AIRSPACE REVIEW – Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army) sedang menjajaki penggunaan drone tanker, termasuk MQ-25 Stingray milik Angkatan Laut AS, untuk mendukung armada pesawat tiltrotor terbaru mereka, MV-75 Cheyenne II.
Langkah ini diambil guna mengatasi keterbatasan jangkauan dan memperkuat kemampuan serbu udara jarak jauh di wilayah yang diperebutkan.
MV-75 Cheyenne II, yang dikembangkan dari prototipe Bell V-280 Valor, dirancang untuk menggantikan sebagian besar armada helikopter Black Hawk.
Dengan kecepatan dan jarak tempuh dua kali lipat dari helikopter konvensional, Cheyenne II menjadi andalan baru AS dalam menghadapi dinamika geopolitik di wilayah luas seperti Indo-Pasifik.
Meskipun memiliki jangkauan yang impresif, US Army menyadari bahwa mereka tidak memiliki pesawat tanker organik sendiri untuk pengisian bahan bakar di udara (AAR).
Selama ini, kegiatan AAR bergantung pada aset Angkatan Udara AS seperti KC-135 Stratotanker atau pesawat KC-130J Korps Marinir AS.
Penggunaan drone tanker seperti MQ-25 Stingray dinilai sebagai solusi strategis karena drone ini dapat beroperasi dari landasan pacu yang lebih pendek atau pangkalan depan yang berisiko tinggi bagi pesawat tanker berawak yang besar.
Penggundaan drone tanker juga mengurangi risiko bagi pilot dalam misi pengisian bahan bakar di zona berbahaya.
Kebutuhan akan pengisian bahan bakar di udara menjadi sangat krusial bagi varian khusus MV-75A, yang akan dioperasikan oleh Resimen Penerbangan Operasi Khusus ke-160 (160th SOAR) atau yang dikenal sebagai “Night Stalkers”.
Dalam ilustrasi teknis terbaru, varian ini dilengkapi dengan refueling probe (pipa pengisi bahan bakar) yang menonjol di bagian hidung, sensor radar canggih, dan sistem perlindungan diri tambahan.
Dengan dukungan drone tanker, pasukan elit ini dapat meluncurkan serangan jauh ke dalam wilayah musuh dari jarak aman di luar jangkauan pertahanan udara lawan.
MV-75 Cheyenne II dijadwalkan mulai memasuki layanan operasional pada tahun fiskal 2030, meskipun beberapa pejabat militer AS berupaya mempercepat jadwal tersebut ke tahun 2027 melalui pendanaan tambahan.
Integrasi antara drone tanker dan pesawat tiltrotor menandai pergeseran besar dalam doktrin perang darat AS, di mana kecepatan dan jarak tempuh kini menjadi faktor penentu utama untuk memenangkan pertempuran di masa depan. (RNS)

