“King Dedede” di garis depan: Karakter Nintendo menghiasi hidung pesawat A-10 AS
CENTCOM AIRSPACE REVIEW – Muncul pemandangan unik di tengah ketegangan tinggi di Timur Tengah. Armada jet serang A-10 Thunderbolt II milik Angkatan Udara AS (USAF) yang dikerahkan dalam Operasi Epic Fury tertangkap kamera mengusung identitas baru yang tak biasa: julukan khas karakter ikonik Nintendo.
Foto-foto terbaru yang dirilis oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) tersebut mengungkap bahwa beberapa pesawat “Warthog” kini memiliki nama panggilan (nose art) seperti “King Dedede” dari waralaba Kirby dan “Toad” dari semesta Super Mario.
Meski tampak jenaka, kehadiran mereka di Selat Hormuz adalah urusan serius.
Tradisi mengecat nama atau simbol pada badan pesawat ini merupakan cara awak pesawat memperkuat moral dan identitas unit di tengah misi intensitas tinggi yang melelahkan.
Dalam konferensi pers di Pentagon, Komandan Angkatan Udara ke-9 (AFCENT) Mayor Jenderal Dan Caine mengonfirmasi bahwa A-10 kini memainkan peran non-konvensional sebagai aset serangan maritim di sayap selatan wilayah operasi.
Fokus utamanya adalah menetralisir kapal cepat bersenjata (FAC/FIAC) milik Iran yang kerap menebar ancaman ranjau dan gangguan terhadap kapal komersial di jalur minyak global tersebut.
A-10 dinilai sangat efektif untuk peran tersebut karena mampu bertahan lama di atas area pertempuran untuk memantau pergerakan lawan.
Meriam raksasanya, GAU-8/A Avenger 30 mm, dan senjata berpemandu presisi miliknya adalah mimpi buruk bagi target ringan dan bergerak cepat yang sulit ditangani oleh jet tempur supersonik.
Kemampuannya terbang rendah memberikan keunggulan visual dan taktis dalam mengidentifikasi ancaman di permukaan laut.
Kinerja impresif di Selat Hormuz ini kembali memicu perdebatan mengenai masa depan sang “Babi Hutan”.
Meski sempat direncanakan untuk dipensiunkan secara bertahap, fleksibilitas A-10 dalam skenario maritim yang kompleks membuktikan bahwa platform veteran ini masih memiliki taji yang relevan.
Di tangan para pilot yang terinspirasi budaya pop ini, A-10 menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar relik masa lalu, melainkan predator laut yang tetap mematikan. (RNS)

