AIRSPACE REVIEW – Komisi Uni Eropa telah memutuskan untuk mengalokasikan dana sekitar 15 juta euro sebagai bagian dari program Dana Pertahanan Eropa (EDF) untuk tahun 2026. Dana ini untuk membiaya fase pertama pengembangan pesawat tempur multiperan ringan berbiaya murah.
Proyek baru yang disebut Future Multirole Light Aircraft (FMLA) ini bertujuan untuk mengatasi kesenjangan di pasar Eropa untuk pesawat tempur ringan dan menawarkan platform yang terjangkau dan serbaguna untuk berbagai misi.
Pesawat ini terutama ditujukan untuk memberikan dukungan udara jarak dekat kepada unit darat di medan perang, melakukan pengintaian, mengoordinasikan serangan dan penentuan target, serta sebagai pencegat drone kamikaze dan drone pengintai.
Selain itu, FMLA dapat melakukan tugas-tugas sipil, termasuk keterlibatan dalam operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) serta patroli dan pemantauan wilayah perbatasan.
Sesuai rencana, FMLA akan ditenagai menggunakan mesin turboprop, yang dirancang untuk konsumsi bahan bakar rendah dan berdaya tahan tinggi. Pesawat memiliki berat lepas landas maksimum (MTOW) sekitar 7,5 ton.
Pesawat harus mampu beroperasi dari landasan pacu yang sederhana dan tidak dipersiapkan, serta berkemampuan STOL (lepas landas dan pendaratan jarak pendek) dengan panjang landasan tak lebih dari 450 m.
Proyek ini juga mencakup penggunaan material dan teknologi modern untuk mengurangi visibilitas radar, serta melengkapi pesawat dengan sistem radar dan elektronik canggih.
Komisi Uni Eropa menekankan bahwa, pada tahap pertama ini, pendanaan difokuskan pada penelitian konseptual dan justifikasi teknis-ekonomi, bukan pada produksi aktual.
Belum diketahui, pengembangan FMLA ini apakah akan menggunakan platform pesawat latih turboprop yang sudah ada seperti Pilatus PC-21 atau pesawat desain baru sama sekali.
Saat ini, Embraer dari Brasil tengah mengembangkan pesawat serang ringan A-29 Super Tucano rancangannya dengan kemampuan tambahan sebagai pencegat drone.
Begitu pula dengan Textron Amerika Serikat, juga mengembangkan pesawat serang ringan Beechcraft AT-6 Wolverine dengan kemampuan tambahan sebagai mencegat drone.
Sebagai tambahan informasi, pada akhir 1980-an, perusahaan BAE Inggris pernah meluncurkan konsep pesawat serang ringan dijuluki SABA (Small Agile Battlefield Aircraft).
Pesawat yang dibekali satu mesin turboprop model pusher ini, dirancang untuk memberi dukungan tembakan udara jarak dekat (CAS) dan sebagai pemburu helikopter serang canggih Blok Timur kala itu.
Berakhirnya Perang Dingin dan runtuhnya Uni Soviet pada Desember 1991, menyebabkan prorek SABA akhirnya dihentikan tanpa menghasilkan prototipe. (RBS)

