Rafale F5 akan diluncurkan tahun 2027, sebelum itu mari kita nantikan Rafale F4 yang akan dimiliki Indonesia

Pangkohanudnas Jajal Pesawat Rafale di Lanud Halim_TNI AU_ Airspace ReviewAR/TNI AU

BILA tidak ada kendala pesawat tempur Rafale F4 pesanan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia untuk TNI Angkatan Udara akan dikirimkan mulai tahun 2026. Jakarta telah merampungkan uang muka untuk produksi 42 unit Rafale F4 buatan Dassault Aviation, Prancis.

Sementara itu pabrik Dassault telah mengumumkan akan meluncurkan varian terbaru Rafale F5 pada tahun 2027. Meski demikian, spesifikasi atau performa Rafale F5 yang menjadi pembeda dari varian F3-R maupun F4 belum diuraikan.

Untuk varian Rafale F4 sendiri, Angkatan Udara dan Antariksa Perancis (AAE) akan mendapatkan versi peningkatan terbaru F4 yakni Rafale F4.1. Pada tanggal 23 Februari lalu AAE menyatakan bahwa Rafale F4.1 mereka telah mencapai Full Operational Capability (FOC), menandai pesawat sudah dapat digunakan sepenuhnya untuk misi-misi yang dilaksanakan termasuk pertempuran udara ke udara maupun udara ke permukaan.

Varian Rafale F4.1 pertama kali diperkenalkan di Pangkalan Udara 118 di Mont de Marsan, Prancis. Varian ini dilengkapi peralatan yang lebih lengkap untuk menjalankan misi operasionalnya, termasuk kemampuan komunikasi dan peningkatan perlindungan terhadap ancaman dunia maya.

Fitur penting lainnya mencakup integrasi pelindung helm yang dikembangkan oleh Thales SCORPION. Kemajuan khusus ini memberikan keunggulan besar bagi pilot Rafale F4.1, karena memberi mereka aksesibilitas, kontrol, dan penggunaan persenjataan pesawat yang luas, terutama rudal udara ke udara jarak jauh MBDA Meteor.

Meski demikian, diberitakan Bulgarian Military mengutip sumber-sumber Prancis, Rafale F-4.1 yang telah mencapai Kemampuan Operasional Penuh tersebut barulah satu unit Rafale F4.1 pertama yang dikirimkan pada Maret tahun lalu. Sementara Rafale F4.1 lainnya akan mencapai FOC secara bertahap setelah pesawat-pesawat tersebut dikirimkan.

Dokumen resmi Kementerian Angkatan Bersenjata Prancis menyebut, Rafale F4.1 secara keseluruhan baru akan mencapai status FOC pada tahun 2030 atau dalam enam tahun ke depan. Seperti diberitakan sebelumnya, AAE akan dilengkapi dengan 28 unit Rafale F4.1 hingga tahun 2028 dan 30 Rafale F4.2 hingga tahun 2030.

Rafale F4.1 yang merupakan varian terbaru saat ini, diumumkan pertama kali oleh Dassault Aviation pada 2019 lalu. Varian ini dilengkapi dengan segudang teknologi dan sistem tercanggih.

Kemajuan ini tidak hanya meningkatkan kinerja jet secara keseluruhan, tetapi juga menawarkan antarmuka pilot yang unggul. Peningkatan mencakup sensor radar tingkat atas, peningkatan visual untuk pilot, dan modifikasi penting pada tampilan di helm pilot.

Sistem komunikasi Rafale F4.1 juga mengalami peningkatan yang signifikan. Peningkatan kemampuan berbagi data antar jet membuat koordinasi menjadi lancar, sehingga meningkatkan efektivitas gabungan keduanya secara signifikan.

Selain itu, dengan unit kendali mesin dan sistem senjata yang unggul, ditambah dengan peningkatan kapasitas bahan bakar, Rafale F4.1 dapat terbang lebih jauh dari versi sebelumnya.

Fitur lainnya yang menguntungkan operator adalah Rafale F4.1 tidak hanya lebih mudah dirawat, tetapi juga lebih dapat diandalkan. Hal ini berkaitan dengan fitur perawatan prediktif.

Fitur pemeliharaan prediktif yang intuitif merupakan terobosan baru, memanfaatkan data untuk memperkirakan potensi masalah dan penjadwalan perbaikan yang diperlukan bahkan sebelum masalah ini muncul.

Nah, sekarang apa kira-kira pembeda Rafale F4.1 dengan varian Rafale F5 nantinya? Seperti diuraikan di awal, pihak pabrikan belum mengeluarkan fitur-fitur keunggulan baru pada Rafale F5. Meski demikian, para ahli menduga bahwa Rafale F5 akan dilengkapi degan sistem kecerdasan buatan yang canggih untuk membantu pilotnya.

Rafale F5 juga mungkin akan memiliki fitur kemampuan siluman, sehingga lebih sulit untuk dideteksi musuh, walau hal ini belum terkonfirmasi.

Rumor lain mengisyaratkan bahwa varian ini akan menggunakan mesin baru yang memberikan kecepatan superior namun lebih hemat bahan bakar. Selain itu, Rafale F5 juga akan dilengkapi dengan kemampuan penembakan yang lebih canggih hasil rancangan baru.

Meski bukan pernyataan resmi dari pabrikan, sebagian performa mengenai Rafale F5 memang sempat “dibocorkan” oleh analis militer Boyko Nikolov di portal Bulgarian Military tahun lalu. Ia menyebut Rafale F5 dapat mengungguli semua rival lainnya di Eropa termasuk jet tempur unggulan Rusia.

Tidak heran bila Konsorsium Eurofighter maupun United Aircraft Corporation dikabarkan langsung mewaspadai akan kemunculan Rafale F5 nantinya. Pun demikian dengan Lockheed-Martin dari Amerika Serikat yang tidak mau kalah produknya dari Dassault.

Nikolov tidak meyakini Rafale F5 akan diluncurkan tahun 2027. Menurut dia, Dassault masih memerlukan waktu lebih lama untuk menjadikan pesawat ini paling unggul di kelasnya. Setidaknya, kata dia, Rafale F5 baru akan diluncurkan tahun 2035, sehingga pesawat ini dapat menandingi jet-jet tempur baru lain yang akan dirilis di tahun itu.

Salah satu kelebihan F5 yang disebutkan, adalah penggunaan sistem radar RBE2-XG yang inovatif dan sering disebut sebagai disruption radar. Sistem inovatif ini akan memanfaatkan kekuatan teknologi canggih, menggabungkan pemanfaatan galium nitrida dengan kecanggihan komputasi kecerdasan buatan.

Sistem radar RBE2-XG ini akan memegang posisi penting. Secara teori perangkat ini mampu mengidentifikasi semua pesawat dalam jangkauan operasionalnya, bahkan jet tempur siluman sekalipun. Selain objek udara seukuran jet tempur, radar ini juga disebut dapat mendeteksi objek terkecil seperti mikro drone. Ditegaskan bahwa fitur ini bukan sekadar tambahan tetapi merupakan inti dari fungsionalitas Rafale F5.

Integrasi radar RBE2-XG secara signifikan akan meningkatkan umur panjang dan efektivitas radar jenis AESA “sederhana” yang digunakan saat ini termasuk Captor-E ECRS Mk.2 yang digunakan Eurofighter Typhoon Tranche 4.

Bersamaan dengan peluncuran Rafale F5 di tahun 2035, MBDA akan merilis rudal udara ke permukaan jarak menengah yang ditingkatkan yakni ASN4G (Air-Sol Nucléaire de 4ème Génération) yang akan menggantikan rudal jelajah SCALP-EG. Rudal canggih ini berhulu ledak nuklir, berkarakter siluman, dan memiliki kecepatan hipersonik (Mach 7-8) dan berjangkauan lebih dari 1.000 km.

Rumor lainnya, Rafale F5 dilengkapi teknologi inovatif yang memungkinkan pesawat untuk memimpin segerombolan drone loyal wingman. Penciptaan kemampuan ini memang menjadi suatu syarat bagi pesawat tempur yang dirancang untuk menjalankan misi yang kompleks sehingga tidak ketinggalan dari teknologi rival-rivalnya.

Saat Dassault Aviation Rafale F5 bersiap untuk memulai debutnya di pasar, pesawat ini akan menjadi pesaing utama dari Typhoon varian terbaru, seperti MiG-35 Fulcrum-F Rusia yang berteknologi canggih, dan jet tempur canggih lainnya. Dikatakan bahwa Rafale F5 akan menjadi salah satu pemain penting di kancah internasional, terutama kemampuannya untuk menandingi jet tempur generasi kelima seperti F-35.

Nah, sambil membayangkan varian Rafale F5 muncul seperti apa nantinya, bagi Indonesia lebih penting saat ini adalah menyiapkan dan infrastruktur dan sumber daya manusianya dalam menantikan Rafale F4 berikut persenjataannya tentunya. Jangan sampai membeli pesawat dalam jumlah yang banyak yakni 42 unit, namun minim dalam hal persenjataan canggihnya.

Pesawat tempur tentu diakuti bila ia membawa persenjataan-persenjataan mautnya selain radar dan sistem-sistem lain di pesawat yang lebih unggul dari musuh-musuhnya. Yow, kita mainkan!

-RNS-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *