AIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) resmi mengambil langkah putar balik terkait rencana modernisasi alutsistanya.
Armada pesawat pengebom strategis Rockwell B-1B Lancer dan Northrop Grumman B-2 Spirit yang semula dijadwalkan pensiun pada awal 2030-an, kini dipastikan akan bertugas lebih lama.
Langkah ini diambil menyusul realitas transisi menuju pesawat pembom siluman generasi keenam, B-21 Raider, yang diperkirakan akan memakan waktu lebih lama dari jadwal semula.
Berdasarkan dokumen anggaran terbaru, USAF tidak lagi bersiap “mengandangkan” kedua pesawat legendaris tersebut, melainkan justru mengucurkan dana segar sebesar 1,7 miliar USD untuk peningkatan kemampuan (upgrade).
B-1B Lancer mendapatkan alokasi sekitar 342 juta USD untuk memastikan pembom konvensional ini tetap layak terbang setidaknya hingga tahun 2037.
Sementara B-2 Spirit mendapatkan investasi masif sebesar 1,35 miliar USD. Dana ini ditujukan untuk menjaga keunggulan teknologi siluman satu-satunya pembom nuklir operasional AS saat ini.
Keputusan untuk mempertahankan pengebom tua ini bukan tanpa alasan. Produksi B-21 Raider yang dilakukan secara bertahap menciptakan risiko kekosongan kapasitas serangan jika B-1 dan B-2 dipensiunkan terlalu cepat.
Sementara situasi geopolitik yang memanas, termasuk keterlibatan armada pengebom dalam operasi di Timur Tengah sepanjang tahun 2025, membuktikan bahwa kebutuhan akan pesawat ini masih sangat tinggi.
B-2, misalnya, tetap menjadi satu-satunya aset yang mampu mengirimkan bom penghancur bunker Massive Ordnance Penetrator (MOP) dalam misi siluman.
Dengan penundaan ini, USAF akan berada dalam posisi unik di mana mereka mengoperasikan empat jenis pembom strategis secara bersamaan dalam waktu yang cukup lama.
Tiga pengebom strategis lama yang masih akan dipertahankan meliputi B-52J Stratofortress (varian mesin baru yang akan bertahan hingga 2050-an), B-1B Lancer, dan B-2 Spirit.
Strategi ini mencerminkan sikap hati-hati Pentagon dalam menghadapi ketidakpastian global, sekaligus memastikan bahwa transisi menuju teknologi masa depan tidak mengorbankan kesiapan tempur saat ini. (RW)

