Tiga dekade pengabdian, Angkatan Udara Prancis rayakan 30 tahun operasi CN235 di Polinesia

CN235 PrancisAAE

AIRSPACE REVIEW – Pesawat angkut taktis CN235, yang dioperasikan oleh Angkatan Udara dan Antariksa Prancis (AAE), telah mencapai tonggak sejarah 30 tahun operasi pengabdiannya tanpa henti di Polinesia Prancis.

Hal ini memperkuat posisinya sebagai salah satu pilar logistik dan operasional utama kehadiran Prancis di Pasifik Selatan.

Perayaan dilaksanakan pada 15 April 2026 di Detasemen Udara 190 dihadiri oleh personel militer dan otoritas lokal.

Acara ini menyoroti tidak hanya umur panjang pesawat bermesin turboprop ganda ini, tetapi juga menandai peran pentingnya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yang tersebar di puluhan pulau terpencil.

Di wilayah yang ditandai dengan jarak samudra yang luas dan infrastruktur yang terbatas, CN235 telah menjadi jembatan udara vital antara wilayah terpencil dan pusat-pusat administrasi.

Diperkenalkan pada tahun 1990-an, pesawat hasil kerja sama CASA Spanyol dan IPTN (PTDI) ini dipilih karena kemampuannya untuk beroperasi di lingkungan yang keras dan sulit diakses.

Dikembangkan melalui kemitraan internasional, CN235 dirancang sebagai platform serbaguna yang mampu memenuhi berbagai misi dengan efisiensi tinggi.

Dengan kapasitas mengangkut lebih dari 40 penumpang atau sekitar 6 ton kargo, pesawat ini menonjol karena fleksibilitas operasionalnya.

Kabinnya memungkinkan konfigurasi ulang yang cepat untuk evakuasi medis udara, pengangkutan pasukan, atau misi kemanusiaan.

Tingkat adaptabilitas ini sangat relevan dalam skenario seperti Polinesia Prancis, di mana peristiwa cuaca ekstrem, seperti siklon tropis, membutuhkan respons yang cepat dan efisien.

Keunggulan penting lainnya adalah kemampuannya untuk lepas landas dan mendarat di landasan pacu pendek dan tidak siap, yang seringkali kurang dari 600 meter panjangnya.

Fitur ini memungkinkan pesawat untuk mengakses lapangan terbang terpencil, memastikan dukungan langsung kepada penduduk yang hampir sepenuhnya bergantung pada transportasi udara untuk akses ke layanan dasar.

Selama lebih dari tiga dekade, CN235 telah mengumpulkan sejarah operasional yang beragam di wilayah tersebut, termasuk misi pencarian dan penyelamatan, transportasi logistik, evakuasi medis, dan dukungan untuk operasi bantuan kemanusiaan.

Selain itu, pesawat ini juga memainkan peran penting dalam pengawasan maritim, berkontribusi pada pemantauan zona ekonomi eksklusif Prancis yang luas di Pasifik, salah satu yang terbesar di dunia.

Bahkan dengan kemajuan pesawat yang lebih modern di wilayah lain, CN235 terus menunjukkan relevansinya berkat kombinasi ketangguhan, biaya operasional yang rendah, dan kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan ekstrem.

Keberlangsungan layanannya di Polinesia Prancis merupakan cerminan langsung dari efisiensi proyek yang, puluhan tahun setelah diperkenalkan, tetap sepenuhnya selaras dengan tuntutan strategis dan operasional dari skenario saat ini.

Di wilayah Pasifik yang luas, unit ET 82 “Maine” menjadi operator utama yang mengandalkan ketangguhan pesawat ini untuk menjangkau landasan-landasan pendek dan terpencil.

Selain mendukung mobilitas militer, CN235 memainkan peran krusial dalam misi kemanusiaan, evakuasi medis, serta operasi pencarian dan penyelamatan (SAR).

Keandalan pesawat ini dalam menghadapi lingkungan ekstrem dengan tingkat korosi tinggi menjadikannya pilihan favorit banyak negara di berbagai belahan dunia.

Selain Prancis, Indonesia menggunakan CN235 sebagai salah satu tulang punggung angkutan udara dan patroli maritim. Di kawasan Asia Tenggara juga ada negara-negara yang mengoperasikan pesawat ini, yaitu Malaysia, Thailand, dan Filipina.

Di luar Asia Tenggara, CN235 memperkuat armada udara di berbagai negara lainnya, termasuk Korea Selatan, Turkiye, hingga Amerika Serikat, dan beberapa negara di Afrika. (RF)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *