Kestrel ll, roket antitank murah terbaru Taiwan untuk menjebol kendaraan lapis baja China
CNA AIRSPACE REVIEW – Institut Sains & Teknologi Nasional Chung-Shan (NCSIST) mendemonstrasikan roket antilapis baja (anti-armor rocket) generasi baru rancangannya “Kestrel II” pada 19 Mei 2026.
Senjata bahu ini dirancang untuk menyerang kendaraan lapis baja yang kemungkinan didaratkan oleh pasukan amfibi China di pantai Taiwan bila terjadi invasi.
Kestrel II tidak dirancang untuk berduel langsung dengan tank pada jarak jauh, jangkauan efektifnya sekitar 500 m. Menembak pada jarak dekat akan meningkatkan probabilitas mengenai sasaran yang diburu.
Senjata infanteri ini cocok digunakan dalam penyergapan, terutama dari sisi samping dan belakang, menargetkan lapisan baja yang lebih tipis, termasuk kompartemen mesin dan roda penggerak.
Kestrel II telah mendapat peningkatan kinerja yang signifikan dibandingkan Kestrel terdahulu, yang mulai digunakan pada tahun 2015 oleh Angkatan Darat, Korps Marinir, dan Komando Polisi Militer Taiwan.
Secara keseluruhan dimensi Kestrel II lebih besar dibandingkan versi asli. Diameter roketnya meningkat dari 6,6 cm pada versi asli menjadi 9,6 cm, yang membutuhkan tabung peluncur lebih besar.
Panjangnya juga bertambah dari 110 cm menjadi 116 cm dan berat menjadi 7,3 kg, yang 2,3 kg lebih berat daripada pendahulunya.
Peningkatan bobot ini untuk meningkatkan daya tembus yang lebih kuat dan jarak jangkau lebih jauh (bertambah 100 m). Namun hulu ledaknya sama 3,5 kg.
Sistem baru ini juga menerima alat bidik pencitraan termal yang dipasang pada rel taktis, memberi prajurit kemampuan untuk menyerang di malam hari atau dalam cuaca buruk.
Setelah menembak, alat bidik termal dapat dilepas dan peluncur yang telah digunakan dapat dikembalikan ke pabrik untuk perbaikan dan pengisian ulang, meskipun desain awalnya hanya untuk sekali pakai.
Diperkiraan biaya per unit Kestrel lI berkisar antara 3.000 USD (setara Rp50 juta), jauh lebih murah dibandingkan rudal antitank (ATGM) jenis TOW yang bisa mencapai 192.000 USD (setara Rp3,4 miliar). (RBS)

