Hah, F-14 Tomcat akan dihidupkan lagi di AS?: Maverick Act sedang digodok di Kongres

F-14 TomcatUS Navy

AIRSPACE REVIEW – Selama dua dekade terakhir, gagasan untuk melihat jet tempur ikonik F-14 Tomcat terbang kembali di Amerika Serikat hanyalah sebuah angan-angan liar para penggemar penerbangan.

Namun, sebuah langkah legislatif mengejutkan yang dinamakan “Maverick Act” kini sedang digodok di Kongres AS, membuka peluang nyata bagi pesawat sayap lipat legendaris ini untuk kembali mengangkasa.

Laporan dari The War Zone (TWZ) mengungkapkan bahwa sebuah rancangan undang-undang (RUU) baru yang dipelopori oleh anggota DPR AS, Abe Hamadeh, bertujuan untuk menyelamatkan sisa-sisa terakhir kejayaan F-14 dari kehancuran.

Sejak pensiun pada tahun 2006, sebagian besar armada F-14 Angkatan Laut AS dihancurkan secara sistematis demi mencegah suku cadangnya jatuh ke tangan Iran —satu-satunya negara lain yang masih mengoperasikan Tomcat.

“Maverick Act” mengusulkan pengecualian khusus untuk menghibahkan tiga unit F-14D yang tersisa di pangkalan penyimpanan Davis-Monthan, Arizona, kepada U.S. Space & Rocket Center di Huntsville, Alabama.

Ketiga pesawat tersebut (Nomor Seri: 164341, 164602, dan 159437) adalah unit terakhir yang masih utuh dan tersimpan di “Boneyard”.

Hal yang paling menarik dari legislatif ini adalah klausul yang mewajibkan Sekretaris Angkatan Laut untuk menyediakan suku cadang berlebih agar setidaknya satu dari F-14D tersebut bisa mencapai status “flyable” (laik terbang) atau sebagai pajangan statis yang lengkap.

Meskipun RUU ini menekankan bahwa proses demiliterisasi akan tetap dilakukan dengan sangat ketat demi menjaga keamanan nasional, frasa “laik terbang” memberikan harapan besar bagi komunitas aviasi.

Jika berhasil, ini akan menjadi momen pertama dalam 20 tahun terakhir bagi publik AS untuk melihat langsung “The Big Fighter” melakukan manuver di langit dalam acara-acara kedirgantaraan.

Namun, menghidupkan kembali sang “Kucing Jantan” ini bukanlah perkara mudah. F-14 dikenal sebagai pesawat yang sangat haus perawatan (maintenance-heavy).

Beberapa tantangan utama yang harus dihadapi meliputi kelangkaan suku cadang. Sebagian besar peralatan pendukung pesawat ini telah dihancurkan bertahun-tahun lalu.

Tentunya, proyek baru ini akan sangat bergantung pada stok sisa yang masih dimiliki Angkatan Laut tanpa pengadaan baru.

Kedua, faktor biaya operasional. Tomcat membutuhkan biaya terbang yang sangat tinggi, belum lagi logistik untuk mesin General Electric F110 yang kompleks.

Yang ketiga, adalah menemukan kru darat dan pilot yang masih memiliki sertifikasi serta pengetahuan mendalam tentang sistem analog dan mekanis F-14 yang rumit adalah tantangan tersendiri.

Munculnya “Maverick Act” terjadi di tengah ketegangan militer antara AS dan Iran, dalam Operasi Epic Fury.

Serangan udara Israel baru-baru ini dilaporkan telah menghancurkan sejumlah besar armada F-14 Iran di Isfahan.

Dengan hancurnya armada Iran, kekhawatiran AS mengenai kebocoran teknologi F-14 mulai memudar, sehingga memberi ruang bagi pelestarian warisan pesawat ini di tanah kelahirannya.

Bagi banyak orang, F-14 Tomcat bukan sekadar mesin perang. Dia adalah simbol budaya populer yang mendunia melalui film Top Gun yang dibintangi aktor Tom Cruise.

Langkah untuk menerbangkannya kembali bukan bertujuan untuk memperkuat militer, melainkan untuk edukasi dan pelestarian sejarah kedirgantaraan yang tak ternilai.

Hingga saat ini, komunitas penerbangan masih menunggu apakah “Maverick Act” akan disahkan menjadi undang-undang atau tidak.

Jika terwujud, deru mesin kembar dan bayangan sayap menyapu milik Tomcat akan kembali menghiasi cakrawala Amerika, membuktikan bahwa legenda memang tidak pernah benar-benar “mati”. Yuk, kita nantikan… (RNS)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *