AIRSPACE REVIEW – Kroasia kini tak lagi mengandalkan bantuan dari aliasni negara NATO untuk menjaga ruang udara negaranya. Beroperasinya armada jet tempur Dassault Rafale, telah menggantikan peran armada MiG-21 tua yang sudah dipensiunkan.
Langkah ini menandai kembalinya kemampuan pengawasan, identifikasi, dan respons 24/7 Kroasia.
Kementerian Pertahanan Kroasia menyatakan, kesiapan penuh pesawat tempur Rafale telah mengakhiri periode transisi yang dimulai dengan penghentian penggunaan MiG-21 buatan Soviet tahun 2024 lalu.
Jatuhnya sebuah pesawat MiG-21 dalam kecelakaan pada Desember 2022, telah mempercepat keputusan Zagreb untuk beralih ke platform jet tempur modern dari Prancis.
Selama fase tersebut, Kroasia mengandalkan dukungan langsung dari sekutu NATO, yaitu dukungan dari Italia yang megnerahkan jet tempur Eurofighter Typhoon dari pangkalan udaranya, serta jet Gripen yang dikerahkan Hungaria dari pangkalan udaranya untuk melakukan misi patroli udara menjaga wilayah Kroasia.
Dukungan bantuan patroli udara tersebut sering disebut oleh pejabat NATO sebagai contoh praktis solidaritas dan interoperabilitas antarnegara anggota, terutama dalam konteks patroli udara di masa damai.
Pengaktifan kembali misi patroli udara oleh jet tempur Rafale Kroasia, dimungkinkan setelah selesainya seluruh proses pelatihan, sertifikasi, dan integrasi operasional Skadron Tempur ke-191. Ini adalah satu-satunya skadron tempur yang dimiliki Angkatan Udara Kroasia saat ini.
Proses tersebut tidak hanya melibatkan pelatihan pilot, tetapi juga pelatihan tim pemeliharaan, personel teknis, pengendali pertahanan udara, dan struktur komando, untuk memastikan kompatibilitas penuh dengan standar NATO dan jaringan komando dan kendali.
Latihan baru-baru ini menunjukkan bahwa Skadron Tempur ke-191 Kroasia sudah beroperasi sesuai dengan konsep penggunaan modern, termasuk kesiapan tinggi, kemampuan melakukan sorti cepat, dan integrasi ke dalam lingkungan peperangan yang terhubung jaringan. Dengan begitu, skadron ini telah dinyatakan siap beroperasi penuh.
Akuisisi 12 jet tempur Rafale F3R (F3-R), senilai 1 miliar euro, merupakan investasi tunggal terbesar yang pernah dilakukan oleh Kroasia sejak kemerdekaannya dari Yugoslavia pada tahun 1991.
Kontrak pengadaan Rafale F3R dari Prancis ditandatangani Kroasia pada November 2021, mencakup 12 pesawat, paket pelatihan, dukungan logistik, suku cadang, dan sistem pendukung.
Bagi Angkatan Udara Kroasia, Rafale mewakili lompatan teknologi hampir dua generasi dibandingkan dengan MiG-21.
Kroasia menerima pengiriman Rafale yang dipercepat, di mana pesawat yang dibeli Kroasia ini diambil dari inventori Angkatan Udara dan Antariksa Prancis. Pesawat ini merupakan buatan tahun 2005 hingga tahun 2013.
Enam pesawat tempur pertama tiba di Kroasia pada 25 April 2024. Sementara pesawat terakhir, mendarat di Zagreb pada 25 April 2025.
Skadron ke-191 mengoperasikan sepuluh Rafale EC berkursi tunggal dan dua Rafale DC berkursi tandem. Kode F3R untuk Rafale Kroasia kemudian diganti menjadi C3R.
Konfigurasi jet tempur Rafale Kroasia dapat dikatakan yang tercanggih di kawasan Balkan. Pesawat ini menawarkan kemampuan yang jauh lebih unggul dalam misi udara ke udara, udara ke darat, dan kesadaran situasional.
Meski demikian, Zagreb sudah merencanakan langkah selanjutnya, yakni akan memodernisasi seluruh armadanya ini ke varian yang lebih canggih lagi, yaitu Rafale F4.
Standar F4 memiliki peningkatan konektivitas, sensor, sistem perlindungan diri, dan integrasi senjata, serta kapasitas pemrosesan yang lebih besar dan berbagi data secara waktu nyata. (RNS)

