Indonesia akan memiliki Skadron Agresor MiG-29C/UB untuk pelatihan tempur udara?

Indonesia akan memiliki Skadron Agresor MiG-29Leonardo, Istimewa

AIRSPACE REVIEW – Melalui unggahannya di Linkedin hari ini, perusahaan manufaktur pertahanan dan antariksa, PT E-System Solutions FZ (PT ESS) mengumumkan akan menyediakan Skadron Agresor yang sangat dibutuhkan untuk pelatihan tempur udara.

Dikatakan bahwa PT ESS bekerja sama dengan Leonardo untuk memodernisasi sistem pelatihan pesawat TNI AU dan unit helikopter TNI AD.

Langkah-langkah yang dilakukan antara lain adalah dengan pengadaan pesawat latih tempur M-346F Block 20 sebagai platform Lead-In Fighter Trainer (LIFT). Pesawat ini akan digunakan untuk melatih pilot muda agar siap menerbangkan pesawat generasi 4+ dan 5.

Yang kedua, adalah menyediakan Skadron Agresor pertama, sebagai skadron khusus untuk simulasi musuh (Aggressor Squadron) yang terdiri dari campuran pesawat MiG-29C/UB hasil modernisasi, dan target udara nirawak (Unmanned High Subsonic Aerial Target).

Yang ketiga, adalah sistem pelatihan integrasi. Proyek ini mencakup simulasi darat penuh, dukungan logistik, dan integrasi teknologi digital untuk mengajarkan taktik pertempuran udara yang kompleks.

Langkah ini, tulis PT ESS, merupakan bagian dari rencana besar modernisasi pertahanan yang dimulai sejak masa kepemimpinan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto lima tahun lalu dan kini dilanjutkan oleh Menhan Sjafrie Sjamsoeddin.

Hal ini menyoroti kebutuhan akan solusi sistem pelatihan lanjutan yang mampu melatih pilot muda secara efektif dan hemat biaya untuk menerbangkan dan mengembangkan taktik yang terkait dengan pengenalan fungsi tempur baru yang terkait dengan platform tempur canggih tersebut.

Red Flag Indonesia?

Menarik mencermati rencana penyediaan (pembentukan?) “Skadron Agresor” atau yang diposisikan sebagai skadron musuh dalam latihan tempur udara.

Di dunia penerbangan militer, memang dikenal Aggressor Squadron atau Adversary Squadron yang bertugas memerankan “musuh” dalam latihan tempur udara guna memberikan pengalaman yang realistis bagi para penerbang tempur.

Skadron ini akan memerankan mandat sebagai “ancaman regional”.

Dengan menggunakan MiG-29, pilot TNI AU diharapkan bisa berlatih menghadapi pesawat yang memiliki karakteristik manuver, siluet visual, dan tanda radar yang mirip dengan potensi ancaman yang diperankan.

Skadron musuh akan menjadi partner dalam melatih taktik Dissimilar Air Combat Training (DACT), yaitu pelatihan duel dua menggunakan jenis pesawat tempur yang berbeda. MiG-29, dalam hal ini, dikenal sebagai salah satu pesawat tempur yang lincah dalam pertempuran udara jarak dekat.

Pilot-pilot pesawat F-16 dan Rafale, yang menjadi bagian dari kekuatan TNI AU, nantinya dapat belajar bagaimana cara mengalahkan pesawat yang memiliki karakteristik berbeda dari yang mereka terbangkan sehari-hari.

Sementara untuk uji coba integrasi Manned-Unmanned (MUM-T), maka Skadron Agresor akan dikombinasikan dengan drone, yang juga memerankan diri sebagai musuh bagi pesawat TNI AU.

Pilot MiG-29 akan bertindak sebagai “komandan” di udara yang mengarahkan target-target nirawak untuk mengepung atau mengelabui pilot TNI AU.

Cara tersebut diharapkan dapat melatih penerbang tempur TNI AU untuk menghadapi perang modern di mana musuh tidak hanya datang menggunakan jet tempur berawak, melainkan juga menggunakan kawanan drone (swarms).

Sejatinya, Skadron Agresor akan mengembangkan taktik serangan musuh yang harus dihadapi oleh para penerbang tempur TNI AU di udara.

Airspace Review mencatat, secara teori konsep ini bagus, namun tidak bersifat instan untuk diterapkan. Skadron Agresor perlu dibangun secara intensif sesuai tujuan awal pembentukannya. Atau yang dihadrikan adalah Skadron Agresor dari perusahaan swasta?

Sebagai tambahan informasi, dua negara tetangga Indonesia, yaitu Singapura dan Australia telah mengaplikasikan Skadron Agresor untuk pelatihan pilot-pilot angkatan udaranya.

Angkatan Udara Singapura (RSAF) sejak tahun 2020 menggunakan pesawat tempur garis depan mereka yang berperan sebagai musuh, yaitu 140 Squadron “Osprey”.

Skadron tertua di RSAF tersebut diubah menjadi skadron hibrid dengan mengoperasikan campuran F-16C/D dan F-15SG yang didedikasikan untuk peran agresor.

Karena pilot Singapura sangat sering berlatih di luar negeri, seperti dalam latihan Red Flag di Amerika Serikat, mereka memiliki instruktur yang sangat terlatih untuk meniru taktik pesawat tempur China atau Rusia menggunakan parameter pesawat F-16 dan F-15 mereka.

Untuk latihan tingkat dasar hingga menengah, Singapura terkadang juga menyewa perusahaan sipil seperti Draken International saat melakukan pelatihan di luar negeri.

Sementara untuk Angkatan Udara Australia (RAAF), menyerahkan peran “musuh” kepada perusahaan swasta agar pilot RAAF bisa fokus sepenuhnya pada taktik penyerangan.

Dalam latihan besar seperti Exercise Diamond Shield, RAAF sering mendatangkan skadron agresor asli dari Angkatan Udara AS (USAF), seperti 18th Aggressor Squadron yang menerbangkan F-16 dengan cat kamuflase ala Rusia.

RAAF juga menggunakan jasa Air Affairs Australia, anak perusahaan QineitiQ, yang mengoperasikan pesawat Learjet yang telah dimodifikasi secara khusus.

Pesawat tersebut dilengkapi dengan perangkat elektronik canggih untuk menyimulasikan serangan rudal musuh atau serangan elektronik (jamming).

Selain itu, RAAF juga menggunakan Skadron Latih 76 dan 79 yang mengoperasikan jet latih BAE Hawk 127 untuk berperan sebagai agresor dalam latihan duel udara jarak dekat melawan F-35A atau F/A-18F Super Hornet.

Intinya, pembentukan Skadron Agresor yang didedikasikan secara khusus sebagai skadron musuh boleh-boleh saja sebagai salah satu rencana yang maju.

Namun perlu dipikirkan bahwa dengan pembentukan skadron ini akan berimbas pada pengeluaran yang lebih besar dari sisi perawatan, pengembangan, dan pembangunan kekuatan udara yang harus didukung dengan komitmen anggaran negara.

Kekhawatiran terbesar, jangan sampai niat ingin “macam-macam” tapi malah jadi bumerang karena “mangkrak” di tengah jalan akibat cekak anggaran. Semoga tidak begitu. (RNS)

3 Replies to “Indonesia akan memiliki Skadron Agresor MiG-29C/UB untuk pelatihan tempur udara?”

  1. MiG-29? Tak salah baca nih 😲 jika ingin bentuk Skuadron Agresor apakah harus beli MiG-29C/UB walau hasil modernisasi? Tak bisakah andalkan jenis pespur yang dimiliki? 🤔 kasus F-15EX jadi pelajaran berharga betapa ambisiusnya pengadaannya hingga terasa pahit di akhir 😅

  2. mendingan beli F35 sajalah 6 unit chukup!
    jenis ini lebih cocok sebagai peran musuh dlm squadron aggresor,
    karakter silumannya bisa jadi pembelajaran penting bagi pilot tempur kita di era pespur tetangga sebelah dan selatan yg operasikan 5th generation

  3. Baiknya sebagian M-346 ini yg jadi agresor. Karena skuadron latih, pilot utama tentunya adalah para instruktur. Sebagian besar tetap buat melatih pilot baru terbang, sebagian jadi agresor untuk melatih pilot garis depan. Toh pesawat agresor gak perlu banyak. Jadi gak perlu investasi pesawat lagi, yg akan menambah beban logistik. Lagipula, selain lincah, perangkat EW di M-346 Block 20 sudah sangat canggih. Jadi sekalian bisa buat melatih pilot garis depan dalam perang elektronik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *