Siasati peperangan elektronik, China sedang mempelajari jet tempur yang mampu memanfaatkan energi dari radar musuh

J-20 ChinaCreative Commons

AIRSPACE REVIEW – Para spesialis dari China dilaporkan sedang mempelajari jet tempur yang dapat mengubah menyerap, memanipulasi, dan bahkan menggunakan kembali energi elektromagnetik yang dipancarkan oleh radar dan sistem komunikasi musuh menjadi aset potensial.

Gagasan tersebut dipresentasikan dalam sebuah makalah akademis yang menganalisis penggunaan permukaan pintar yang dapat dikonfigurasi ulang, dengan sebutan akronim RIS.

RIS adalah struktur datar yang tersusun dari ratusan atau ribuan elemen kecil yang dapat diprogram dan mampu mengendalikan gelombang elektromagnetik musuh dengan presisi tinggi.

Tidak seperti teknik siluman klasik yang hanya terdiri dari lapisan penyerap, permukaan baru ini dapat disesuaikan secara elektronik secara waktu nyata untuk menyerap dan kemudian memodifikasi sinyal radar.

Dikatakan bahwa setiap elemen permukaan dapat secara independen mengubah respons elektromagnetik ketika mengenai pesawat.

Sebagian energi tersebut dapat dialihkan untuk mengurangi jejak radar, sementara sebagian lainnya dapat diubah menjadi listrik yang dapat digunakan.

Studi tersebut menyoroti bahwa ruang udara modern semakin jenuh dengan emisi elektromagnetik. Radar pengawasan, sistem pertahanan udara, tautan data militer, komunikasi satelit, dan jaringan telekomunikasi sipil menciptakan lingkungan sinyal radio yang padat.

Dengan evolusi jaringan generasi keenam, 6G, yang diantisipasi, skenario ini kemungkinan akan semakin intensif, dengan frekuensi yang lebih tinggi dan penggunaan kembali spektrum spasial yang lebih besar.

Dalam konteks ini, para ahli berpendapat bahwa energi elektromagnetik ambien berhenti menjadi sekadar gangguan dan menjadi sebuah peluang.

Dalam model yang diusulkan, pesawat yang dilengkapi dengan permukaan cerdas ini dapat menangkap sinyal yang datang dan mengarahkan sebagian energi tersebut ke sirkuit pengumpul internal. Sementara sisa sinyal akan dimanipulasi untuk tujuan komunikasi atau pengendalian tanda elektromagnetik.

Poin pentingnya adalah bahwa proses ini pada dasarnya pasif, tanpa memerlukan emisi yang dapat dideteksi, sesuatu yang mendasar untuk platform dengan kemampuan pengamatan rendah.

Salah satu aspek paling mencolok dari penelitian ini adalah pembalikan sebagian dari logika tradisional radar.

Secara teori, semakin intens iluminasi target oleh radar musuh, semakin besar jumlah energi yang tersedia untuk diserap dan digunakan kembali.

Meski demikian para pengamat masih mempertanyakan seberapa besar energi yang bisa dikumpulkan dari pancaran radar musuh di pesawat.

Energi yang dikumpulkan kemungkinan masih tergolong rendah, hanya cukup untuk memberi daya pada sensor dan sistem berdaya rendah. RIS tidak dapat menggantikan daya untuk propulsi atau radar utama.

Mengintegrasikan RIS pada pesawat tempur membutuhkan material yang tahan panas, aus, dan tekanan struktural, terutama pada kecepatan dan ketinggian tempur.

Diperlukan algoritma canggih berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk menyesuaikan perilaku ribuan elemen RIS secara waktu nyata dalam lingkungan elektromagnetik yang kacau. (RNS)

You may also like...

1 Response

  1. Zaky says:

    Berawal dari spirit tinggi dan tak mudah putus asa, China mampu mempelajari segala bidang.

    Wajarlah kalau china mampu menemukan titik kelemahan dari lawannya.

    Next, Indonesia masih dalam tahap perkembangan. Kedepan mungkin juga bisa 😁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *