Korea Utara menguji coba rudal balistik Hwasong-11 dengan senjata elektromagnetik

Korea Utara luncurkan rudal Hwasong-11 SRBMKCNA

AIRSPACE REVIEW – Korea Utara kembali melakukan serangkaian uji coba senjata strategis yang dirancang khusus untuk melumpuhkan infrastruktur militer dan jaringan komunikasi Amerika Serikat serta Korea Selatan.

Dalam uji coba ini, Pyongyang memperkenalkan paket serangan terpadu yang melibatkan rudal balistik jarak pendek (SRBM) Hwasong-11.

Rudal ini dilengkapi dengan hulu ledak klaster, bom pemadaman (blackout bomb), dan senjata elektromagnetik (EMP).

Uji coba yang berlangsung dari tanggal 6 hingga 8 April ini menunjukkan ambisi Korea Utara untuk melumpuhkan kekuatan udara sekutu sejak menit-menit pertama konflik pecah.

Sistem senjata baru ini tidak hanya mengandalkan daya ledak fisik, tetapi juga kemampuan “soft-kill” yang menargetkan sistem saraf digital lawan.

Rudal Hwasong-11 (varian dari keluarga KN-23) mampu menyebarkan subamunisi di area seluas 6,5 hingga 7 hektar.

Target utamanya adalah landasan pacu pesawat, tumpukan amunisi, dan kendaraan militer di pangkalan udara.

Senjata ini menyebarkan filamen konduktif di atas peralatan tegangan tinggi untuk memicu korsleting massal. Hal ini dapat mematikan jaringan listrik (black out) pangkalan militer tanpa harus menghancurkan gedung secara fisik.

Berbeda dengan EMP nuklir, Hwasing-11 menggunakan gelombang mikro bertenaga tinggi untuk merusak atau mengacaukan sirkuit elektronik pada radar, sistem kendali tembak, pusat data, dan jet tempur canggih seperti F-35A.

Para analis militer menilai bahwa langkah ini diambil karena Korea Utara menyadari bahwa mereka tidak bisa menandingi teknologi siluman dan pertahanan udara AS-Korsel secara simetris.

Dengan menyerang sistem kelistrikan dan elektronik, Pyongyang berharap dapat menciptakan kelumpuhan operasional, menghambat mobilisasi pasukan, dan mengacaukan proses pengambilan keputusan sekutu.

Rudal Hwasong-11 memiliki lintasan “quasi-ballistic” yang sulit dicegat oleh sistem pertahanan rudal standar.

Hal ini memberikan fleksibilitas taktis bagi Korea Utara untuk mengirimkan hulu ledak konvensional maupun non-konvensional secara efektif.

Langkah Korea Utara ini menambah panas persaingan teknologi senjata di kawasan.

Sebelumnya, Korea Selatan juga telah mengembangkan bom grafite untuk melumpuhkan jaringan listrik, sementara Rusia dan Amerika Serikat sudah lebih dulu memiliki konsep serupa seperti sistem CHAMP milik AS. (RNS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *