AS kembangkan AIM-9X mini agar jet tempur siluman bisa bawa lebih banyak rudal
USAF AIRSPACE REVIEW – Angkatan Laut AS (US Navy) dan Angkatan Udara AS (US Air Force) dilaporkan tengah bekerja sama mengembangkan varian baru dari rudal udara ke udara populer, AIM-9X Sidewinder.
Versi yang disebut sebagai AIM-9X Compact Variant (CV) ini dirancang khusus agar dapat dimuat lebih banyak di dalam ruang senjata internal (internal weapons bay) jet tempur siluman dan drone masa depan.
Tujuan utama dari pengembangan varian kompak ini adalah meningkatkan kedalaman magasin (magazine depth).
Jet tempur siluman seperti F-35 atau F-22 harus membawa senjata di dalam perut pesawat agar tetap sulit terdeteksi radar. Namun, ruang tersebut sangat terbatas.
Dengan ukuran yang lebih ringkas, pesawat tempur diharapkan dapat membawa jumlah rudal yang lebih banyak dalam satu misi tanpa mengorbankan fitur silumannya.
Performa Lebih Tangguh
Meskipun ukurannya diperkecil, dokumen anggaran militer AS menunjukkan bahwa AIM-9X CV tidak akan mengorbankan kekuatan.
Sebaliknya, rudal ini menjanjikan sejumlah keunggulan, antara lain jangkauan yang lebih jauh, sehingga memungkinkan pilot menyerang musuh dari jarak yang lebih aman (standoff range).
Dari sisi performa kinematik juga ditingkatkan. Rudal Sidewinder mini mampu bermanuver yang lebih baik untuk mengejar target yang lincah.
Selein itu, rudal mengadopsi teknologi terbaru dalam hal perangkat keras dan lunak dari program System Improvement Plan IV.
Pengembangan ini juga sangat krusial bagi program Collaborative Combat Aircraft (CCA), drone pendamping jet tempur yang kini sedang dikembangkan AS.
Karena ukuran drone umumnya lebih kecil dari jet tempur berawak, rudal yang lebih ringkas sangat dibutuhkan agar drone tersebut tetap memiliki daya pukul yang mematikan.
US Navy telah mengajukan anggaran sebesar 83,3 juta USD (sekitar Rp1,3 triliun) dalam permintaan anggaran Tahun Fiskal 2027 untuk mengerjakan proyek ini.
Sementara itu, USAF berencana mulai mengucurkan dana pengembangan secara eksplisit pada Tahun Fiskal 2028.
Hingga saat ini, rincian teknis mengenai seberapa banyak pengurangan ukuran fisik rudal tersebut masih dirahasiakan.
Namun, langkah ini menandai pergeseran strategi AS untuk memastikan keunggulan di udara dalam menghadapi potensi konflik masa depan yang melibatkan teknologi siluman tingkat tinggi. (RNS)

