Operasi Banjir Al-Aqsa vs Operasi Pedang Besi: Militansi vs kekuatan udara modern

Militansi vs kekuatan udara modern_ Hamas vs IsraelIstimewa

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Belum usai Perang Rusia-Ukraina, dunia kini dihadapkan para realita (yang berulang) yaitu perang antara dua tetangga bermusuhan, antara kelompok militan Hamas Palestina dengan Israel.

Serangan mendadak besar-besaran yang dilakukan Hamas pada Sabtu pagi, 7 Oktober 2023, terhadap wilayah Israel melalui perbatasan di Jalur Gaza, menghenyakkan banyak pihak.

Kelompok militan Hamas yang dimotori Brigade Al-Qasam bahkan berhasil menyeberang perbatasan dengan membobol pagar kawat perbatasan dan kemudian memasuki pangkalan-pangkalan militer Israel di mana di sana terdapat banyak kendaraan tempur lapis baja.

Di hari Sabtu pagi itu, militan Hamas seperti tidak mendapatkan perlawanan dan leluasa untuk mengobrak-abrik pangkalan militer.

Hamas melancarkan “Operasi Banjir Al-Aqsa” (Operation Al-Aqsa Flood) yang disebutnya sebagai respons terhadap penyerbuan Masjid Al-Aqsa dan meningkatnya kekerasan Israel terhadap pemukim Palestina.

Apakah intelijen Israel telah kecolongan akan kemungkinan serangan dadakan Hamas ini? Banyak yang bertanya mengenai hal ini.

Tak kalah nekad, sebagian kelompok militan Hamas memasuki wilayah Israel dengan menggunakan paramotor tandem atau paratrike. Satu orang mengemudikan parasut, sementara rekannya yang duduk di depan siaga dengan senapan serbu di tangan.

Pada hari Sabtu itu, Hamas benar-benar merayakan ‘kemenangannya’. Tank Tempur Utama (MBT) Merkava IV, yang menjadi simbol kekuatan pasukan darat Israel, tampak dalam video yang beredar di media sosial berhasil dikuasai dan dibakar (terbakar).

Foto lain memperlihatkan awak tank Israel dikeluarkan secara brutal dari dalam tank dan digusur ke tanah oleh warga Palestina yang berafiliasi dengan Hamas.

Serangan oleh Hamas terhadap Israel didahului dengan peluncuran ribuan roket yang diarahkan ke Tel Aviv. Serangan terus berlangsung hingga malam hari dan menyebabkan sistem penangkal Iron Dome Israel kewalahan menghadapi banyaknya roket yang diluncurkan.

Sirene tak henti berbunyi di wilayah Israel, utamanya di Tel Aviv. Sejumlah roket Hamas berhasil lolos dari penangkalan sistem Kubah Besi yang kesohor dan menimbulkan kerusakan di Israel serta menewaskan maupun melukai warga yang ada di sana.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu langsung mengeluarkan pernyataan resmi bahwa Israel dalam status berperang dengan Hamas dan menyatakan bahwa Israel akan memenangkan peperangan.

Keunggulan Israel dalam perang melawan kelompok militan Hamas Palestina, tidak lain adalah pada kekuatan udaranya. Israel pun segera menggelar Operasi Pedang Besi (Operation Swords of Iron) untuk menggempur markas-markas atau situs Hamas di Gaza.

Netanyahu memberikan peringatan bagi lebih dua juta warga Palestina di Gaza untuk segera meninggalkan kota tersebut. “Sebab, Israel akan meratakan situs-situs Hamas menjadi puing-puing..,” ujarnya.

“Perang ini akan memakan waktu dan akan sulit. Hari-hari yang penuh tantangan ada di depan kita,” tambah dia.

Tidak perlu lama bagi Israel untuk menghancurkan gedung-gedung tinggi di Gaza.

Sebelum penyerangan, Angkatan Udara Israel (IAF) mengunggah video persiapan jet-jet tempur Israel, terlihat sebagai F-16, yang dilengkapi dengan bom-bom presisi dan rudal.

Tak lama kemudian IAF menyatakan bahwa serangan udara atas Gaza dimulai.

Pada Minggu pagi, IAF mengunggah empat foto utuh gedung-gedung di Gaza yang menjadi target serangan dan kemudian dirobohkan melalui serangan udara.

Sulit bagi Hamas yang tidak memiliki sistem pertahanan udara untuk menghalau bom-bom yang diluncurkan oleh jet-jet tempur Israel.

Seperti menerima nasib saja, bom-bom presisi itu menyerang titik-titik krusial dari fondasi gedung bertingkat untuk dapat dirobohkan dalam sekejap saja.

Bukan pertama kali juga bagi Israel untuk melakukan hal itu. Para penerbang tempur IAF sudah paham bagaimana caranya meratakan sebuah gedung tinggi.

Keberanian militansi Hamas mendapat sorotan besar dalam serangan mendadak ini. Namun demikian banyak juga yang mempertanyakan mengenai dampak lebih besar yang akan diterima Hamas (warga Palestina) sebagai tindakan balasan dari Israel.

Perang Hamas, maupun kelompok-kelompok militansi Palestina lainnya, dengan Israel, tampaknya jauh dari kata untuk dapat diredakan. Masing-masing pihak mengklaim kebenaran menurut mereka.

Perang saling balas ini menimbulkan korban sipil dari kedua belah pihak, yang sulit diterima dunia internasional. Catatan sementara, korban tewas dari pihak Israel

Namun di sisi yang lain, dunia pun tampak seperti membiarkan negara-negara untuk bertikai dan berperang. Mengampanyekan perdamaian dunia tampaknya masih menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh bangsa di dunia.

Dalam perang ini kita melihat bagaimana semangat militansi yang menggelora berhadapan dengan pembalasan menggunakan kekuatan udara modern. Apa yang akan terjadi selanjutnya, perang masih berjalan.

Pada hari Minggu pagi, CNN melaporkan, korban tewas di pihak Israel mencapai lebih dari 300 orang ditambah korban luka lebih dari 1.500 orang. Sementara di pihak Palestina lebih dari 200 orang dinyatakan tewas akibat pertempuran ini.

-RNS-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *