Ambisi maritim Ankara: Turkiye resmi memulai proyek jet tempur Hürjet versi kapal induk

HURJETIstimewa

AIRSPACE REVIEW – Turkiye kembali mengambil langkah besar dalam memperkuat strategi kemandirian industri pertahanan dan militer mereka. Ankara secara resmi telah memulai pengembangan versi naval (maritim) jet tempur ringan yang juga sebagai jet latih Hürjet.

Pesawat buatan Turkish Aerospace (TA) ini dirancang agar mampu beroperasi dari dek kapal induk.

Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari rencana jangka panjang Ankara untuk memperluas pengaruh dan kehadiran militernya di wilayah-wilayah krusial seperti Laut Mediterania dan Laut Hitam.

Program Hürjet versi kapal induk lahir di tengah momentum krusial bagi penerbangan Angkatan Laut Turkiye.

Seperti diketahui, Turkiye dikeluarkan dari program jet tempur siluman F-35 oleh Amerika Serikat pada tahun 2019 menyusul keputusan Ankara membeli sistem pertahanan udara S-400 Triumf dari Rusia.

Eksklusi tersebut memaksa Turkiye merombak total rencana operasional TCG Anadolu, kapal induk andalan Ankara, yang awalnya dirancang khusus untuk mengoperasikan jet tempur Short Take-Off and Vertical Landing (STOVL) F-35B.

Akhirnya, TCG Anadolu dialihfungsikan menjadi platform yang didominasi oleh kendaraan udara tak berawak (drone) bersenjata.

Kini, melalui proyek Hürjet naval, pemerintah Turki bertaruh besar untuk membangun kembali kemampuan penerbangan tempur berawak yang berbasis di laut.

Jet tempur ringan ini nantinya akan beroperasi berdampingan dengan drone tempur canggih Turkiye seperti Bayraktar TB3 dan Kızılelma.

Sinergi ini akan membentuk sebuah konsep hibrida operasional yang unik dan belum pernah ada sebelumnya di dalam aliansi NATO, yakni menggabungkan drone dan jet tempur berawak di atas satu kapal induk.

Hürjet sukses melakukan penerbangan perdana pada April 2023 dan dengan cepat menjadi salah satu program kedirgantaraan paling penting Turkiye.

Dikembangkan untuk menggantikan armada Northrop T-38 Talon yang sudah menua di Angkatan Udara Turkiye, Hürjet memiliki kemampuan supersonik dengan kecepatan maksimal melebihi Mach 1.4.

Jet ini ditenagai oleh mesin General Electric F404-GE-102, mesin yang juga andal menggerakkan pesawat tempur ternama seperti F/A-18 Hornet.

Untuk bertransformasi menjadi versi naval, Hürjet harus melalui proses rekayasa struktural yang signifikan meliputi penguatan struktur dan roda pendarat agar mampu menahan beban hantaman keras saat melakukan pendaratan dengan tingkat deselerasi tinggi di atas dek kapal.

Selain itu, pesawat harus dilengkapi dengan kait penahan, (arrester hook). Komponen krusial ini akan disematkan di bawah badan pesawat untuk menangkap kabel penahan di dek kapal induk, sehingga pesawat bisa berhenti dalam jarak yang sangat terbatas.

Hal penting lainnya, adalah perlindungan antikorosi. seluruh material pesawat, komponen mesin, sistem avionik, hingga sirkuit elektronik harus menjalani perawatan khusus guna menangkal korosi cepat akibat paparan air laut dan kelembapan ekstrem khas lingkungan maritim.

    Selain berfungsi sebagai pesawat latih bagi pilot-pilot angkatan laut masa depan, Hürjet versi kapal induk diproyeksikan untuk mengemban misi tempur riil, termasuk serangan ringan, dukungan udara dekat (Close Air Support/CAS), patroli bersenjata, serta pelatihan operasional untuk sistem peperangan modern berbasis jaringan. (RF)

    You may also like...

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *