Qatar menangkis lebih dari 200 rudal dan drone Iran

Shahed-136 dronesIstimewa

AIRSPACE REVIEW – Selain mengklaim telah menjatuhkan dua jet serang darat Su-24 (NATO: Fencer) Iran, Kementerian Pertahanan Qatar mengatakan berhasil menangkis lebih dari 200 rudal dan drone Iran dalam konflik yang meningkat di Teluk.

Kementerian tersebut, pada 3 Maret, mengatakan dua rudal balistik terdeteksi dan dihancurkan sebelum memasuki wilayah udara Qatar.

Angkatan Udara Qatar (QEAF) mengonfirmasi bahwa jet tempurnya secara langsung turut terlibat dalam pertempuran yang mengakibatkan jatuhnya dua pesawat Su-24 Iran pada tanggal 2 Maret 2026, serta pencegatan tujuh rudal balistik dan lima drone pada hari yang sama.

Menurut pemerintah, semua vektor musuh dinetralisir sebelum mencapai target strategis atau daerah berpenduduk, termasuk fasilitas energi dan infrastruktur penting.

Sementara itu, di Uni Emirat Arab, Kementerian Pertahanan UEA mengatakan bahwa sejak awal eskalasi, dilaporkan 174 rudal balistik telah terdeteksi, dengan 161 dicegat dan 13 jatuh ke laut. Negara itu juga melaporkan telah mengidentifikasi delapan rudal jelajah, yang semuanya hancur di udara.

Statistik yang paling mencolok berkaitan dengan penggunaan besar-besaran pesawat tanpa awak atau drone. Pasukan Emirat melaporkan mendeteksi 689 drone, di mana 645 di antaranya berhasil dicegat.

Sementara sebanyak 44 drone lainnya menghantam wilayah nasional, menyebabkan kerusakan lokal dan, menurut pihak berwenang, menimbulkan korban jiwa di kalangan warga sipil.

Meskipun demikian, pemerintah mengklaim bahwa sebagian besar ancaman telah dihancurkan sebelum mencapai pusat kota atau instalasi strategis.

Serangan ini menggabungkan rudal balistik jarak menengah, rudal jelajah, dan sejumlah besar drone dalam strategi yang bertujuan untuk melumpuhkan pertahanan udara.

Jenis serangan multi-vektor ini berupaya untuk mengurangi persediaan pencegat dan mengeksploitasi celah potensial dalam sistem radar terintegrasi, peperangan elektronik, dan pertahanan rudal.

Besarnya jumlah drone yang digunakan menunjukkan penggunaan platform serangan berbiaya rendah, serupa dengan model yang banyak digunakan dalam konflik baru-baru ini di Timur Tengah dan Eropa Timur.

Meskipun banyak yang ditembak jatuh, beberapa berhasil mengenai sasaran, menyoroti tantangan yang ditimbulkan oleh kawanan drone yang terkoordinasi terhadap sistem pertahanan tradisional.

Eskalasi tersebut secara signifikan meningkatkan tingkat kewaspadaan di kawasan itu dan memperkuat kerja sama antar negara-negara Teluk dalam pertahanan udara terpadu.

Intensitas serangan dan jumlah intersepsi yang tercatat dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan bahwa sistem pertahanan kawasan tersebut telah menghadapi salah satu ujian operasional terbesar dalam dekade terakhir, dalam skenario strategis yang semakin ditandai oleh ancaman simultan dengan kompleksitas teknologi tinggi. (RNS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *