AIRSPACE REVIEW – Perusahaan rintisan asal Amerika Serikat, Petrel Technologies, telah berhasil menguji coba drone AERO Sky rancangannya dengan melepaskan drone FPV (First Person View) bersenjata.
Kegiatan ini dilaksanakan bersama dengan Divisi Lintas Udara ke-101 Angkatan Darat AS (US Army) dari Pusat Pelatihan Kesiapan Gabungan (JRTC) di Fort Polk pekan lalu.
AERO Sky merupakan drone serbaguna untuk peran ISR (Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance), angkut logistik, hingga kemampuan serangan dengan mengangkut drone FPV bersenjata.
Latihan tersebut untuk memvalidasi sistem, sebagai drone induk (mothership) yang mampu meluncurkan drone serang dari jarak jauh tanpa memerlukan awak yang ditempatkan di garis depan.
Drone dengan harga terjangkau dan biaya operasional efisien ini menggabungkan kemampuan lepas landas dan pendaratan vertikal (VTOL) seperti helikopter dengan efisiensi penerbangan sayap tetap.
Dengan meluncurkan drone FPV bersenjata dari platform udara, akan memperluas jangkauan drone FPV tersebut melampaui jangkauan mereka sendiri.
Dalam operasinya, AERO Sky membawa sejumlah drone FPV ke area target, kemudian melepaskan mereka untuk serangan bunuh diri.
Bagi operator drone FPV, kini dapat melakukan serangan tidak perlu berada di dekat target. Begitu pula dengan pesawat induk, setelah melepaskan FPV akan segera menjauh.
Untuk spesifikasinya, AERO Sky memiliki bentang sayap 11 kaki (3,3 m) dan berat lepas landas maksimum (MTOW) sekitar 45 kg.
Drone dibekali sistem propulsi hibrida listrik, yang memilikidaya tahan enam hingga delapan jam tergantung pada konfigurasinya.
Sebagai mothership, drone mampu membawa muatan dengan kapasitas 22 kg yang dapat membawa beberapa drone serang FPV kecil.
Dalam konfigurasi ISR, drone membawa paket sensor elektro-optik/inframerah, dan peralatan relai komunikasi, yang dapat menyediakan pengintaian berkelanjutan.
Sedangkan dalam peran pasokan ulang, drone ini dapat memindahkan amunisi, baterai, barang-barang medis, atau peralatan misi ke tim yang terisolasi. (RBS)

