AIRSPACE REVIEW – Citra satelit terbaru mengungkap aktivitas signifikan di pangkalan udara rahasia dekat Malan, China, yang menjadi pusat pengembangan pesawat tanpa awak (drone) canggih milik Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLAAF).
Untuk pertama kalinya, dua drone siluman raksasa berdesain flying wing terlihat berada di luar hanggar secara bersamaan.
Menurut laporan The War Zone (TWZ), citra satelit yang diambil oleh Planet Labs pada Maret 2026 menunjukkan peningkatan drastis dalam uji coba teknologi kedirgantaraan China.
Pesawat pertama, yang dijuluki oleh pengamat sebagai “WZ-X” atau “The Monster of Malan”, memiliki rentang sayap yang sangat masif, yakni sekitar 173 kaki (sekitar 52,7 m).
Ukuran ini hampir setara dengan lebar pesawat pengebom siluman B-2 Spirit milik Amerika Serikat. Drone ini dirancang untuk misi ketinggian tinggi dan daya tahan lama (High-Altitude, Long-Endurance/HALE).
Pesawat kedua memiliki desain cranked-kite dengan rentang sayap sekitar 137 kaki (sekitar 41,7 m).
Meskipun lebih kecil dari WZ-X, drone ini diperkirakan memiliki bobot lepas landas yang lebih berat.
Para ahli meyakini bahwa varian ini difokuskan untuk misi intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR), namun juga memiliki kapasitas untuk dikembangkan menjadi drone tempur (UCAV) jarak jauh yang mampu membawa beban serangan berat.
Selain dua drone raksasa tersebut, citra satelit juga menangkap keberadaan drone lain yang menyerupai jet tempur siluman tanpa awak.
Desainnya yang tanpa ekor memiliki kemiripan dengan konsep pesawat tempur generasi keenam China, J-XDS.
Langkah ini menunjukkan bahwa China sedang mempercepat pengembangan ekosistem tempur udara masa depan, yang melibatkan kolaborasi antara pesawat berawak dan drone tempur otonom (serupa dengan inisiatif Collaborative Combat Aircraft/CCA di Amerika Serikat).
Kehadiran aset-aset strategis ini di pangkalan Malan mempertegas ambisi China untuk menyaingi dominasi udara AS.
Meski kemampuan tempur sebenarnya dari drone-drone ini masih misterius, kemajuan pesat dalam desain dan frekuensi uji coba menunjukkan bahwa China tidak lagi sekadar mengekor teknologi Barat, melainkan mulai memimpin dalam inovasi pesawat tanpa awak berukuran besar.
Hingga saat ini, pihak otoritas China belum memberikan pernyataan resmi terkait jenis maupun spesifikasi teknis dari pesawat-pesawat yang tertangkap kamera satelit tersebut. (PN)

