Insinyur Rusia ciptakan penguat sinyal drone yang tetap aktif meski baterai kosong

Insinyur Rusia ciptakan penguat sinyal droneIstimewa

AIRSPACE REVIEW – Insinyur Rusia dilaporkan telah mengembangkan teknologi retransmitor (penguat sinyal/repeater) baru untuk drone yang memiliki kemampuan unik, di mana drone tetap beroperasi meskipun baterai utama perangkat telah habis atau dalam kondisi daya yang sangat rendah.

Inovasi ini dirancang untuk mengatasi salah satu kendala terbesar dalam operasi drone jarak jauh, yaitu hilangnya koneksi saat perangkat perantara kehabisan daya.

Media Rusia melaporkan, retransmitor dilengkapi dengan sistem manajemen energi yang sangat efisien. Ketika baterai mencapai titik kritis, perangkat secara otomatis mematikan fungsi non-esensial dan memokuskan sisa daya hanya pada pemrosesan sinyal radio.

Hal ini memungkinkan drone penyerang atau pengintai tetap terhubung dengan operator untuk waktu yang lebih lama, memberikan jendela waktu ekstra untuk menyelesaikan misi atau mendaratkan drone dengan aman.

Dengan penggunaan retransmitor ini, jangkauan taktis drone dapat meningkat secara signifikan.

Di medan perang, hambatan geografis atau gangguan elektronik (EW) sering kali memutus sinyal. Retransmitor akan bertindak sebagai “jembatan” yang memastikan aliran data dan kendali tetap stabil, bahkan dalam kondisi energi minimum.

Laporan menyebutkan bahwa perangkat ini dikembangkan sebagai respon atas kebutuhan mendesak di garis depan.

Penggunaan material yang lebih ringan dan integrasi komponen elektronik terbaru memungkinkan retransmitor ini dipasang pada berbagai jenis platform drone, mulai dari unit quadcopter kecil hingga drone sayap tetap (fixed-wing).

Selain aspek teknis, inovasi ini difokuskan pada penggunaan komponen yang mudah didapat namun dioptimalkan melalui perangkat lunak (software) khusus.

Pendekatan ini memungkinkan produksi massal dengan biaya yang relatif rendah, memberikan keunggulan kuantitas di lapangan.

Penemuan ini menandai langkah penting dalam evolusi peperangan elektronik dan navigasi otonom.

Dengan kemampuan “bekerja saat kritis”, risiko kehilangan drone mahal akibat masalah daya pada unit pendukung dapat diminimalisir secara drastis. (RNS)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *