AIRSPACE REVIEW – Asosiasi Penerbangan Bisnis Eropa (EBAA) secara mengejutkan mengumumkan pembatalan European Business Aviation Convention & Exhibition (EBACE) 2026.
Keputusan ini diambil hanya kurang dari 53 hari sebelum acara yang dijadwalkan berlangsung pada 2 hingga 4 Juni 2026 di Palexpo, Jenewa, Swiss.
Pihak penyelenggara menyatakan bahwa kurangnya “momentum pasar” menjadi faktor utama di balik keputusan berat ini.
Meski berbagai upaya telah dilakukan untuk merombak format acara —termasuk rencana mengembalikan static display pesawat yang ikonik, area jejaring baru, serta struktur biaya yang lebih kompetitif— partisipasi dari pelaku industri ternyata tidak mencapai target yang diharapkan.
EBAA menilai bahwa tanpa dukungan partisipasi yang cukup, pameran tahunan ini tidak lagi layak secara finansial maupun operasional untuk dijalankan tahun ini.
Dengan pembatalan ini, EBAA akan mengalihkan sumber dayanya ke tugas pokok organisasi, yakni advokasi industri, urusan regulasi, dan kebijakan penerbangan di Eropa.
CEO EBAA, Stefan Benz, dikutip Air Data News, mengakui bahwa keputusan ini sangat mengecewakan bagi peserta pameran dan mitra yang sudah berkomitmen, namun langkah ini dianggap paling bertanggung jawab untuk meminimalisir kerugian lebih lanjut.
Sejauh ini belum ada pernyataan resmi apakah EBACE akan kembali digelar pada tahun-tahun mendatang atau apakah format pameran tradisional ini akan digantikan sepenuhnya oleh platform baru.
Pembatalan ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi pameran dirgantara tradisional.
Perubahan pola belanja pemasaran dari produsen pesawat (OEM) besar, meningkatnya tekanan dari isu lingkungan (protes aktivis hijau), serta pergeseran menuju acara yang lebih tertarget disinyalir menjadi penyebab memudarnya daya tarik EBACE dalam beberapa tahun terakhir.
Beberapa OEM besar seperti Gulfstream dan Dassault mulai mengurangi partisipasi mereka di pameran besar.
Mereka lebih memilih mengadakan acara eksklusif sendiri atau private viewing untuk calon pembeli daripada hadir di pameran terbuka.
Selain itu, Jenewa sering menjadi sasaran protes aktivis lingkungan yang menargetkan jet pribadi. Hal ini menciptakan tekanan reputasi bagi peserta pameran dan penyelenggara di wilayah Eropa.
Mengirimkan pesawat dan tim ke pameran besar seperti EBACE membutuhkan biaya yang sangat masif.
Dengan kondisi ekonomi global yang tidak menentu, banyak perusahaan memilih untuk memangkas anggaran pemasaran mereka.
Menurunnya minat ini juga karena industri kini lebih fokus pada keberlanjutan (sustainability) dan teknologi digital daripada sekadar memamerkan fisik pesawat di lantai pameran yang formatnya dianggap mulai usang.
Sebelumnya, sejak pertama kali digelar pada tahun 2001, acara ini menjadi kiblat utama bagi industri penerbangan bisnis di Eropa.
Biasanya terdapat sekitar 50 unit pesawat yang dipamerkan di area luar ruangan Bandara Jenewa.
Pesawat yang hadir sangat beragam, mulai dari jet pribadi antarbenua berukuran besar seperti seri Gulfstream dan Bombardier, pesawat bermesin turboprop, hingga pesawat piston kecil.
Pada EBACE 2023 dan 2024, jumlah pesawat yang hadir tetap stabil di angka sekitar 50 unit. Namun, pada EBACE 2025, skala pameran sempat dikurangi secara signifikan dengan penghapusan total area static display pesawat atas pertimbangan efisiensi dan strategi penyelenggara.
Rencana awalnya, EBACE 2026 akan mengembalikan tradisi pameran pesawat di area statis tersebut untuk menarik kembali minat peserta, namun sayangnya acara tersebut justru harus dibatalkan sepenuhnya seperti informasi sebelumnya.
Pembatalan ini tentu menjadi kehilangan besar, mengingat biasanya ada lebih dari 250 hingga 300 eksibitor dari puluhan negara yang berkumpul di Palexpo setiap tahunnya. (RNS)

