembak jatuh 104 target musuh di udara, dan nol tertembak musuh), maka F-15E Strike Eagle pernah dijatuhkan oleh musuh.

Tiga F-15E tercatat telah dijatuhkan musuh di medan tempur, dan satu lagi hilang karena kerusakan teknis.

Dalam Operation Desert Storm di Irak, dua F-15E tertembak jatuh oleh pertahanan udara Irak. Satu pesawat tertembak oleh artileri pertahanan udara (AAA) di dekat Basra dan menewaskan kedua awak pesawat (pilot dan operator senjata).

Kemudian satu pesawat F-15E lainnya tertembak jatuh oleh rudal permukaan ke udara (SAM) SA-2. Dalam kejadian ini kedua awak pesawat selamat namun menjadi tawanan perang.

Satu pesawat F-15E juga tertembak jatuh dalam Operation Iraqi Freedom. Pesawat tersebut jatuh karena tembakan dari darat saat melakukan misi serangan rendah. Penembakan ini juga menewaskan kedua awak pesawat.

Sementara satu pesaawt F-15E lainnya dinyatakan hilang dalam Operatio Odyssey Dawn di Libya tahun 2011. Pesawat yang jatuh ini bukan karena tembakan musuh, melainkan karena kegagalan mekanis/masalah teknis. Kedua kru berhasil melontarkan diri dan diselamatkan.

Paling Dekat ke Eropa

Dikerahkannya armada F-15E Strike Eagle dari RAF Lakenheath, tentunya didasari oleh beberapa pertimbangan.

RAF Lakenheath adalah satu-satunya hingga saat ini pangkalan di luar Amerika Serikat yang menempatkan skadron F-15E Strike Eagle secara permanen, yaitu Skadron 492 “Madhatters” dan Skadron 494 “Panthers”.

— Penting untuk diketahui bahwa AS akan menempatkan 36 jet F-15EX Eagle II Pangkalan Udara Kadena di Okinawa, Jepang mulai musim semi tahun 2026 bila tidak ada perubahan jadwal. Pesawat ini akan menggantikan peran 48 unit F-15C/D Eagle yang sudah dipensiunkan secara bertahap sejak 2022. —

Karena berada di Eropa, keberadaan armada F-15E ini jauh lebih dekat ke titik konflik di Timur Tengah, Afrika Utara, dan Eropa Timur dibandingkan pesawat yang harus terbang dari daratan Amerika Serikat.

Tidak mengherankan bila setiap kali terjadi ketegangan di Timur Tengah, seperti di Irak dan Suriah, yang dikerahkan adalah F-15E dari RAF Lakenheath, termasuk pengerahan ke Yordania baru-baru ini.

Efektivitas F-15E juga terbukti ketika pesawat ini pada April 2024 berhasil menembak jatuh lebih dari 70 drone Iran yang menuju Israel.

F-15E yang dikerahkan dari RAF Lakenheath juga adalah versi pesawat yang paling modern karena telah mendapatkan berbagai pembaruan teknologi dibandingkan skadron F-15E lainnya di dalam negeri AS.

F-15E yang ditempatkan di RAF Lakenheath menggunakan mesin F100-PW-229. Mesin ini lebih bertenaga dibandingkan dibandingkan versi lama F100-PW-220 yang digunakan F-15E di pangkalan lain.

Terakhir, sejak Januari 2025, F-15E yang ada di RAF Lakenheath juga mulai dilengkapi dengan EPAWSS (Eagle Passive/Active Warning Survivability System), yaitu sistem peperangan elektronik tercanggih yang membuat mereka mampu mendeteksi dan mengacak radar musuh dengan jauh lebih efektif.

Sistem tersebut diturunkan dari F-15EX Eagle II, varian terbaru dan tercanggih, penerus F-15C/D Eagle.

Jadi, sekarang paham kan, kenapa AS lebih memilih untuk mengerahkan armada F-15E Strike Eagle dari RAF Lakenheath ke Yordania. Yow(RNS)

2 Replies to “AS (lagi-lagi) mengerahkan jet tempur F-15E Strike Eagle dari Inggris ke Timur Tengah, mengapa pesawat ini yang dipilih?”

  1. Yah jelas klu yg diserang negara2 kecil kyk arab br pakai F35 tp klu serang negara lumayan canggih kyk iran pakai pesawat tua krn takut F35 tertembak jatuh mknya malu jd klu F15 F16 yg tertembak kan masih punya alasan pesawat tua .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *