AIRSPACE REVIEW – Sebuah pencapaian besar diraih oleh industri pertahanan Australia setelah drone bawah laut canggih yang dinamai Speartooth secara resmi mulai digunakan oleh Angkatan Laut AS (US Navy).
Drone bertipe Large Uncrewed Undersea Vehicle (LUUV) ini merupakan hasil pengembangan perusahaan asal Melbourne, C2 Robotics.
Peresmian masuknya Speartooth ke layanan AS ditandai dengan upacara penamaan dan pengoperasian (commissioning) yang unik di Australia.
Upacara tersebut melibatkan lengan robot untuk memecahkan botol sampanye tradisional, yang mencerminkan filosofi operasional drone yang berbasis teknologi otonom.
CEO C2 Robotics, Troy Duggan, menyatakan bahwa ekspor ini membuktikan kematangan program Speartooth dan memperkuat kemitraan pertahanan antara Australia dan Amerika Serikat, khususnya di bawah kerangka AUKUS.
Speartooth dirancang dengan prinsip “Small, Smart, Many” (Kecil, Cerdas, Banyak).
Berbeda dengan kapal selam konvensional yang sangat mahal dan membutuhkan waktu lama untuk dibangun, Speartooth memiliki beberapa keunggulan strategis:
Desainnya memungkinkan produksi dalam jumlah besar dengan biaya yang jauh lebih terjangkau. Hal ini menjadikannya aset yang bersifat attritable (dapat dikorbankan dalam misi berisiko tinggi tanpa kerugian finansial yang melumpuhkan).
LUUV ini mampu menjalankan misi intelijen, pengawasan, pengintaian (ISR), hingga serangan kinetik di wilayah perairan yang sulit dijangkau.
Kelebihan lainnya adalah karena memiliki jejak logistik yang kecil, sehingga mudah disimpan dan diluncurkan dari berbagai lokasi.
Keputusan Angkatan Laut AS untuk mengakuisisi Speartooth didorong oleh kebutuhan mendesak akan “massa bawah laut” yang otonom untuk menghadapi tantangan keamanan di kawasan Indo-Pasifik.
Drone ini telah melewati berbagai uji coba ketat, termasuk dalam latihan militer skala besar seperti Talisman Sabre dan AUKUS Maritime Big Play.
Di Australia sendiri, Speartooth telah menjadi bagian inti dari struktur kekuatan Angkatan Pertahanan Australia (ADF) melalui Strategi Pertahanan Nasional 2026.
Drone ini akan beroperasi berdampingan dengan aset otonom lainnya seperti Ghost Shark (XLUUV) dan kapal permukaan Bluebottle.
Dengan masuknya Speartooth ke militer AS, Australia tidak hanya dikenal sebagai pembeli teknologi militer, tetapi kini memantapkan posisinya sebagai eksportir sistem maritim otonom yang sangat diperhitungkan di kancah global. (PN)

